BPBD Bantul: Sistem peringatan dini banjir dan longsor berfungsi baik

BPBD Bantul: Sistem peringatan dini banjir dan longsor berfungsi baik

Alat deteksi tanah longsor yang dipasang di wilayah Blali, Desa Seloharjo Pundong, Bantul oleh salah satu SMK di Pundong Bantul beberapa bulan lalu. ANTARA/Hery Sidik

walaupun jumlahnya masih terbatas masih bisa kita fungsikan
Bantul (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta menyatakan bahwa early warning system atau sistem peringatan dini untuk banjir dan tanah longsor yang terpasang masih berfungsi dengan baik.

"Alhamdulillah masih berfungsi. Jadi early warning system (EWS) kita baik longsor maupun banjir walaupun jumlahnya masih terbatas masih bisa kita fungsikan," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Dwi Daryanto di Bantul, Minggu.

Pihaknya tidak merinci jumlah alat EWS di Bantul, namun alat tersebut telah terpasang di beberapa titik rawan banjir seperti di bantaran sungai untuk alat deteksi banjir dan lereng perbukitan untuk EWS tanah longsor, dan belum lama alat deteksi tanah longsor juga dipasang di wilayah Desa Seloharjo Pundong.

Meski demikian, pihaknya mengharapkan masyarakat tidak hanya terpaku terhadap alat tersebut dalam mengenali tanda-tanda akan adanya bencana datang, namun tetap memperhatikan arahan dan imbauan petugas resmi, karena yang namanya alat bukan tidak mungkin mengalami gangguan.

Baca juga: BPBD: titik rawan longsor Bantul dipasangi EWS
Baca juga: BPBD Bantul: Angin kencang dan pohon tumbang di tujuh kecamatan

"Nah bagi masyarakat itu (EWS) memang menjadi salah satu rujukan, tetapi rujukan yang paling dipercaya adalah rujukan dari pemerintah atau petugas yang setiap saat menginformasikan informasi itu," katanya.

Oleh sebab itu, pihaknya juga selalu mengimbau kepada seluruh warga yang tinggal di daerah rawan bencana, utamanya di bantaran sungai dan daerah yang berpotensi rawan longsor tersebut untuk tetap meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan akan ancaman bahayanya.

"Terutama wilayah yang dialiri aliran sungai besar, seperti Sungai Opak, Sungai Winongo, Sungai Oya dan Sungai Code.  Itu potensi-potensi yang sangat tinggi untuk kejadian banjir luapan manakala hujan terjadi selama tiga jam lebih, masyarakat dengan kesadarannya harus menyingkir," katanya.

Dwi juga mengatakan, ada kemungkinan terjadi perluasan atau tambahan titik-titik genangan banjir karena luapan sungai dan lokasi tanah longsor dibanding dengan musim hujan sebelumnya, apabila terjadi hujan lebat dalam kurun waktu lama.

"Dimungkinkan terjadi perluasan tambahan genangan titik-titik luapan sungai dan longsor karena perubahan tanah pekarangan yang banyak dijadikan pemukiman, itu menjadi salah satu penyebab makin luasnya potensi-potensi daerah yang rawan longsor dan genangan air pada saat musim hujan seperti ini," katanya.

Baca juga: BPBD Bantul tetapkan status siaga darurat banjir tanah longsor
Baca juga: BPBD Bantul petakan wilayah berpotensi banjir saat musim hujanBaca juga: BPBD Bantul targetkan semua 75 desa menjadi desa tangguh bencana

Pewarta: Hery Sidik
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pemerintah Anggarkan Rp 7 Triliun untuk Alat Deteksi Bencana

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar