Bahana prediksi IHSG capai level 7.000 poin pada 2020

Bahana prediksi IHSG capai level 7.000 poin pada 2020

Direktur Utama Bahana Sekuritas Feb Sumandar (tengah), Kepala Riset Bahana Sekuritas Lucky Arisandi (kiri), dan ekonom Bahana Sekuritas Putera Satria saat diskusi dengan awak media di Jakarta. ANTARA/Citro Atmoko/am.

pasar saham akan mendapat sentimen positif dari kinerja emiten yang diperkirakan akan lebih baik pada 2020.
Jakarta (ANTARA) - Bahana Sekuritas memprediksi pasar saham domestik akan bangkit memasuki tahun 2020 dan indeks harga saham gabungan (IHSG) akan mencapai level 7.000 poin, setelah pada 2019 mencatat kinerja kurang memuaskan.

Kepala Riset Bahana Sekuritas Lucky Ariesandi dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa, mengemukakan pasar saham akan mendapat sentimen positif dari kinerja emiten yang diperkirakan akan lebih baik pada 2020.

"Bila pada tahun lalu laba bersih emiten tumbuh rata-rata sekitar 2 persen, pada tahun ini diperkirakan akan naik pada kisaran sembilan persen, yang terjadi di hampir seluruh sektor kecuali sektor batubara yang masih akan mendapat tekanan dari rendahnya harga batu bara di pasar global," paparnya.

Baca juga: IHSG berpotensi menguat jelang penandatanganan kesepakatan AS-China

Bila dibandingkan dengan pasar surat utang dan juga properti, lanjut dia, pasar saham masih menawarkan keuntungan yang lebih baik karena dengan level suku bunga acuan dan inflasi yang terjaga rendah, yield surat utang diperkirakan tidak akan mengalami banyak kenaikan, bahkan cenderung turun.

"Apalagi The Fed telah memberikan indikasi suku bunga yang tidak akan turun lagi pada tahun ini," katanya.

Sejalan dengan suku bunga global, Lucky Ariesandi, Bank Indonesia juga telah memberikan sinyal untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.

Bank Indonesia, kata dia, telah menurunkan suku bunga BI 7-day reserve rapo rate secara total sebesar satu persen sejak Juli hingga Oktober ke level 5 persen dan bertahan hingga Desember 2019, dengan tingkat inflasi sepanjang 2019 sebesar 2,72 persen. Saat ini rata-rata yield surat utang berada pada kisaran tujuh persen.

"Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, masih ada ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunga sebanyak dua kali pada tahun ini," ujarnya.

Menurut dia, turunnya suku bunga yang diikuti dengan realisasi kebijakan "omnibus law" akan mampu menggenjot masuknya investasi, yang pada akhirnya mampu mendorong pertumbuhan ekonomi pada 2020 ini.

Baca juga: Trump: AS, China segera mulai perundingan dagang Tahap Kedua

Penopang lainnya, Lucky menyampaikan, yang membuat pasar saham akan lebih bergairah pada tahun ini adalah rencana kenaikan pajak reksadana atau "mutual fund" menjadi 10 persen dari yang saat ini berlaku sebesar lima persen.

Semula, ia memaparkan, kenaikan pajak reksadana direncanakan pada 2014, namun kenaikan tersebut tertunda. Rencana kenaikan pajak kemungkinan tidak akan mundur lagi karena dana kelolaan reksadana sudah naik cukup signifikan dalam lima tahun terakhir, dan di sisi lain pemerintah berencana memotong pajak bagi korporasi.

Menurut dia, untuk menjaga pendapatan pajak negara tetap stabil, pendapatan negara yang berkurang akibat potongan pajak korporasi, sebagian akan ditutupi dari kenaikan pajak reksadana.

"Rencana kenaikan pajak reksadana ini akan menjadi katalis bagi investor untuk kembali masuk ke pasar saham," katanya.

Di sisi lain, Lucky mengatakan, meski kondisi perekonomian global masih dihantui sejumlah ketidakpastian, investor asing diperkirakan kembali melirik pasar saham negara berkembang, salah satunya Indonesia, setelah pada 2019 lalu investor asing membukukan aksi jual yang cukup besar.

"Berbagai skenario itu membuat kami cukup yakin pasar saham akan kembali bergairah pada 2020 ini, sehingga bisa mendorong IHSG naik hingga ke level 7.000 poin," kata Lucky.

Ia mengemukakan, sektor-sektor yang masih positif sepanjang tahun ini diperkirakan berasal dari emiten perbankan, tembakau, kelapa sawit, dan obat-obatan. Sedangkan beberapa sektor yang harus dicermati diantaranya batubara, konsumer yang terkait ritel sebagai dampak dari kenaikan iuran BPJS.

Terkait konflik Amerika Serikat terhadap Iran di awal tahun ini, dapat menyebabkan naiknya harga minyak dunia.

Menurut Bahana Sekuritas, Bila kenaikan harga minyak dunia terjadi, akan memberi sentimen negatif bagi nilai tukar, yang pada akhirnya berdampak pada kinerja keuangan perusahaan dari sektor semen, obat-obat-obatan, dan konsumer karena banyak menggunakan komponen impor.

Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

IHSG menguat ikuti naiknya bursa dunia

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar