Petani khawatir meningkatnya konsumsi kopi malah berujung impor

Petani khawatir meningkatnya konsumsi kopi malah berujung impor

Pendamping petani dari Yayasan Prakarsa Hijau Indonesia yang juga Inisiator Kopi Sarongge, Tosca Santoso (kanan) saat diskusi seputar kopi di Galeri Kopi Darat berlokasi di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (15/1/2020). (ANTARA/M Fikri Setiawan)

Cibinong, Bogor (ANTARA) - Pendamping petani dari Yayasan Prakarsa Hijau Indonesia, Tosca Santoso mengaku khawatir melejitnya peningkatan angka konsumsi kopi di Indonesia yang mencapai 14 persen justru malah berdampak impor kopi.

"Kita senang di hilir pertumbuhan dan respon habit orang minum kopi makin bagus, itu yang harus kita syukuri. Tapi hulunya ketinggalan jauh, ada banyak PR (pekerjaan rumah) di sana," ujar Inisiator Kopi Sarongge itu saat diskusi seputar kopi di Galeri Kopi Darat berlokasi di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu.

Salah satu permasalahan di hulu yaitu mengenai ketersediaan lahan. Hingga empat bulan berjalannya kepemimpinan Presiden Joko Widodo periode kedua, Tosca mengaku belum melihat pergerakan masif program perhutanan sosial yang ia anggap berjalan cukup sukses di masa periode pertama.

Baca juga: Tingkatkan konsumsi kopi Lampung melalui edukasi kopi

Selama periode pertama, ia mencatat sekitar 3,1 juta hektare lahan dibagikan kepada petani melalui program kehutanan sosial, dari target keseluruhan pembagian 12,7 juta hektare lahan.

"Masih ada 9 juta hektare lebih yang belum dibagikan.Periode pertama sudah tahu celahnya, mestinya periode kedua bisa digenjot sangat cepat," kata pria 54 tahun yang juga pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) itu.

Ia khawatir, tingginya permintaan di hilir dengan kondisi hulu yang tak berubah, akan berpotensi meningkatnya keran impor kopi. Karena harga kopi impor menurutnya tak kalah murah dengan kopi dalam negeri.

Baca juga: "Ngopi" jadi gaya hidup, berapa gelas idealnya sehari?

"Bahayanya, kalau suplainya (kopi) mengecil, belum tentu harga petani naik, karena kemungkinan impor yang masuk," beber Tosca.

Ia memberikan contoh produksi kopi yang murah di negara lain, yaitu Vietnam. Harga kopi murah karena upah petani yang jauh lebih renda jika dibandingkan dengan Indonesia. Jika, di Vietnam upah petani 1 dolar perhari, di Indonesia mencapai 4 dolar per setengah hari.

"Petani kita di Sunda ini kerja sampai lohor (siang) 4 dolar atau Rp50 ribu, kalau sampai sore Rp70 ribu. Tidak heran, tahun kemarin 150 ribu ton kopi Vietnam masuk Indonesia, karena murah," bebernya.

Tosca mengatakan, peningkatan angka konsumsi kopi di Indonesia pada tahun lalu yang mencapai 14 persen itu jauh melampaui angka rata-rata konsumsi kopi dunia yang hanya sekitar 3 sampai 4 persen.

Peningkatan itu diakibatkan menjamurnya kedai-kedai kopi di Indonesia. Pertumbuhan kedai kopi bahkan menurutnya tidak hanya terjadi di Pulau Jawa, melainkan juga pulau-pulau lainnya.

Sementara itu, Pemilik Galeri Kopi Darat, Mohammad Saihu di tempat yang sama mengaku terpacu membuka usaha kopi karena tengah digandrungi masyarakat. Menurutnya, meski baru membuka usaha kopi satu bulan, tapi keuntungannya sudah mulai terasa.

"Kita mengandalkan jaringan, artinya mengajak komunitas-komunitas untuk ngopi di sini. Kalau tidak begitu, sulit," kata Saihu.

Pewarta: M Fikri Setiawan
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Buku lima hutan satu cerita diapresiasi KLHK

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar