Hewan ternak harus bebas antraks agar tidak menular ke manusia

Hewan ternak harus bebas antraks agar tidak menular ke manusia

Petugas kesehatan hewan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunung Kidul, DIY, mengubur bangkai sapi antisipasi kasus antraks. (Foto ANTARA/Sutarmi)

Misalkan kita tidak mau antraks nih tahun depan, ya berarti hewannya itu harus betul-betul sehat,
Jakarta (ANTARA) - Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Siti Nadia Tarmizi menyebutkan hewan ternak harus terbebas dari penyakit antraks agar menghentikan penularannya pada manusia.

"Kalau untuk antraks yang penting itu hewannya, kalau antraks pada manusia itu karena penyakit dari hewannya. Berbeda dengan DBD," kata Nadia saat dihubungi di Jakarta, Kamis.

Penyakit demam berdarah dengue (DBD) pada manusia disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui perantara nyamuk aedes aegepty. Sementara penyakit antraks merupakan penyakit yang memang sudah terjangkit pada hewan ternak seperti sapi dan kambing, kemudian menular pada manusia melalui kontak fisik ataupun mengonsumsi daging hewan tersebut.

Baca juga: Pemkab Gunung Kidul kampanyekan makan daging sehat

"Misalkan kita tidak mau antraks nih tahun depan, ya berarti hewannya itu harus betul-betul sehat," kata dia.

Penyakit antraks pada manusia terjadi karena tertular oleh hewan ternak sapi atau kambing yang sebelumnya memang sudah terjangkit penyakit antraks. Penularan antraks dari hewan ternak ke manusia bisa melalui cairan pada tubuh hewan dengan kontak tubuh, memakan daging hewan yang berpenyakit antraks, melakukan kontak dengan hewan ternak yang mati karena antraks, atau menghirup spora antraks.

Bentuk pencegahan terhadap penyakit ini adalah dengan mencegah hewan ternak tidak terjangkit penyakit antraks sehingga tidak menularkannya pada manusia.

Menurut Nadia, pencegahan penyakit antraks pada manusia bisa dilakukan mulai dari peternak sapi dan kambing. Para peternak harus jeli melihat kondisi kesehatan hewan ternaknya sehingga jika diduga terjangkit antraks bisa segera tertangani.

Baca juga: Kemenkes: Kasus antraks di Gunungkidul terakhir terjadi Desember 2019

Peternak sebaiknya segera menghubungi dinas peternakan pemerintah daerah setempat terkait dugaan terjadinya antraks pada hewan ternak. Dinas peternakan bersama dinas kesehatan setempat akan melakukan tata laksana terkait penyakit antraks dengan memberikan antibiotik ataupun desinfektan.

Jika masyarakat atau peternak mengetahui ada hewan ternaknya yang sakit, agar jangan menyembelihnya dan kemudian menjual hasil dagingnya ke pasar. Nadia menyebut antraks juga bisa menular melalui daging hewan sakit yang dikonsumsi oleh manusia.

Bakteri yang terdapat pada daging hewan akan menyerang usus dan membuat penderitanya mengalami diare. Selain itu antraks juga menular melalui kontak fisik dengan hewan, atau melalui cairan hewan, sehingga membuat penderitanya mengalami gatal-gatal.

Sementara jika hewan ternak sudah terlanjur mati karena antraks, cara penanganannya pun harus benar-benar aman agar tidak menular pada manusia di sekitarnya. Hewan ternak yang mati karena antraks harus ditangani dengan mematikan kuman antraks pada hewan tersebut.

"Kalau hewan mati langsung dikubur, disiram minyak tanah bahkan dibakar, lalu ditimbun, lalu diberikan desinfektan di atasnya," kata Nadia.

Antraks bisa menyebabkan kematian apabila terdapat spora kuman antraks yang terhirup melalui saluran pernapasan manusia. Spora antraks yang masuk akan menyerang paru dan membuat penderitanya sesak napas dengan cepat.

Baca juga: Tim khusus Kemenkes tangani antraks di Gunungkidul
Baca juga: 27 warga Gunung Kidul dinyatakan positif antraks
Baca juga: Pemkab Gunung Kidul keluarkan larangan konsumsi daging hewan sakit

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Vaksinasi cegah antraks pada hewan ternak

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar