Rawat kebhinnekaan, lima tokoh dianugerahi penghargaan PWKI

Rawat kebhinnekaan, lima tokoh dianugerahi penghargaan PWKI

Para pengurus Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) berfoto bersama Ketua KPK Firli Bahuri, Kepala BNN Heru Winarko, dan sejumlah pejabat yang hadir di acara Buka Tahun Baru Bersama ke-15 tahun 2020, di Lemhannas, Jakarta, Jumat (17/1/2020) (Zuhdiar Laeis)

Jakarta (ANTARA) - Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) memberikan penghargaan kepada lima tokoh yang dinilai terlibat aktif dalam membangun nilai-nilai Pancasila, khususnya Persatuan Indonesia dalam nilai kebhinnekaan.

Penghargaan "Terima Kasihku Kepadamu 2020" itu diserahkan dalam acara Buka Tahun Baru Bersama ke-15 tahun 2020 yang berlangsung di Gedung Dwi Warna, Kompleks Lemhannas RI, Jumat malam.

Baca juga: Komunitas Bela Indonesia ajak masyarakat rawat kebinekaan

Kelima tokoh tersebut, yakni musisi Didi Kempot, sutradara Joko Anwar, aktivis sosial Gracia Billy Yosaphat Y Mambrasar, legislator termuda Hillary Brigita Lasut, dan Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi.

Dari lima tokoh itu, hanya Billy Mambrasar yang menerima langsung penghargaan, sementara empat tokoh lainnya berhalangan hadir atau pulang lebih awal karena ada kegiatan lain.

Baca juga: Menkumham ajak mahasiswa rawat kebhinnekaan

Ketua Panitia Buka Tahun Baru Bersama ke-15 tahun 2020 Asni Ovier menjelaskan acara tersebut merupakan kegiatan rutin tahunan yang telah berlangsung 15 kali, termasuk penghargaan yang diberikan.

Pada tahun lalu, kata dia, ada banyak tokoh yang diberikan penghargaan karena memberikan sumbangsih besar terhadap persatuan dan kesatuan, seperti Wapres ke-10 dan 12 RI M Jusuf Kalla, Ibu Shinta Nuriyah Wahid, KH A Mustofa Bisri, dan Buya Syafi'i Ma'arif.

Baca juga: Masinton: Semua pihak harus menjaga dan merawat kebhinnekaan

Ketua PWKI AM Putut Prabantoro menyebutkan tema khusus acara Buka Tahun Baru Bersama yang diangkat pada tahun ini adalah "Mewujudkan Persatuan Indonesia dengan Kehendak Baik".

Namun, diakuinya, kegiatan yang telah berlangsung 15 kali sejak 2005 itu memang selalu mengangkat tema yang sama, yakni kebangsaan.

"Temanya selalu kebangsaan. Apa alasannya? Kami ingin mendorong untuk mencintai tanah air, bangsa, dan negara lebih dari tahun sebelumnya," kata Putut.

Sementara itu, Billy Mambrasar, penerima penghargaan yang juga Staf Khusus Presiden itu menyampaikan kebanggaannya menjadi anak yang dididik dalam dua budaya.

"Billy lahir besar di Papua, ayah asli Papua, ibu seorang Jawa. Dibesarkan di budaya Papua," kata pendiri Yayasan Kitong Bisa yang "concern" terhadap pendidikan anak-anak di Papua dan Papua Barat itu.

Billy mengaku bersyukur terlahir dari dua budaya yang berbeda, sebab perbedaan bukanlah sesuatu yang membatasi, melainkan membuat mampu melihat dua dimensi yang berbeda dan mampu memadu padankannya.

"Lagu-lagu Didi Kempot selalu diputar ibu saya, jadi saya hapal. Yang selalu saya ingat, satu-satunya yang menjembatani perbedaan adalah cinta kasih," katanya.

Hadir dalam acara itu sejumlah pejabat negara, di antaranya Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Heru Winarko, dan Sekjen Kemenkominfo Rosarita Niken Widiastuti.

Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Cara Halmahera Tengah rawat kebhinnekaan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar