Azerbaijan ingin menurunkan ingatan sejarah tentang "Januari Hitam"

Azerbaijan ingin menurunkan ingatan sejarah tentang "Januari Hitam"

Duta Besar Azerbaijan untuk Indonesia Jalal Mirzayev dalam kegiatan peringatan 30 tahun "Januari Hitam" di Jakarta, Sabtu (18/1/2020). (ANTARA/Suwanti)

Pada tahun istimewa ini, kami ingin menyebarkan informasi mengenai sejarah Azrbaijan, khususnya kepada generasi muda, agar apa yang terjadi tidak dilupakan begitu saja,
Jakarta (ANTARA) - Dalam peringatan tiga dekade peristiwa pembunuhan ratusan orang Azerbaijan oleh Tentara Soviet yang dikenal sebagai "Januari Hitam" (Black January), pemerintah Azerbaijan ingin menurunkan ingatan tentang sejarah penting negara itu.

"Pada tahun istimewa ini, kami ingin menyebarkan informasi mengenai sejarah Azrbaijan, khususnya kepada generasi muda, agar apa yang terjadi tidak dilupakan begitu saja," kata Duta Besar Azerbaijan untuk Indonesia Jalal Mirzayev di Jakarta, Sabtu.

Peristiwa "Januari Hitam" diperingati setiap tanggal 20 Januari, dan tahun ini merupakan peringatan ke- 30 sejak apa yang disebut Azerbaijan sebagai pembantaian di ibu kota Baku dan beberapa kota lain itu terjadi pada 1990 silam.

Menurut catatan sejarah Azerbaijan, "Januari Hitam" dipicu oleh pergerakan kemerdekaan rakyat negara itu dari Uni Soviet serta perselisihan atas kepemilikan wilayah dengan Armenia yang membuat sekitar 300.000 orang Azerbaijan terusir dari tanah mereka pada 1988.

Mulai satu tahun setelah pengusiran, masyarakat Azerbaijan menggelar unjuk rasa di jalanan kota Baku untuk memprotes klaim wilayah oleh Armenia. Hingga pada 13 Januari 1990, pemimpin unjuk rasa menyerukan referendum untuk memisahkan diri dari Uni Soviet.

Merespon unjuk rasa itu, masih menurut sumber catatan sejarah Azerbaijan, pemerintah Uni Soviet menurunkan pasukan militer untuk melakukan intervensi terhadap keadaan di Baku, bahkan memberlakukan jam malam satu hari sebelum "Januari Hitam" terjadi.

Baca juga: 26 tahun tragedi Khojaly, Kedubes Azerbaijan gelar doa bersama di Masjid Istiqlal
Baca juga: Wisata ziarah Islami dengan tujuan Azerbaijan

Pemerintah Azerbaijan sendiri menganggap "intervensi militer tersebut merupakan yang paling mengerikan dibandingkan beberapa operasi pasukan Tentara Soviet lainnya, yakni di Almaty pada 1986, di Tbilisi pada 1989, serta di Vilnius pada 1991."

Ketika peristiwa "Januari Hitam" pecah pada 20 Januari tengah malam, 147 orang masyarakat sipil pengunjuk rasa menjadi korban tewas sementara sekitar 800 orang lainnya terluka.

"Tentu peristiwa ini merupakan sejarah yang tragis, namun juga tidak bisa dilepaskan dari aksi kepahlawanan rakyat Azerbaijan untuk memperoleh kemerdekaan," ujar Mirzayev.

Satu tahun selepas peristiwa berdarah tersebut, yakni pada 1991, Azerbaijan mengumumkan kemerdekaannya, disusul kemudian dengan pembubaran Uni Soviet di tahun yang sama.

Baca juga: Indonesia sampaikan pesan solidaritas dari Baku Azerbaijan
Baca juga: Dubes Azerbaijan tuntut keadilan korban "Khojali Genocide"

 

Pewarta: Suwanti
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Dubes RI untuk Azerbaijan puji produk UMKM asal Malang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar