Artikel

Tren fesyen dekade ini, berani, inklusif, dan menuju "sustainable"

Oleh Arnidhya Nur Zhafira

Tren fesyen dekade ini, berani, inklusif, dan menuju "sustainable"

Fashion bloggers berpose setelah Vivetta fashion show di Milan fashion week Fall/winter 2019/2020. (ANTARA/Shutterstock)

Jakarta (ANTARA) - Dunia fesyen di tiap dekade selalu menciptakan tren dan menjadikannya sebagai sebuah ciri khas di sebuah era. Seperti misalnya overall denim yang populer di tahun 1990-an, hingga skinny jeans yang menjadi favorit di tahun 2010-an.

Menurut perancang busana kondang Musa Widyatmodjo, pada awal dekade ini sudah terlihat kecenderungan akan tren fesyen yang lebih beragam, berani, dan tidak berpatok pada satu hal populer saja.

"Tren fesyen kali ini berbeda dengan dekade sebelumnya. Dulu, ada 'kesepakatan' yang terjadi (pada mode). Misalnya sekarang trennya motif bunga-bunga, warnanya cokelat, dan lainnya," kata Musa saat ditemui ANTARA di Jakarta, Sabtu (18/1).

Lebih lanjut, gebrakan baru yang terbentuk dari "ketidaksepakatan" itu tak lain dibuat sendiri oleh masing-masing orang.

Tamu di luar acara STELLA McCARTNEY SS'2019 di Paris Fashion Week 2019/2020. (ANTARA/Shutterstock)
Menurutnya, saat ini masyarakat modern lebih berani dalam mengekspresikan diri lewat pilihan tampilannya. Didukung dengan keterbukaan informasi, memungkinkan tiap orang membagi dan mendapatkan referensi fesyen yang sesuai dengan karakternya.

"Saya melihat banyak konsep yang lebih individual dan berkarakter. Dari tahun ke tahun, lebih ke perpaduan gaya individual; bagaimana me-mix culture, hingga styling yang colorful, berani, dan eksperimental," kata Musa.

Bagi desainer yang telah eksis di dunia mode selama hampir tiga dekade itu, masyarakat modern memiliki kecenderungan untuk tampil beda dan tidak seragam.

"Ada ekspresi untuk tak menimbulkan keseragaman. Keberagaman itu jadi tolok ukur nilai masyarakat modern saat ini yang tak mau menjadi sama," ujarnya melanjutkan.

Baca juga: Tetap trendi dengan produk berkelanjutan yang ramah lingkungan

Baca juga: Perawatan dan kreasi pakaian jadi awal fesyen berkelanjutan


Inklusif

Fashion bloggers berpose setelah Vivetta fashion show di Milan fashion week Fall/winter 2019/2020. (ANTARA/Shutterstock)
Selain berlomba untuk mengekspresikan diri secara beragam lewat pilihan gaya, Musa melihat bahwa keberagaman yang terjadi juga hadir di diri individu itu sendiri.

Alih-alih membuat sebuah gaya hanya cocok dikenakan untuk satu tipe badan, atau hanya pantas bagi gender tertentu, fesyen di 2020-an akan lebih condong ke inklusivitas - dimana semua berhak tampil dengan percaya diri akan tubuh yang dimiliki.

"Fesyen bukan cuma skinny atau badan kurus, tapi juga untuk aneka ragam bentuk tubuh, lebih inklusif. Model saat ini tak harus cantik dengan rumusan baku di tahun 1980-1990an, tapi lebih ke personality dan uniqeness," kata Musa.

"Sekarang ada model yang gemuk, kurus, dengan kulit mulus hingga belang-belang, semua ada representasinya," ujarnya melanjutkan.

Adanya representasi dan pencampuran gaya itu pun berpengaruh pada jenis pendekatan fesyen yang juga semakin beragam. Dari yang mulanya hanya ada gaya dan model feminim dan maskulin, muncul model androgini hingga gender-less.

"Makin ke sini makin ada percampuran gaya mulai feminim, maskulin, androgini, hingga sekarang ada pula gender-less; tidak perempuan atau laki-laki. Itulah tren terbaru dan beda di dunia dulu dan sekarang," kata dia.

Menuju Sustainable

Ilustrasi gerakan "sustainable fashion" di sebuah butik di Stockholm, Swedia. (ANTARA/Shutterstock)
Salah satu tren yang digadang-gadang akan menjadi populer dekade ini adalah adanya "sustainable fashion" yang ramah lingkungan.

Gerakan ini memiliki misi untuk menjadikan industri mode lebih beretika terhadap lingkungan dari besarnya sampah yang dihasilkan oleh industri mode di bumi.

Baca juga: Samuel Wattimena sebut sarung produk fesyen ramah lingkungan

Baca juga: Baju H&M tak laku senilai 4,3 miliar dolar AS


Kemudahan membeli pakaian (fast fashion) dan membuang pakaian lainnya yang sebenarnya masih bisa digunakan bisa dibilang merupakan kontribusi utama dari limbah mode.

Limbah itu terbentuk lewat penggunaan pewarna kain yang murah yang mengandung bahan kimia yang berbahaya untuk lingkungan, hingga penggunaan bahan polyester atau nilon yang terbuat dari bahan yang sulit terurai.

Ilustrasi gerakan "sustainable fashion". (ANTARA/Shutterstock)
Kendati gerakan ini memiliki tujuan yang baik dalam menjaga bumi untuk hidup sedikit lebih lama, Musa mengaku masih banyak tantangan yang harus dilalui agar "sustainable fashion" benar-benar berdampak.

Desainer yang memulai kiprahnya di dunia fesyen sejak tahun 1991 itu mengatakan, banyak hal penting yang harus diperhatikan dalam mendukung salah satu aksi pencegahan pemanasan global itu.

"Masih banyak PR (pekerjaan rumah) untuk sustainable fashion. Sustainable tak bisa hanya diartikan secara harafiah, ruang lingkupnya sangat luas," kata Musa.

"Ada keberlanjutan di dalamnya, ada tanggung jawab dengan sosial, ekonomi, bahan baku, dan proses dari proses tak ada, ada, hingga enggak ada sampahnya," ujarnya melanjutkan.

Sementara itu, sejumlah selebritas dunia telah memperkenalkan tren tersebut. Misalnya aktor Joaquin Phoenix yang mengenakan tuksedo lamanya di ajang Golden Globe 2020, beberapa waktu lalu.

Dengan mengenakan pakaian lama, secara tak sadar sudah berkontribusi dalam menyelamatkan lingkungan dan generasi di masa mendatang.

Baca juga: Joaquin Phoenix pakai tuksedo yang sama untuk kurangi limbah fesyen

Baca juga: Ini prediksi tren fesyen muslimah Indonesia tahun 2020

Baca juga: Tren lengan kembung di Golden Globe


Oleh Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar