Pemotongan sapi di Bantul turun akibat kasus antraks Gunung Kidul

Pemotongan sapi di Bantul turun akibat kasus antraks Gunung Kidul

Ilustrasi ternak sapi (Foto ANTARA/dokumen)

Bantul (ANTARA) - Pemotongan sapi di Rumah Potong Hewan wilayah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami penurunan sejak munculnya kasus antraks di Kabupaten Gunung Kidul yang menjangkiti hewan ternak tersebut.

"Konsumsi daging di masyarakat turun sampai 20 persen, dari rata-rata 40 ekor sapi yang disembelih per hari, menjadi hanya 30 sampai 35 ekor sapi," kata Ketua Paguyuban Pengusaha Daging Segoroyoso Kabupaten Bantul Ilham Ahmadi di Bantul, Minggu.

Menurut dia, penurunan konsumsi daging hingga berakibat pada jumlah sapi yang dipotong itu terjadi sejak sepekan terakhir, karena masyarakat merasa phobia atau takut mengkonsumsi daging setelah mereka membaca berita tentang antraks di berbagai media massa.

Baca juga: Kemenkes sempat tetapkan KLB antraks di Gunung Kidul

"Sebetulnya masyarakat tidak begitu paham antraks, namun seharusnya masyarakat tidak perlu khawatir, karena sapi yang masuk ke rumah pemotongan hewan (RPH) kita, selalu dikontrol kesehatannya oleh pemerintah," katanya.

Sementara itu, jika kalangan pengusaha menyebut konsumsi daging di masyarakat turun karena kasus antraks, namun berbeda dengan yang dialami pemilik usaha kuliner berbahan daging kambing di wilayah Bantul.

Sumarni (42), pemilik warung sate kambing di Jalan Parangtritis Bantul mengatakan usahanya yang sudah berjalan 20 tahun tidak terpengaruh isu antraks, karena dirinya sudah memiliki pelanggan yang jadi pemasok tetap dan tempat pemotongan sendiri.

Baca juga: Pakar UGM menduga spora antraks nyaman tumbuh di tanah kapur

"Kami tidak terima kambing dari luar, dan punya tempat pemotongan sendiri, yang dipotong rata-rata tujuh ekor per hari, kalau pas ramai bisa sampai 10 ekor, kami punya pelanggan tetap bahkan yang rumahnya jauh," katanya.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Bantul Joko Waluyo mengatakan sudah menyemprotkan desinfektan kepada ternak di pasar hewan sebagai langkah antisipasi agar tidak terjangkit antraks seperti yang terjadi di Gunung Kidul.

"Kejadian antraks di Gunung Kidul terjadi sejak April 2019, dan kami sudah lakukan antisipasi melalui penyemprotan desinfektan di lokasi Pasar Hewan Imogiri, yang kapasitasnya menampung 600 sapi dan 300 kambing," katanya.

Pewarta: Hery Sidik
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Lomba Karapan Sapi antar penyintas di Sigi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar