Empat pedemo, dua polisi tewas dalam kerusuhan di Irak

Empat pedemo, dua polisi tewas dalam kerusuhan di Irak

Warga menyerukan slogan dalam aksi demo mendukung Perdana Menteri Haider al-Abadi di Lapangan Tahrir di pusat kota Baghdad, Minggu (9/8). (REUTERS/Ahmad Mousa)

Tiga orang meninggal di sebuah rumah sakit di Baghdad akibat luka setelah polisi menembakkan peluru tajam di Lapangan Tayaran
Baghdad (ANTARA) - Enam warga Irak, termasuk dua polisi, tewas dan sejumlah orang cedera di Baghdad serta kota-kota lainnya pada Senin (20/1) dalam bentrokan dengan pasukan keamanan, kata beberapa sumber medis dan keamanan.

Kerusuhan antipemerintah di negara itu kembali berlangsung setelah berhenti selama beberapa pekan.

Tiga orang meninggal di sebuah rumah sakit di Baghdad akibat luka setelah polisi menembakkan peluru tajam di Lapangan Tayaran, kata beberapa sumber. Dua pedemo terkena peluru tajam sementara korban ketiga terkena tabung gas air mata, kata mereka.

Demonstran keempat tewas terkena tembakan polisi di kota suci Syiah, Kerbala, kata sumber-sumber itu.

Para pemrotes melemparkan bom-bom bensin dan batu ke arah polisi, yang kemudian menanggapinya dengan menembakkan gas air mata serta granat kejut, kata beberapa saksi mata Reuters.

Baca juga: Sejumlah orang terluka dalam serangan roket di pangkalan Balad Irak

Baca juga: Ulama Sadr: Krisis Irak sudah berakhir


Tiga roket Katyusha jatuh di dalam Zona Hijau berpenjagaan ketat di ibu kota, tempat gedung-gedung pemerintahan serta kantor kedutaan asing berada, kata sumber-sumber di kepolisian kepada Reuters.

Roket-roket itu diluncurkan dari kawasan Zafaraniyah di luar Baghdad dan dua roket mendarat di dekat kedutaan besar Amerika Serikat.

Di kota minyak Irak, Basra, dua polisi tertabrak hingga tewas oleh sebuah mobil warga sipil saat aksi protes berlangsung, kata sumber keamanan. Pengemudi mobil itu sedang berusaha menghindari lokasi bentrokan antara para pengunjuk rasa dan pasukan keamanan ketika ia menabrak kedua polisi itu, kata mereka.

Di berbagai wilayah lainnya di Irak selatan, ratusan pemrotes membakari ban serta memblokade jalanan di beberapa kota, termasuk Nassiriya, Kerbala dan Amara. Mereka mengatakan Perdana Menteri Adel Abdul Mahdi belum memenuhi janji-janji yang dinyatakannya, termasuk membentuk pemerintahan baru yang bisa diterima oleh semua kalangan rakyat Irak.

Sumber: Reuters

Baca juga: 11 tentara AS cedera dalam serangan rudal Iran 8 Januari

Baca juga: Roket Katyusha hantam pangkalan militer Taji di Irak

Penerjemah: Tia Mutiasari
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar