Pasar tradisional Yogyakarta didorong kelola sampah secara mandiri

Pasar tradisional Yogyakarta didorong kelola sampah secara mandiri

Kegiatan kebersihan di lingkungan pasar tradisional di Kota Yogyakarta untuk menjaga kenyamanan pengunjung (HO-Humas Pemkot Yogyakarta)

pasar tradisional yang menghasilkan banyak sampah organik maupun anorganik juga perlu melakukan upaya antisipasi di antaranya mengolah sampah secara mandiri agar sampah tidak perlu dibuang ke TPA Piyungan.
Yogyakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota Yogyakarta mendorong 30 pasar tradisional di kota tersebut untuk mengelola sampah secara mandiri sebagai upaya mengantisipasi terbatasnya umur pemakaian tempat pembuangan akhir sampah di Piyungan.

“Dari informasi yang saya peroleh, usia penggunaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan mungkin hanya tersisa satu hingga 1,5 tahun. Kalau tidak dilakukan antisipasi sejak sekarang, Yogyakarta akan kesulitan mengelola sampah,” kata Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi di sela aksi bersih-bersih Pasar Kranggan Yogyakarta, Selasa.

Oleh karena itu, lanjut Heroe, pasar tradisional yang menghasilkan banyak sampah organik maupun anorganik juga perlu melakukan upaya antisipasi di antaranya mengolah sampah secara mandiri agar sampah tidak perlu dibuang ke TPA Piyungan.

Baca juga: Semua elemen masyarakat Jatim diajak perangi buang sampah di sungai

Heroe berharap, seluruh sampah yang dihasilkan bisa terkelola secara tuntas di pasar tradisional dengan menggunakan berbagai metode, seperti komposter untuk mengelola sampah organik menjadi pupuk, serta menggunakan incinerator untuk membakar seluruh sampah yang dihasilkan.

“Sampah organik dari sisa sayur atau makanan lain. Sisa-sisa ini bisa dimasukkan ke komposter untuk menghasilkan pupuk dan pupuk bisa dimanfaatkan warga di sekitar untuk kebutuhan Kampung Sayur,” katanya.

Sedangkan untuk metode pembakaran sampah, Heroe mengatakan, saat ini baru dilakukan uji coba di Kecamatan Tegalrejo. Namun, masih ada kendala dari uji coba yang dilakukan yaitu munculnya asap yang dinilai mengganggu.

“Sebenarnya, sampah yang dimasukkan dalam incinerator akan habis terbakar. Tidak ada sisa, tetapi masih ada asap yang muncul. Kami terus upayakan agar asap bisa diminalisasi,” katanya yang menyebut harga incinerator jauh lebih murah jika harus membeli armada truk untuk pengangkutan sampah.

Heroe kembali mengingatkan agar seluruh pedagang perlu memastikan supaya pasar selalu dalam kondisi yang bersih sehingga pengunjung pun nyaman saat berbelanja.

“Saya memberikan apresiasi untuk kegiatan bersih-bersih hari ini. Kegiatan tidak hanya dilakukan oleh pedagang tetapi juga ada keterlibatan warga di wilayah termasuk dari TNI, Satpol PP dan petugas kebersihan,” katanya.

Baca juga: Antisipasi banjir, warga bersihkan sampah Sungai Buntung Yogyakarta

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Yogyakarta Yunianto Dwi Sutono mengatakan, pedagang pasar di Kota Yogyakarta sudah memiliki jadwal rutin untuk kegiatan bersih-bersih pasar tradisional yaitu setiap Kamis Pon.

“Hari ini ada kegiatan dari wilayah untuk membersihkan pasar. Kami tentu mendukung dan berharap kegiatan seperti ini semakin terkoordinasi dengan baik sehingga hasilnya pun maksimal. Di kecamatan lain yang juga memiliki pasar tradisional bisa menyelenggarakan kegiatan serupa,” katanya.

Ia kemudian meminta wilayah mendukung upaya penataan pasar tradisional, khususnya pedagang yang berjualan di luar pasar untuk menempati los atau kios di dalam pasar. “Di dalam pasar sebenarnya masih ada tempat yang tersisa. Ini butuh pendekatan ke pedagang. Harapannya, pemangku di wilayah bisa membantu,” katanya.

Pewarta: Eka Arifa Rusqiyati
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kementan gelar operasi pasar bawang putih di Banten

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar