Polda Metro Jaya bongkar prostitusi anak di Jakarta Utara

Polda Metro Jaya bongkar prostitusi anak di Jakarta Utara

Konferensi pers pengungkapan praktik eksploitasi dan prostitusi anak yang berlangsung di kawasan Rawa Bebek, Penjaringan, Jakarta Utara oleh Sub Direktorat 5 Remaja, Anak dan Wanita (Renakta) Ditreskrimum Polda Metro Jaya. ANTARA/Fianda Rassat/am.

Anak-anak di bawah umur itu dijual seharga Rp750.000 hingga Rp1,5 juta kepada tersangka yang dipanggil mami
Jakarta (ANTARA) - Sub Direktorat 5 Remaja, Anak, dan Wanita (Renakta) Ditreskrimum Polda Metro Jaya membongkar praktik eksploitasi dan prostitusi anak di kawasan Rawa Bebek, Penjaringan, Jakarta Utara.

Dalam penggerebekan pada Senin (13/1), polisi menangkap enam orang yang langsung ditetapkan sebagai tersangka.

"Pada Senin lalu, 13 Januari di sekitar Penjaringan, Jakarta Utara di salah satu kafe di Rawa Bebek, berhasil ditangkap enam tersangka. Mereka semua mengeksploitasi anak di bawah umur," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus di Polda Metro Jaya, Selasa.

Para tersangka itu diketahui berinisial R atau biasa dipanggil mami A, mami T, D alias F, TW, A, dan E, semua tersangka ini telah ditahan di Rumah Tahanan Polda Metro Jaya untuk diperiksa secara intensif. Sedangkan korbannya adalah anak berusia sekitar 14 sampai 18 tahun.

Para tersangka itu memiliki peran yang berbeda-beda antara lain mucikari dan mencari dan menjual para korban.

Tersangka pertama yakni mami A berperan mucikari sekaligus sebagai pemilik kafe yang dijadikan lokasi penjualan anak berusia di bawah umur.

"Dia juga memaksa anak-anak berusia di bawah umur untuk berhubungan badan dengan pria hidung belang yang datang ke kafe," ujarnya.

Tersangka kedua yakni mami T berperan memaksa anak-anak berusia di bawah umur untuk berhubungan seksual dengan para tamu.

Tersangka lainnya berinisial D alias F dan TW yang berperan mencari anak-anak di bawah umur melalui media sosial. Keduanya lalu menjual anak-anak tersebut kepada kedua tersangka yang biasa dipanggil mami.

"Anak-anak di bawah umur itu dijual seharga Rp750.000 hingga Rp1,5 juta kepada tersangka yang dipanggil mami," sambungnya.

Baca juga: TKP pegawai Transjakarta terluka dikenal kawasan prostitusi

Baca juga: WNA terjaring razia hotel akui tidak lakukan hubungan seksual

Baca juga: Praktik prostitusi masih ada di kawasan Kolong Jembatan Cilincing


Tersangka selanjutnya adalah A dan E. Keduanya merupakan anak buah mucikari tersebut yang juga merangkap sebagai tukang sapu di cafe tersebut.

Saat dilakukan penggerebekan dan penangkapan tersebut polisi hanya menemukan 10 anak-anak di bawah umur yang diketahui sebagai korban eksploitasi komplotan tersebut.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Juncto Pasal 296 KUHP dan Pasal 506 KUHP dengan ancaman hukuman penjara di atas 10 tahun penjara

Pewarta: Fianda Sjofjan Rassat
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Rumah belajar yang memberikan harapan di kawasan prostitusi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar