Ahli toksikologi: Ular langka banyak hidup di Pulau Flores

Ahli toksikologi: Ular langka banyak hidup di Pulau Flores

Dokter Tri Maharani. (ANTARA/Bernadus Tokan)

Kupang (ANTARA) - Ahli toksikologi dari dari Rumah Sakit Daha Husada Kediri Jawa Timur, dr. Tri Maharani mengatakan ular langka atau jenis ular daboia ruselli simanensis, banyak hidup di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Jenis ular ini memang langka karena di Indonesia hanya ada di beberapa tempat, termasuk di Pulau Flores," kata dokter Tri Maharani, Kepala IGD Rumah Sakit Daha Husada Kediri Jawa Timur, dr. Tri Mahara, di Kupang, Rabu.

Dia mengemukakan hal itu, dalam wawancara dengan Antara setelah sukses menyelamatkan korban gigitan ular sangat berbisa di Lembata dan menjadi kasus hidup pertama di Indonesia.

Baca juga: Korban gigitan ular langka di Lembata berhasil diselamatkan

Baca juga: Tangani ular berbisa, BPBD Bangka Belitung beri pelatihan TRC

Baca juga: Bawang merah atasi gigitan ular berbisa, ini penjelasannya


Berdasarkan buku Smith 1917, karya Eastern Russell's Viper menyebutkan wilayah-wilayah yang menjadi tempat hidup jenis ular sangat berbisa di Pulau Flores adalah Komodo (Loh Liang, Komodo, Loh Lavi, Long Liang Mount Puaki) dan Pulau Rinca (unspecified locality).

Selain terdapat di Flores (Bajawa, Danga, Ende Bay, Mbai Labuan Bajo Mbomba, Nangaroro, Ndao Riung) dan Ende.

Jenis ular sangat berbisa ini juga hidup di Pulau Solor dan Adonara, kata Tri Maharani mengutip buku Smith 1917.

"Karena itu, dengan adanya kasus gigitan di Lembata, maka pemerintah perlu memiliki antibisa ular langka ini karena jenis ular ini sangat ganas tioxinnya," katanya menambahkan.*

Baca juga: Warga Babel diminta waspadai ular tepung ari

Baca juga: Bencana banjir - BPBD Lebak waspada banjir dan ular berbisa

Baca juga: Ahli reptil ITB jelaskan ciri-ciri ular berbisa

Pewarta: Bernadus Tokan
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar