Kuasa hukum berharap ZA dilepaskan dari segala tuntutan

Kuasa hukum berharap ZA dilepaskan dari segala tuntutan

Kuasa hukum ZA, Bhakti Riza Hidayat (kiri) berbicara kepada ZA (kanan), saat menunggu pelaksanaan sidang pembacaan tuntutan di Pengadilan Negeri Kabupaten Malang, Jawa Timur, Selasa (21/1/2020). (ANTARA/Vicki Febrianto)

"Perbuatan ZA tidak dapat dituntut karena didasarkan dengan adanya suatu alasan pemaaf, sehingga dengan demikian ZA harus dilepaskan dari segala tuntutan hukum," kata Bhakti, di Pengadilan Negeri Kabupaten Malang, Jawa Timur, Rabu.
Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Tim kuasa hukum ZA, seorang pelajar sekolah menengah kejuruan (SMK) di Kabupaten Malang, Jawa Timur yang membunuh begal atau pelaku perampasan, mengharapkan sang anak ini bisa dilepaskan dari segala tuntutan hukum.

Kuasa hukum ZA, Bhakti Riza Hidayat mengatakan dalam sidang lanjutan dengan agenda pembacaan pleidoi atau pembelaan, pihaknya meminta hakim untuk bisa membebaskan ZA yang berusia 17 tahun itu dari segala tuntutan hukum.

"Perbuatan ZA tidak dapat dituntut karena didasarkan dengan adanya suatu alasan pemaaf, sehingga dengan demikian ZA harus dilepaskan dari segala tuntutan hukum," kata Bhakti, di Pengadilan Negeri Kabupaten Malang, Jawa Timur, Rabu.
Baca juga: Pelajar bunuh begal, Ombudsman: Polisi jaksa terkesan "buang badan"

Pada sidang sebelumnya saat jaksa penuntut umum (JPU) anak membacakan tuntutan, jaksa ingin membuktikan dengan pasal 351 ayat 3 tentang penganiayaan yang menyebabkan kematian.

Dengan pasal yang disangkakan oleh jaksa tersebut, ZA mendapatkan tuntutan hukuman pidana pembinaan selama satu tahun, di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Darul Aitam, di Wajak, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

"Fakta persidangan telah memenuhi unsur pasal 49 ayat 1 KUHP, ZA bertujuan untuk melakukan pembelaan darurat untuk diri sendiri dan orang lain," kata Bhakti.

Pasal 49 ayat 1 KUHP menyebutkan, tidak dipidana, barang siapa melakukan perbuatan pembelaan terpaksa untuk diri sendiri maupun orang lain, kehormatan, kesusilaan, atau harta benda sendiri maupun orang lain, karena ada serangan atau ancaman serangan yang sangat dekat pada saat itu yang melawan hukum.

Kasus yang dialami siswa berusia 17 tahun tersebut, bermula dari penemuan mayat di kebun tebu di Desa Gondanglegi, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada 9 September 2019.
Baca juga: Siswa bunuh begal butuhkan pendampingan psikolog

Korban yang ditemukan warga itu, bernama Misnan berusia 35 tahun yang juga diduga pelaku perampasan atau begal. Berdasarkan hasil penyelidikan polisi, Misnan dan rekannya diduga menghadang ZA yang saat itu bersama kekasihnya.

Dua orang pelaku perampasan itu, mencoba merampas sepeda motor dan telepon seluler ZA dan kekasihnya. Selain mencoba merampas sepeda motor dan telepon seluler tersebut, dua orang begal itu juga mengancam akan memperkosa kekasih ZA.

Namun, ZA melakukan perlawanan dan menusukkan pisau ke salah satu begal, yang diambil dari jok motor ZA.

Pada Kamis (23/1), sidang akan dilanjutkan dengan agenda pembacaan putusan hakim terhadap kasus tersebut.

Pewarta: Vicki Febrianto
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pelajar bunuh begal dapat perhatian Komisi III DPR

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar