BATAN kembangkan sistem pemantau radiasi lingkungan

BATAN kembangkan sistem pemantau radiasi lingkungan

Batan (id.wikipedia.org)

Memang saat ini belum ada kejadian di Indonesia terkait radiasi lingkungan akibat bahan radioaktif berbahaya,
Jakarta (ANTARA) - Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) akan mengembangkan Sistem Pemantau Radiasi Lingkungan untuk Keselamatan dan Keamanan (SPRKK) yang merupakan salah satu Prioritas Riset Nasional dalam 2020 hingga 2024 yang dikoordinasikan oleh BATAN.

"Sistem Pemantau Radiasi Lingkungan untuk Keselamatan dan Keamanan berguna melindungi masyarakat agar tidak terkena penggunaan bahan radioaktif yang tidak seharusnya," kata Kepala BATAN Anhar Riza Antariksawan dalam pertemuan dengan awak media di Jakarta Selatan, Rabu.

BATAN berencana untuk memasang detektor di sejumlah stasiun pengamatan cuaca milik Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sehingga dapat memantau keberadaan radiasi di lingkungan.

Baca juga: Batan: Uji tak rusak cek kekokohan bangunan antisipasi gedung ambruk

Memang saat ini belum ada kejadian di Indonesia terkait radiasi lingkungan akibat bahan radioaktif berbahaya. Meski demikian, sistem ini menjadi langkah antisipasi atas ancaman yang memungkinkan muncul di masa mendatang.

Untuk implementasi Sistem Pemantau Radiasi Lingkungan, Radiation Portal Monitor (RPM) dapat dipasang di objek vital, pelabuhan, perbatasan dan pintu keluar masuk barang dari luar negeri ke dalam negeri untuk mencegah keluar atau masuknya barang radioaktif ilegal dan berbahaya ke wilayah Tanah Air.

Pemantauan radiasi lingkungan juga dapat dilakukan dengan detektor yang dipasang di drone atau pesawat tanpa awak untuk mendeteksi bahan radioaktif di lingkungan.

Sebagai bagian dari implementasi Sistem Pemantau Radiasi Lingkungan untuk Keselamatan dan Keamanan, BATAN telah mengembangkan Radiation Portal Monitor (RPM).

BATAN terus meningkatkan kualitas RPM yang dikembangkan dan berharap dapat tersertifikasi pada 2020.

Baca juga: BATAN lanjutkan litbang untuk pembangunan RDE

BATAN telah menghasilkan dua jenis prototipe RPM dengan menggunakan sumber dana DIPA BATAN yaitu PMR15 dan PMR16. PMR15 dipasang di pintu masuk keluar kantor BATAN Jakarta, sedangkan PMR16 dipasang di Main Gate Security (MGS) BATAN di Serpong, Tangerang Selatan.

BATAN mendorong agar PMR16 bisa segera tersertifikasi pada tahun ini. PMR16 merupakan jenis spektroskopi yang bisa menunjukkn jenis bahan radioaktif tidak hanya sekedar mendeteksi ada tidaknya radiasi. PMR16 juga dilengkapi detektor neutron.

"Kami mendorong satu tahun ini sudah tersertifikasi," ujarnya.

RPM merupakan portal monitor radiasi yang dipasang tetap untuk melakukan screening atau pemeriksaan terhadap sumber radiasi gamma dan atau neutron secara otomatis terhadap barang, orang dan kendaraan yang melewati daerah deteksi.

Saat ini, baru tujuh RPM yang telah terpasang di sejumlah pelabuhan di Indonesia seperti di Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta, Pelabuhan Batu Ampar di Batam, dan di Pelabuhan Bitung di Sulawesi Utara. Padahal Indonesia saat ini telah memiliki 172 pelabuhan.

Baca juga: Wartawan ANTARA raih penghargaan karya jurnalistik BATAN

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar