Indonesia berupaya turunkan tarif ekspor bus ke Bangladesh

Indonesia berupaya turunkan tarif ekspor bus ke Bangladesh

Direktur Perundingan Bilateral Kementerian Perdagangan RI, Ni Made Ayu Marthini, menyampaikan materi tentang kerja sama dagang pada acara temu bisnis "Meet Bangladesh" yang diadakan Kedutaan Besar Bangladesh untuk Indonesia di Jakarta, Kamis (23/1/2020). (ANTARA/Genta Tenri Mawangi)

Nanti saat perundingan kita akan minta penurunan tarif sampai 0, tetapi jika pihak Bangladesh tidak berkenan, nanti bisa dirundingkan berapa besaran penurunannya
Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Indonesia berupaya menurunkan tarif atau bea masuk bus yang diekspor ke Bangladesh melalui perundingan kerja sama dagang khusus (preferential trade agreement) antarnegara (IB-PTA).

Pasalnya, menurut Direktur Perundingan Bilateral Kementerian Perdagangan RI, Ni Made Ayu Marthini, besaran tarif untuk bus buatan Indonesia yang diekspor ke Bangladesh sebesar 35 persen, nilai yang cukup tinggi bagi Pemerintah Indonesia.

"Nanti saat perundingan kita akan minta penurunan tarif sampai 0, tetapi jika pihak Bangladesh tidak berkenan, nanti bisa dirundingkan berapa besaran penurunannya," kata Ayu Marthini, ketua juru runding Indonesia untuk IB-PTA, saat ditemui usai menghadiri acara temu bisnis "Meet Bangladesh" di Jakarta, Kamis.

Ia menjelaskan perundingan mengenai pembebasan dan penurunan tarif akan berlangsung dalam beberapa pekan mendatang sekitar Februari 2020.

"Saya nanti ke Dhaka untuk mengikuti perundingan yang ketiga. Kita berupaya semaksimal mungkin karena targetnya perundingan rampung dan ditandatangani sekitar Semester II 2020," tambah dia.

Dalam perundingan kerja sama dagang khusus itu, Indonesia akan mengajukan sekitar 300-400 komoditas ekspor yang masih dikenai tarif tinggi oleh Bangladesh. Beberapa produk yang dimaksud, di antaranya hasil perhutanan, perikanan, pertanian, olahan energi dan mineral, serta industri.

Indonesia dan Bangladesh pertama kali merundingkan kerja sama dagang khusus itu pada 27 Februari 2019 di Dhaka. Perundingan kedua berlanjut di Bali pada 22-23 Juli 2019.

Perlu diketahui, Indonesia pada 2019 mengimpor gerbong kereta api buatan PT INKA dan bus ke Bangladesh. Setidaknya ada empat bus tipe eksekutif dan 10 bus tingkat yang diekspor perusahaan asal Indonesia CV Laksana ke Bangladesh. Nilai kendaraan yang diekspor mencapai US$ 808 ribu (setara Rp11,41 miliar).

Baca juga: Perundingan dagang Indonesia dan Bangladesh ditargetkan rampung 2020
Baca juga: Bangladesh tawarkan ragam kemudahan investasi ke pengusaha Indonesia
Baca juga: KBRI promosikan kuliner Indonesia di Bangladesh

Pewarta: Genta Tenri Mawangi
Editor: Azis Kurmala
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar