KKP perlu identifikasi kendala petambak sentra produksi udang

KKP perlu identifikasi kendala petambak sentra produksi udang

Petambak memberi pakan udang vaname di areal tambak desa Singaraja, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (28/8/2019). ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/hp.

Di sektor perikanan budidaya, udang masih menjanjikan
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) perlu segera mengidentifikasi berbagai kendala yang dihadapi petambak di sentra-sentra produksi udang di berbagai daerah bila ingin lebih melesatkan produktivitas komoditas tersebut.

"Identifikasi peluang dan kendala yang dihadapi oleh petambak udang di sentra-sentra produksi udang di Indonesia," kata Direktur Eksekutif Pusat Kajian Maritim untuk Kemanusiaan, Abdul Halim kepada Antara di Jakarta, Kamis.

Selain itu, ujar dia, penting pula untuk memfasilitasi serta melakukan pendampingan dalam rangka memelihara kualitas tambak hingga pola peningkatan produksinya, khususnya terkait antisipasi munculnya penyakit udang.

Baca juga: PT Bomar masih kekurangan pasokan udang untuk pasar ekspor

Ia meyakini bila berbagai cara itu dilakukan secara kolaboratif antara pemerintah tingkat pusat dan pemda, maka target produksi udang nasional akan meningkat seperti yang diharapkan.

"Di sektor perikanan budidaya, udang masih menjanjikan, hanya perlu diatur secara tegas mekanisme pengolahan limbah pascabudidaya akibat tingginya pemakaian pakan," katanya.

Abdul Halim juga mengingatkan bahwa berbagai komoditas lainnya seperti rajungan sudah harus dikurangi penangkapannya karena status spesies tersebut yang berpotensi terancam.

Sebelumnya, lembaga swadaya masyarakat Destructive Fishing Watch (DFW) menginginkan agar KKP dapat membuat peta detail terkait dengan tambak di Indonesia sebagai upaya meningkatkan kinerja komoditas udang nasional.

Baca juga: Menteri Edhy ingin kesenjangan petambak besar-rakyat diperkecil

Peneliti DFW-Indonesia Muh Arifuddin mengingatkan bahwa rencana KKP guna meningkatkan produksi budi daya menjadi 18,44 juta ton tahun 2020 merupakan target ambisius dan memerlukan dukungan semua pihak.

"Perlu dimulai dari baseline karena hingga saat ini Indonesia belum memiliki peta detail tambak di Indonesia untuk keperluan engineering dan manajemen di tingkat farm level, termasuk untuk tujuan proyek rehabilitasi," kata Arif.

Selanjutnya, ujar dia, pemilihan komoditas untuk budidaya juga perlu dilakukan secara tepat.

Baca juga: Petambak udang Bratasena maksimalkan bantuan modal dari Pertamina

Ia berpendapat bahwa untuk saat ini, udang windu tetap harus jadi prioritas. Untuk daerah yg kurang potensial komoditas bandeng, rumput laut (gracillaria) dan ikan kakap putih bisa juga dikembangkan atau dipolikultur dengan windu. Tapi tentunya setelah syarat teknis lahan tambak eksisting dibenahi.

DFW-Indonesia juga menyoroti alokasi bantuan kapal yang hanya 30 unit tahun 2020, antara lain bagaimana hasil evaluasi pemanfaatan bantuan kapal ikan dalam lima tahun ini, dan bagaimana strategi KKP untuk meningkatkan produksi tangkap yang sudah dipatok pada angka 8,02 juta ton pada tahun 2020.

Seperti diketahui, KKP mencanangkan target peningkatan nilai ekspor udang sebanyak 250 persen hingga tahun 2024. Untuk memenuhi target tersebut, dibutuhkan peningkatan volume produksi udang untuk bahan baku ekspor dari 240 ribu ton pada 2018 menjadi sebesar 578 ribu ton pada 2024.

Baca juga: Petambak udang bergairah lagi
 

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Ekspor udang puluhan ton dari tambak bekas tambang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar