PLN dorong inovasi EBT sektor komersial dan industri

PLN dorong inovasi EBT sektor komersial dan industri

Wakil Dirut PLN Darmawan Prasojo. ANTARA/Afut Syafril/am.

PLN berperan aktif dalam gerakan global pengurangan emisi karbon dengan mengoptimalkan penggunaan pembangkit EBT
Jakarta (ANTARA) - PT PLN (Persero) dan Clean Energy Investment Accelerator (CEIA), yang diwakili World Resources Institute (WRI) Indonesia, menandatangani Nota Kesepahaman tentang Asistensi Teknis Inovasi Produk Energi Baru Terbarukan untuk Sektor Komersial dan Industri guna mengembangkan berbagai inovasi produk energi baru dan terbarukan (EBT).

Wakil Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo  di Jakarta, Kamis mengungkapkan PLN berperan aktif dalam gerakan global pengurangan emisi karbon dengan mengoptimalkan penggunaan pembangkit EBT.

Baca juga: PLN tambah 1,5 GW pembangkit EBT di 2020

Hingga Desember 2019, PLN telah mengoperasikan pembangkit EBT sebesar 7.681 MW.

Ke depan, PLN juga akan terus mendorong penggunaan EBT hingga lebih dari 15.000 MW pada 2028.

“Dalam rangka mengembangkan kapasitas dan kemanfaatan renewable energy, PLN dan CEIA Indonesia bekerja sama melakukan studi dan penelitian terkait renewable energy certificate yang sesuai dengan lanskap ketenagalistrikan di Indonesia. Kami juga mengkaji potensi permintaan renewable energy di sektor komersial dan industri,” ungkapnya.

Renewable energy certificate ini akan menjadi salah satu produk layanan PLN ke depan guna mendukung perkembangan penggunaan EBT di Indonesia, dengan banyak perusahaan multinasional memiliki komitmen kuat untuk berpartisipasi menggunakan EBT berstandar dan kualifikasi internasional.

“Melalui nota kesepahaman PLN dan CEIA Indonesia, kami berharap apa yang menjadi standar kualifikasi yang diharapkan pelanggan dapat dipenuhi oleh PLN. Sehingga partisipasi dari banyak pelanggan PLN terhadap penggunaan renewable energy semakin meningkat,” kata Darmawan.

Sementara itu, Direktur WRI Indonesia Nirarta Samadhi selaku perwakilan CEIA menambahkan bahwa pihaknya akan melakukan pendampingan teknis lain seperti penyiapan standar sistem pelacakan atribut energi atau yang dikenal sebagai renewable energy attribute tracking system.

“Termasuk dalam hal ini adalah sistem pencatatan, pelaporan, dan pengakuan atas kepemilikan, sesuai standar internasional,” jelasnya.

Nirarta menambahkan renewable energy attribute tracking system adalah suatu platform perdagangan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan penjual dan pembeli yang terlibat dalam pasar renewable energy certificate.

Setiap renewable energy certificate yang dikeluarkan oleh sistem ini mencakup informasi spesifik mengenai atribut energi baru terbarukan yang diwakilinya.

Nirarta menegaskan melalui nota kesepahaman ini, diharapkan seluruh perusahaan yang telah bergabung dengan CEIA Indonesia dapat mendorong penggunaan target EBT, salah satunya melalui renewable energy certificate.

Baca juga: BPK nilai target bauran EBT terlalu tinggi
Baca juga: PLN kembangkan kapasitas pembangkit EBT di NTT capai 22,72 MW


Pewarta: Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Sampah di NTB jadi sumber energi pembangkit listrik PLN

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar