Pakar: Penanganan pasien terinfeksi corona sesuai kondisi klinis

Pakar: Penanganan pasien terinfeksi corona sesuai kondisi klinis

Pakar paru dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dr Erlina Burhan (paling kanan) memberikan penjelasan terkait virus corona di Jakarta, Jumat (24/1/2020). (ANTARA/Muhammad Zulfikar)

Jakarta (ANTARA) - Pakar paru dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dr Erlina Burhan mengatakan penanganan pasien terinfeksi virus corona dilakukan sesuai dengan kondisi klinis masing-masing sehingga akan berbeda antara satu dengan lainnya.

"Sebab, hingga saat ini virus corona itu belum ada obat ataupun vaksinnya sehingga kita mengobati pasien secara simtomatis," kata dia saat memberikan penjelasan terkait virus corona di Sekretariat PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di Jakarta, Jumat.

Baca juga: Bandara Syamsudin Noor dilengkapi "Thermo Scanner" cegah virus corona

Penanganan simtomatis berarti dengan cara meredakan suatu penyakit melalui gejala umumnya baik itu dari sakit kepala, demam dan sebagainya.

Hal ini sehubungan dengan fakta yang menunjukkan kematian pada pasien terinfeksi virus corona tidak dapat dikaitkan langsung dengan virus itu sendiri.

Melainkan, pasien meninggal justru karena adanya penyakit penyerta yang sudah diderita pasien sebelumnya di antaranya diabetes, gagal ginjal serta penyakit usia tua.

"Ini berarti pasien merupakan kelompok-kelompok yang memiliki imunitas rendah," kata dia.

Baca juga: IDI: Belum ada obat untuk anti virus corona

Sehingga, untuk penanganan pasien dilakukan dengan mengatasi kelainan yang ditimbulkan. Contohnya ialah jika terinfeksi virus corona dengan diiringi demam, maka demamnya yang diatasi.

Begitu pula dengan pasien terinfeksi virus corona yang mengalami hingga gagal napas, maka ditangani dengan alat bantu napas sehingga hubungan antara pasien dengan ventilator harus dijalankan.

"Begitu juga jika sakit dialami dengan adanya gagal fungsi sejumlah organ dalam tubuh, maka itu yang diatasi. Kalau obat khusus belum ada," katanya.

Senada dengan itu, Ketua Dewan Pertimbangan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban mengatakan penyebaran virus corona harus benar-benar diwaspadai terutama pada pasien dengan usia lanjut. Sebab, terdapat faktor-faktor lain yang memudahkan adanya sakit lebih berat.

Apalagi, pada usia lanjut seseorang banyak menderita penyakit lainnya baik itu diabetes, darah tinggi, kolesterol maupun jantung.

"Tapi saya yakin untuk penyakit-penyakit lain itu sudah tersedia obat-obatan yang canggih sehingga yang lebih penting ialah memperhatikan pola hidup sehat pada usia lanjut," ujarnya.

Baca juga: Gorontalo antisipasi virus corona masuk dari Manado
Baca juga: Pemimpin MPR dapat penjelasan Dubes China soal penyebaran virus corona
Baca juga: Antisipasi virus corona, KKP perketat pengawasan bandara di Sultra

Pewarta: Muhammad Zulfikar
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Penyemprotan massal disinfektan dengan drone dan water cannon

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar