Kemenkes dorong kesadaran tentang perlunya makanan bergizi seimbang

Kemenkes dorong kesadaran tentang perlunya makanan bergizi seimbang

Direktur Gizi Masyarakat Kemenkes Dr. Dhian Probhiyekti memberikan penjelasan dalam Temu Media terkait gizi milenial yang diselenggarakan Kemenkes dalam rangka memperingati Hari Gizi yang jatuh pada 25 Januari, Jakarta, Jumat (24/1/2020). (ANTARA/Katriana)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendorong masyarakat untuk menyadari tentang perlunya makanan yang tidak hanya enak dan murah, tetapi juga tetap memiliki nilai gizi yang seimbang.

"Enak, murah itu vital, tapi yang penting prinsipnya adalah bergizi seimbang," kata Direktur Gizi Masyarakat Kemenkes Dr. Dhian Probhiyekti dalam Temu Media terkait gizi milenial yang diselenggarakan Kemenkes dalam rangka memperingati Hari Gizi yang jatuh pada 25 Januari, Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan bahwa makanan yang bergizi seimbang adalah makanan yang memiliki kandungan seperti vitamin, protein hewani, protein nabati dan karbohidrat.

Kandungan gizi tersebut dapat diperoleh dari bahan-bahan makanan seperti daging ayam, ikan, telor, tempe, kacang-kacangan, susu, sayur-sayuran dan buah-buahan yang banyak tersedia di pasar dan dapat diperoleh dengan harga yang juga terjangkau.

"Jadi kalau bicara ekonomi, kita sadar bahwa kita makan harus ada sayur, dan (sayur) itu sebenarnya tidak susah untuk diperoleh dan tidak mahal. Kita bisa tanam hidroponik di tanah saja kan? Misalnya, daun kemangi, itu kan bisa ditanam dengan mudah tanpa mengeluarkan biaya besar," katanya.

Baca juga: Akademisi: Pemberian gizi tepat dapat cegah kekerdilan sejak dini

Baca juga: Cegah "stunting", menurut GAIN bukan asal anak kenyang

Baca juga: Ahli Gizi anjurkan pola makan gizi seimbang saat kemarau


Oleh karena itu, sebenarnya bukan kendala bagi masyarakat untuk mengonsumsi makanan yang enak dan bergizi seimbang ketika masyarakat mau berubah.

"Makanya kalau dari keluarga miskin, mereka bisa memanfaatkan pekarangan untuk tanaman-tanaman tomat dan sebagainya. Itu bisa ditanam dengan mudah dan bukan hal yang sulit," katanya.

Namun demikian, faktanya saat ini ia menilai kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi buah dan sayur masih sangat rendah.

Bahkan ia mengatakan bahwa berdasarkan data pada 2013 remaja atau masyarakat Indonesia yang mengonsumsi sayur dan buah baru sekitar 10 persen.

"Konsumsinya masih sangat rendah," katanya.

Oleh karena itu, yang perlu dipahami masyarakat saat ini adalah bahwa makanan yang bergizi seimbang tidak harus makanan yang mahal. Bahan makanan yang ditanam di pekarangan rumah pun, katanya, bisa dimanfaatkan untuk memenuhi gizi seimbang tersebut.

"Jadi makanan bergizi seimbang bukan melulu makanan mahal. Makanan murah pun bisa jadi makanan yang bergizi seimbang," katanya.

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang perlunya gizi seimbang tersebut, siapapun, katanya, bisa memberikan edukasi di tingkat kelompok atau peer group. Misalnya saat memesan makanan melalui jasa daring (online).

"Kita mulai melakukan edukasi dengan teman-teman. Jadi peer group, itu kalau satu ngomong enak, pasti yang lain juga (ngomong) enak," katanya.*

Baca juga: Tidak sarapan bisa ganggu kemampuan kinestetik anak

Baca juga: Sarapan pagi tingkatkan kosentrasi belajar anak

Baca juga: IDI minta upaya penanganan stunting dilakukan dalam program khusus

Pewarta: Katriana
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Waspada DBD, sebanyak 49 penderita meninggal dunia

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar