Inggris tegur AS sebab tak serahkan istri diplomat terlibat penabrakan

Inggris tegur AS sebab tak serahkan istri diplomat terlibat penabrakan

Bendera Inggris berlatar belakang Menara jam Big Ben, London (3012/2019). ANTARA/REUTERS/Toby Melville/aa.

Kami merasa ini sama dengan penolakan atas keadilan, dan kami yakin Anne Sacoolas harus kembali ke Inggris. Pemerintah Inggris pasti akan berlaku demikian jika kasus ini terjadi pada diplomat kami di AS
London/Washington (ANTARA) - Pemerintah Inggris menegur pemerintah Amerika Serikat (AS) pada Jumat setelah menolak untuk mengekstradisi istri diplomat AS, Anne Sacoolas, yang terlibat dalam kasus penabrakan yang menewaskan seorang remaja Inggris.

Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab memanggil duta besar AS di London untuk menyampaikan kekecewaan Inggris terkait hal itu.

"Kami merasa ini sama dengan penolakan atas keadilan, dan kami yakin Anne Sacoolas harus kembali ke Inggris. Pemerintah Inggris pasti akan berlaku demikian jika kasus ini terjadi pada diplomat kami di AS," kata Raab.

Kejaksaan Inggris telah mengirim permohonan ekstradisi Sacoolas atas kasus kecelakaan pada Agustus 2019 yang melibatkan dirinya hingga menewaskan Briton Harry Dunn (19) yang sedang mengendarai sepeda motor.

Menurut keluarga Dunn, Sacoolas menyetir mobil di jalur yang salah saat terjadi kecelakaan di Inggris bagian tengah, dekat pangkalan udara militer AS.

Pihak AS, melalui Kementerian Luar Negeri sebelumnya pada Kamis (23/1) menyebut bahwa Sacoolas mempunyai imunitas terhadap yurisdiksi kriminal, dan ekstradisi akan menjadi preseden buruk.

"Jika AS mengabulkan permintaan Inggris untuk melakukan ekstradisi, maka seperti mengamini ketidaksahan pada imunitas diplomatik dan akan membuat preseden yang luar biasa bermasalah," kata Kementerian Luar Negeri AS.

Dengan imunitas diplomatik, Sacoolas langsung meninggalkan Inggris setelah terjadi peristiwa penabrakan itu.

Pengacaranya menyatakan bahwa Sacoolas tidak akan kembali dengan sukarela ke Inggris dan menghadapi ancaman hukuman penjara atas "sebuah kecelakaan yang mengerikan namun tidak disengaja" tersebut.

Menanggapi hal itu, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menyebut bahwa Sacoolas telah salah dalam menggunakan imunitas diplomatik untuk pergi dari Inggris. Johnson juga mendesak Presiden AS Donald Trump agar mempertimbangkan kembali posisi AS.

Sebelumnya, orang tua korban telah bertemu dengan Trump di Gedung Putih pada Oktober 2019. Dalam pertemuan itu, Trump berharap dapat membujuk mereka untuk bertemu dengan Sacoolas yang sedang berada di lokasi yang sama, namun mereka menolak.

Sumber: Reuters

Baca juga: Boris Johnson janji dukung para diplomat Inggris
Baca juga: Australia usir dua diplomat Rusia terkait serangan racun saraf di Inggris

Penerjemah: Suwanti
Editor: Azis Kurmala
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar