AHA Center: Pakar kebencanaan Indonesia berpeluang belajar ke Eropa

AHA Center: Pakar kebencanaan Indonesia berpeluang belajar ke Eropa

Direktur Eksekutif Pusat Koordinasi Bantuan Kemanusiaan Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN) untuk Penanggulangan Bencana (AHA Center) Adelina Kamal (kiri) dan Duta Besar Uni Eropa untuk ASEAN Igor Driesmans dalam jumpa pers seusai peluncuran Program Terpadu Peningkatan Kapasitas AHA Center dan Mekanisme Tanggap Darurat ASEAN yang didukung Uni Eropa (EU SAHA) di Sekretariat ASEAN, Jakarta, Senin (27/1/2020). (ANTARA/Dewanto Samodro)

Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Pusat Koordinasi Bantuan Kemanusiaan Asosiasi Negara Asia Tenggara (ASEAN) untuk Penanggulangan Bencana (AHA Center) Adelina Kamal mengatakan pakar Kebencanaan dari Indonesia berpeluang untuk belajar di Eropa melalui Program Terpadu Peningkatan Kapasitas AHA Center dan Mekanisme Tanggap Darurat ASEAN yang didukung Uni Eropa atau EU SAHA.

"Pakar-pakar kebencanaan Indonesia bisa belajar teknologi dan pengalaman dari negara-negara Eropa dalam penanggulangan bencana. Mereka memiliki modul penanggulangan bencana yang cukup lengkap," kata Adelina sesuai peluncuran program EU SAHA di Sekretariat ASEAN, Jakarta, Senin.

Adelina mengatakan Indonesia dan Filipina merupakan negara anggota ASEAN yang wilayahnya kerap terjadi bencana, sehingga kerja sama tersebut sangat strategis dalam penanggulangan bencana.

Dengan teknologi dan modul yang lengkap, negara-negara anggota Uni Eropa cukup siap dalam penanggulangan bencana, sementara di sisi lain di wilayahnya tidak terlalu banyak terjadi bencana.

Baca juga: AHA Center tinjau bantuan hunian tetap untuk pengungsi bencana Palu

Baca juga: PMI latih petugas tanggap bencana dari 10 negara ASEAN

Baca juga: Dua negara ASEAN bantu bangun hunian korban gempa Palu


"Karena itu, mereka juga ingin belajar dari ASEAN, termasuk dari Indonesia yang merupakan laboratorium bencana. Mereka memiliki modul lengkap dalam penanggulangan bencana, tetapi tidak memiliki banyak bencana. Maka mereka 'mencari' bencana ke Asia Tenggara untuk menguji modul mereka," tutur Adelina.

Melalui kerja sama tersebut, Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara dapat belajar bagaimana mengoordinasi bantuan untuk membantu negara-negara di luar Asia Tenggara yang sedang dilanda bencana secara kolektif sebagai ASEAN dalam koordinasi AHA Center.

"Lebih sulit memberikan bantuan daripada menerima bantuan. Bisa jadi bantuan yang kita persiapkan ternyata tidak diperlukan atau diminta negara yang sedang dilanda bencana. Kita bisa belajar dari Uni Eropa soal pemberian bantuan itu," katanya.

Sementara itu, Duta Besar Uni Eropa untuk ASEAN Igor Driesmans mengatakan EU SAHA merupakan program solidaritas antara kedua belah pihak dan kemitraan dalam bidang penanggulangan bencana.

"Mudah-mudahan program ini menjadi salah satu kisah keberhasilan dalam kerja sama antara Uni Eropa dengan ASEAN," katanya.*

Baca juga: Model penanganan bencana Indonesia jadi "Best Practice"

Baca juga: Indonesia minta dunia internasional beri ASEAN kesempatan bantu Myanmar

Baca juga: AHA Centre selenggarakan seminar Menuju One ASEAN One Response

Pewarta: Dewanto Samodro
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pemerintah minta Pemda realokasikan dana APBD untuk penanganan COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar