Masih banyak praktik baik menjaga alam di Papua, sebut peneliti

Masih banyak praktik baik menjaga alam di Papua, sebut peneliti

Peneliti dari Universitas Papua Jimmy F Wanma (kedua kanan) dan Bupati Kaimana, Provinsi Papua Barat Matias Mairuma (ujung kiri) dalam diskusi di Jakarta Pusat, Selasa (28/1/2020). (FOTO ANTARA/Prisca Triferna)

Peneliti dan tim dari EcoNusa melakukan ekspedisi mangrove atau bakau di sepanjang pesisir selatan Papua Barat untuk mengidentifikasi kawasan bakau dan potensi sosial ekonominya bagi masyarakat lokal.
Jakarta (ANTARA) - Seorang peneliti menyatakan masih banyak praktik baik yang dilakukan masyarakat untuk menjaga alam dan melestarikan lingkungan hidup di Provinsi Papua meski ‚Äčada kebutuhan ekonomi masyarakat.

"Tantangan ekonomi adalah tantangan klasik yang terus ada di Papua, saya pikir bukan hanya di Papua saja, di mana saja. Tetapi kita tidak usah berkecil hati karena ada praktik-praktik luar biasa menjaga alam dan lingkungan yang masih kita dapati," kata Jimmy F Wanma, peneliti dari Fakultas Kehutanan Universitas Papua (Unipa)  itu dalam diskusi yang diselenggarakan organisasi non-pemerintah EcoNusa di Jakarta Pusat, Selasa.

Jimmy bersama beberapa peneliti dan tim dari EcoNusa melakukan ekspedisi mangrove atau bakau di sepanjang pesisir selatan Papua Barat untuk mengidentifikasi kawasan bakau dan potensi sosial ekonominya bagi masyarakat lokal.

Lewat ekspedisi itu, Jimmy mengatakan tim peneliti menemukan beberapa praktik baik yang dilakukan warga untuk menjaga alam seperti mengumpulkan uang untuk menanam bakau baru.

Hal itu dilakukan warga karena mereka sadar ketika terdapat bakau maka kepiting dan undang, yang ditangkap oleh warga untuk menjadi sumber mata pencaharian, akan banyak berkembang biak.

"Tantangan tentu ada, tapi kearifan lokal kita merupakan harapan kita bahwa di samping tantangan terdapat juga hal-hal positif terus berjalan di Papua," kata Jimmy F Wanma.

Sementara itu, Bupati Kaimana, Provinsi Papua Barat Matias Mairuma.menjelaskan permasalahan lingkungan sering dikaitkan dengan pengalihan fungsi hutan dari yang dipenuhi tanaman asli atau endemik menjadi tanaman jenis lain yang bisa dijual atau diekspor.

"Karena itu, investasi dan pembangunan yang dilakukan juga perlu disesuaikan dengan kepentingan masyarakat yang memastikan semua masyarakat mendapatkan kemakmuran dan tidak hanya pihak tertentu saja agar tidak terjadi disparitas," katanya.

Penilaian kemajuan suatu daerah tidak hanya bisa dilihat dari angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM), yang bisa meningkat karena masuknya orang asing ke daerah di Papua, kata Matias, yang juga menjadi narasumber dalam diskusi tentang Papua yang diadakan EcoNusa.

"Kalau mau kasih naik IPM, kelapa sawit 100 perusahaan masuk, selesai. Kami tidak akan miskin lagi. Tapi sampai kapan kesejahteraan ini akan berlanjut terus, itu soal," demikian Matias Mairuma.

Baca juga: Mangrove di Pesisir Sorong ditanam bersama warga dan TNI-AL

Baca juga: Lahan kritis di Teluk Wondama diperbaiki dengan penanaman mangrove

Baca juga: 1.000 bibit mangrove ditanam di Teluk Bintuni

Baca juga: Menitip asa di hutan mangrove Tongke-Tongke

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Polda Papua Barat tangkap tiga pelaku penjual senjata api ilegal

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar