Evakuasi jadi solusi hindari konflik manusia dan satwa dilindungi

Evakuasi jadi solusi hindari konflik manusia dan satwa dilindungi

Satwa liar, buaya yang siap dimutasi oleh Tim Wildlife Resque Unit (WRU) Soroako setelah menggigit seorang warga di kawasan Danau Towuti, Luwu Utara, Sulsel. ANTARA Foto/HO/Humas BB BKSDA Sulsel

Makassar (ANTARA) - Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan Thomas Nifinluri mengatakan konflik manusia dengan satwa langka yang terjadi di Luwu Timur, Sulsel, solusinya dengan mutasi ke area yang jauh dari pemukiman warga.

"Konflik satwa langka dengan manusia ini terjadi karena adanya perubahan landscape dan kehidupan yang pesat di lapangan," kata Thomas di Makassar, Rabu.

Dia mengatakan, persoalan ini bisa diminimalisasi dengan batas-batas yang jelas, namun tetap terbatas, karena banyak faktor lain yang harus dipertimbangkan.

Menurut dia, satwa langkah ada di wilayah jelajah hidup, sementara ruang hidup sudah terbatas. Di sisi lain manusia berkegiatan cenderung tanpa batas.

Baca juga: BKSDA evakuasi satwa dilindungi dari tempat wisata Barito Selatan

Baca juga: Penjual Kera Owa Ungka dan Binturong divonis 1 tahun 4 bulan penjara

Baca juga: Titian: Berikan efek jera kepada pelaku penyelundupan satwa dilindungi


"Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan mengelola habitat satwa langkah atau manusianya, agar tidak saling bersinggungan satu dan yang lainnya," katanya.

Mengenai kejadian di Soroako, Luwu Timur pada 27 Januari 2020, dia mengatakan, pihaknya telah mendapatkan laporan dari TIM Wildlife Resque Unit (WRU) Soroako dan telah berkoordinasi dengan Kepala Bidang Wilayah I Palopo Nur Alam.

Dia mengatakan tidak memungkinkan buaya di kawasan Danau Towuti, Luwu Timur dimusnahkan, karena buaya adalah salah satu hewan yang dilindungi, sehingga satu-satunya jalan adalah dipindahkan atau mutasi ke lokasi yang jauh dari manusia.

"Pada 27 Januari 2020 sekitar pukul 06.30 Wita di Danau Towuti sudah mengevakuasi buaya sepanjang empat meter setelah menggigit seorang warga. Namun, sayangnya pada proses evakuasi buaya itu mati sebelum tiba di Kantor Daops Manggala Agni untuk selanjutnya dirilis ke habitat yang jauh dari penduduk," katanya.*

Baca juga: Polda Sumut mengembangkan kasus penjualan satwa dilindungi

Baca juga: BKSDA Agam tangani 11 konflik satwa dengan manusia selama 2019

Baca juga: Warga Agam ditangkap polisi karena koleksi satwa dilindungi

 
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan Thomas Nifinluri. ANTARA Foto/HO/Humas BB KSDA Sulsel

Pewarta: Suriani Mappong
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar