Pemerintah perlu pastikan sinkronisasi data landasan kebijakan impor

Pemerintah perlu pastikan sinkronisasi data landasan kebijakan impor

Sejumlah komoditas seperti bawang merah, bawang putih, dan cabai yang dijual di pasar tradisional. ANTARA/Suriani Mappong

Sinkronisasi data pangan yang termasuk salah satu program kerja 100 hari pertama Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo
Jakarta (ANTARA) - Pemerintah melalui berbagai kementerian diharapkan agar dapat benar-benar memastikan sinkronisasi data pangan yang ke depannya diharapkan jadi acuan pengambilan kebijakan pangan yang akurat, terutama terkait dengan impor pangan.

"Sinkronisasi data pangan yang termasuk salah satu program kerja 100 hari pertama Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo diharapkan bisa menjadi acuan pengambilan kebijakan pangan yang akurat," kata peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania di Jakarta, Senin.

Menurut dia, data tunggal hasil sinkronisasi tersebut diharapkan juga akan bisa menyelesaikan perbedaan data pangan yang kerap terjadi.

Ia mencontohkan, dalam rangka mengimpor suatu komoditas, data pangan yang tersinkronisasi dapat memperlihatkan apakah impor memang diperlukan atau tidak.

"Diharapkan data tunggal pangan ini dapat membantu proses itu, selama ini keputusan kerap terhambat karena setiap kementerian memiliki data masing-masing yang saling klaim bahwa impor mungkin saja tidak diperlukan. Prokontra soal impor atau tidak dan juga kapan waktu impor yang ideal diharapkan bisa selesai dengan informasi yang akurat dan terus diperbaharui,” ungkap Galuh.

Terkait koordinasi antarkementerian dalam sektor pangan, Kementerian Pertanian diwartakan bakal melakukan kerja sama dengan Kementerian Perhubungan dalam rangka mempercepat distribusi pangan melalui udara, terutama cabai.

"Kami sudah sepakat untuk membicarakan dengan Kementerian Perhubungan dan lembaga lain yang bisa memfasilitasi," ujar Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.

Ia mengakui terjadi kenaikan harga cabai di sejumlah daerah akibat keterlambatan masa tanam karena cuaca sehingga membuat pasokan di pasaran menjadi berkurang dan mengakibatkan harga cabai merangkak naik.

"Kalau cabai agak naik sekarang itu karena cuaca, kalau di pertanian faktor cuaca sangat menentukan, itu juga yang membuat kita terjadi delay panen karena delay tanam," katanya.

Kendati demikian, menurut Mentan, di beberapa wilayah lain seperti Sulawesi dan Kalimantan mengalami panen cabai sehingga pasokan berlebih. Pihaknya bakal mendistribusikan cabai ke sejumlah daerah yang kurang pasokan.

Selain itu, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto dan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo memastikan harga dan persediaan pangan di awal tahun 2020 masih stabil.

"Kami melihat kestabilan harga dan pasokan, dan memastikan harga-harganya di sini cukup stabil, walaupun ada kenaikan sedikit," ujar Menteri Perdagangan Agus Suparmanto saat menyambangi Pasar Senen, Jakarta Pusat, Senin.

Dalam kesempatan itu, Mendag dan Mentan juga meninjau langsung ke area dalam pasar untuk mengecek harga dan pasokan pangan seperti daging ayam, beras, hingga bawang putih.

Terpantau, sejumlah harga pangan di pasar Senen, Jakarta Pusat seperti harga daging sapi lokal di pasar Senen, Jakarta Pusat berada di kisaran Rp110.000-Rp120.000 per kilogram, daging ayam mulai dari Rp37.000 hingga Rp45.000 per kilogram.

Selain itu, harga beras premium Rp12.000 per kilogram, telur ayam ras Rp21.000 per kilogram, dan bawang putih berkisar Rp45.000-Rp50.000 per kilogram.

Baca juga: Menko Airlangga harapkan data pangan terbaru dapat digunakan 2020
Baca juga: Kementan-BPS sepakat tuntaskan data padi seragam 100 hari

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Bawaslu siapkan panwas dalam sinkronisasi data pemilih

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar