Bahana Sekuritas: Sentimen corona terhadap pasar saham mulai terbatas

Bahana Sekuritas: Sentimen corona terhadap pasar saham mulai terbatas

Dokumentasi - Direktur Utama Bahana Sekuritas Feb Sumandar (tengah), Kepala Riset Bahana Sekuritas Lucky Arisandi (kiri), dan ekonom Bahana Sekuritas Putera Satria saat diskusi dengan awak media di Jakarta. ANTARA/Citro Atmoko/am.

Langkah-langkah pencegahan serta gerak cepat pemerintah melakukan observasi terhadap sejumlah orang yang diduga terjangkiti, membuat sentimen virus ini terhadap pasar saham mulai terbatas
Jakarta (ANTARA) - Bahana Sekuritas menilai bahwa sentimen virus corona terhadap pasar saham di dalam negeri mulai terbatas seiring langkah cepat pemerintah mencegah penyebarannya.

"Langkah-langkah pencegahan serta gerak cepat pemerintah melakukan observasi terhadap sejumlah orang yang diduga terjangkiti, membuat sentimen virus ini terhadap pasar saham mulai terbatas," kata Kepala Riset Bahana Sekuritas Lucky Ariesandi dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa.

Ia menambahkan bila melihat pengalaman di masa lalu ketika terjadi penyebaran virus SARS pada 2003 dan Flu Burung selama 2005-2007, tidak ada dampaknya baik bagi pasar saham maupun obligasi.

"Kami percaya hal yang sama juga akan terjadi," ujarnya.

Ia mengakui penyebaran virus corona yang begitu cepat sempat membuat sejumlah investor "wait and see" terhadap penyebarannya di Indonesia sehingga memicu Indeks harga saham gabungan (IHSG) cenderung terkoreksi.

"Dengan koreksi saham yang telah terjadi, sekarang adalah saat yang tepat untuk kembali masuk ke pasar saham dengan nilai valuasi yang wajar," kata Lucky Ariesandi.

Namun, ia memberikan catatan bahwa virus yang bermula dari Wuhan itu memang akan mempengaruhi komoditas global karena China adalah importir terbesar untuk batubara, nikel, tembaga, importir terbesar kedua untuk gas dan emas, serta importir terbesar ketiga untuk CPO.

Sehingga lanjut dia, bila penyebaran virus ini berkepanjangan, akan berpengaruh terhadap harga komoditas itu, juga bagi ekspor Indonesia yang sekitar 30 persen adalah kontribusi dari ekpor non-migas.

Sedangkan dampaknya bagi impor Indonesia, menurut Lucky, tidak akan besar karena perusahaan besar yang berada di Hubei yang terkait dengan Indonesia, seperti Yangtze Optical Fible and Cable (YOFC) dan Xiaomi, telah memiliki fasilitas perakitan di Indonesia.

"Sebenarnya pandemic virus ini bisa menjadi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan produksi karena kompetisi dari China berkurang terutama untuk baja dan serat optik," katanya.

Baca juga: Pemerintah Indonesia larang impor hewan hidup dari China

Baca juga: Dampak ekonomi virus corona di China diyakini tak berlangsung lama

 

Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kabaharkam Polri apresiasi keberadaan kampung tangguh Sitiarjo

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar