Bincang-bincang bersama juara MasterChef Australia Diana Chan

Bincang-bincang bersama juara MasterChef Australia Diana Chan

Pemenang Masterchef Australia Musim 9 Diana Chan memamerkan gado-gado buatannya di kapal pesiar Sapphire Princess (20/1/2020) (ANTARA/Nanien Yuniar)

Jakarta (ANTARA) - Diana Chan, pemenang MasterChef Australia musim 9, pertama kali jatuh cinta pada dunia memasak sejak kecil. Kedua orangtua serta kakaknya sama-sama suka berkutat di dapur dan meracik makanan lezat. Hobi itu menular kepada Diana. Ayah dan ibu menjadi guru memasak pertamanya.

Apa masakan pertamamu?
Pai apel. Waktu itu saya masih berusia sembilan tahun. Rasanya bangga sekali membuat pai apel, tapi mungkin kalau sekarang saya coba, enggak seenak itu ya (tertawa).

Diana kini menetap di Melbourne, Australia. Dia mengikuti kompetisi memasak MasterChef musim 9 dan keluar menjadi juara. Kompetisi tersebut merupakan pengalaman berkesan karena semua orang saling mendukung satu sama lain tanpa ada bumbu drama yang tak perlu.

Pengalaman ikut MasterChef di Australia sebagai orang Malaysia?
Menurutku jadi orang dengan keturunan Asia jadi kelebihan saat mengikuti acara Barat karena orang Australia suka dengan rasa Asia. Kita bisa membawa rasa Asia.

Diana memadukan rasa Asia dengan bahan-bahan makanan Australia yang berkualitas. Makanan laut dan daging sapi Australia dikombinasikan dengan bumbu ala masakan Asia. Dua dekade lalu, mungkin cukup sulit mencari bahan-bahan untuk meracik masakan Asia di Australia. Tapi kini semuanya berbeda. Dia optimistis makanan Asia akan semakin populer di dunia.

Menurutmu bagaimana masa depan makanan Asia?
Makanan China, Thailand, Vietnam sudah mulai (semakin dikenal). Makanan Singapura, Malaysia, Indonesia masih belum seterkenal itu di mancanegara, tapi sudah menuju ke sana... Saya rasa makanan Asia akan semakin terkenal. Begitu orang mencoba makanan kita, akan sulit balik lagi ketika mereka sudah terpincut pedasnya cabe.
 

Hal terpenting dari sebuah makanan?
Di industri ini, saya jadi lebih terbuka bagaimana etika mempersiapkan makanan. Yang penting adalah meminimalisasikan sampah makanan demi berkontribusi buat lingkungan. Saya jadi memahami saat masak sesuatu sebisa mungkin jangan mubazir. Saat pesan makanan, sesuai kebutuhan saja. Sekarang ada kesadaran orang-orang jadi vegan dan vegetarian, saya setuju itu. Tapi saya juga suka kalau kita menggunakan sebuah bahan semaksimal mungkin. Misalnya ayam, kita pakai semuanya, sampai ke tulang-tulangnya untuk membuat kaldu.

Kamu suka makanan Indonesia juga ya?
Iya, saya suka masakan Indonesia karena saya kan dari Malaysia, saya suka makanan seperti nasi Padang. Jadi paduan nasi dan lauk mengingatkan saya pada makanan Malaysia yang mirip sama Indonesia. Saya juga suka cabe, makanan Indonesia kan pedas. Saya juga suka aneka sambal.

Diana mempraktikkan resep gado-gado versinya sendiri di hadapan wartawan Indonesia dalam perjalanan di atas kapal pesiar Sapphire Princess dari Singapura ke Malaysia pada akhir Januari 2020. Diana mengenang pengalaman pertamanya mencicipi gado-gado di Indonesia.

Ceritakan dong kali pertamamu makan gado-gado!
Pertama kali makan gado-gado itu pas saya ke Bali... Saat itu saya makan di warung pinggir jalan. Saya pikir makanan ini oke dan sehat, saya bisa makan salad. Memang sehat sih kalau tidak pakai saus (kacang). Gado-gado ini enak dan seimbang, kau mau apa saja ada di sini, sayuran, telur, semua ada.
 

Baca juga: Resep gado-gado ala juara Masterchef Australia Diana Chan

Baca juga: Chef Arnold "Masterchef Indonesia" perkenalkan "cheesecake" Ala australia

Baca juga: Aneka sajian di kapal pesiar, prasmanan hingga restoran mewah

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Harga Bawang Bombai melonjak pengusaha kuliner beralih ke bawang lokal

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar