Pengembangan pariwisata diharapkan jangan istimewakan daerah tertentu

Pengembangan pariwisata diharapkan jangan istimewakan daerah tertentu

Sejumlah wisatawan mengabadikan suasanai matahari terbenam (sunset) di kawasan wisata Bukit Silvia, Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT. Bukit Silvia merupakan salah satu kawasan wisata yang sering dipadati oleh wisatawan domestik dan mancanegara yang ingin menyaksikan sunset. ANTARA FOTO/Kornelis Kaha/foc.

Sudah saatnya perbaikan infrastruktur jalan dapat dibarengi penataan fasilitas transportasi umum ke lokasi wisata
Jakarta (ANTARA) - Pengembangan sektor pariwisata di berbagai daerah diharapkan jangan sampai mengistimewakan daerah tertentu karena berbagai kawasan Nusantara terkenal memiliki pesona kekayaan alam yang melimpah.

"Indonesia itu punya pesona kekayaan alam yang begitu luas bukan hanya di satu tempat saja, sehingga pemerintah harus adil jangan hanya memihak," kata Anggota Komisi V DPR RI Hasan Basri di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, bila pengembangan sektor pariwisata tidak diberlakukan secara adil dan merata maka ke depannya juga dapat menimbulkan berbagai kesenjangan yang sifatnya bisa berkepanjangan.

Politisi Partai Golkar itu mencontohkan bentuk kesenjangan yang ada antara lain adalah penggelontoran dana besar ke daerah pariwisata tertentu tetapi tidak ke lokasi lainnya.

Padahal, lanjutnya, lokasi lainnya juga bisa saja memiliki potensi kepariwisataan yang baik yang juga tidak kalah dengan daerah-daerah pariwisata di tempat berbeda.

Sebagaimana diwartakan, pengamat transportasi Unika Soegijapranata Djoko Setijowarno meminta pemerintah memperkuat akses transportasi umum ke berbagai lokasi pariwisata guna meningkatkan jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia.

"Kelemahan menuju akses wisata di Indonesia adalah kurang sekali tersedianya fasilitas transportasi umum," kata Djoko Setijowarno.

Menurut dia, para pelancong harus membawa kendaraan pribadi yang akhirnya berujung kemacetan, dan pengusaha pengelola destinasi wisata harus menyediakan lahan parkir yang luas.

Djoko yang juga Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) itu menuturkan, di sejumlah negara, transportasi umum menuju destinasi wisata ada beberapa pilihan seperti kereta, bus, atau taksi.

"Sudah saatnya perbaikan infrastruktur jalan dapat dibarengi penataan fasilitas transportasi umum ke lokasi wisata," katanya.

Sementara itu, Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR menyatakan pihaknya mendukung kawasan pariwisata nasional prioritas (KSPN) melalui penyediaan jaringan jalan nasional.

Selama 2015 hingga 2019, kegiatan pembangunan jalan baik baru maupun penambahan telah dilakukan untuk mendukung enam dari 10 KSPN unggulan, yaitu Danau Toba, Borobodur, Labuan Bajo, Tanjung Kelayang, Bromo-Tengger-Semeru, dan Morotai.

Sebelumnya, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyatakan bakal terus mengembangkan pariwisata digital (digital tourism) untuk menarik wisatawan, termasuk mancanegara, berlibur ke Indonesia.

"Untuk pengembangan pasar, akan dilakukan pengembangan digital tourism dalam menarik minat wisman dengan cara menyesuaikan minat dan profil target wisatawan dengan produk dan destinasi yang ingin dipasarkan," kata Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Angela Tanoesoedibjo.

Angela menuturkan efektivitas promosi juga akan ditingkatkan di masing-masing negara tujuan dengan mengadakan familirization trip oleh para influencer media sosial. Selanjutnya, kerja sama dimungkinkan dengan platform traveler online yang sudah memiliki pangsa pasar besar.

Baca juga: PT PP ikut andil bangun kawasan pariwisata di Labuan Bajo
Baca juga: Kemenhub dukung konektivitas kawasan pariwisata nasional

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Normal Baru, BI minta wisatawan di Bali bertransaksi nontunai

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar