Untuk tekan harga, cabai dari Sulawesi Selatan diterbangkan ke Jakarta

Untuk tekan harga, cabai dari Sulawesi Selatan diterbangkan ke Jakarta

Pedagang membereskan cabai yang dijualnya di Pasar Senen, Jakarta, Senin (1/2/2020). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/foc.

Jakarta (ANTARA) - Mahalnya harga cabai di DKI Jakarta karena pasokan dari sentra-sentra produksi komoditas tersebut di Pulau Jawa ke Pasar Induk Kramat Jati berkurang.

Kekurangan tersebut, kata Manajer Toko Tani Indonesia Center (TTIC) Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Inti Pratiwi, Jumat, karena sebagian besar cabai dipasok dari wilayah Jawa, sementara panen cabai di Jawa menurun akibat cuaca.

Inti mengatakan, pemerintah berupaya memasok cabai dari luar Pulau Jawa untuk memenuhi kebutuhan cabai di wilayah DKI Jakarta sejak dua pekan yang lalu.

Pemerintah menemukan sumber panen cabai di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Panen di kabupaten itu menyuplai kebutuhan cabai di Pasar Induk Kramat Jati untuk menyetabilkan harga.

Pasokan dari Kabupaten Wajo mampu memenuhi kebutuhan stok cabai di Pasar Kramat Jati yang membutuhkan rerata 20 ton per hari untuk cabai rawit merah.

"Hari ini sudah pengiriman yang ke delapan kali, sekali kirim kita pasok 10 hingga 12 ton per hari," kata Inti.

Baca juga: Operasi pasar untuk stabilkan harga cabai di Jakarta Selatan
Petugas dari Sudin KPKP Jakarta Selatan memperlihatkan stok cabai rawit merah yang tersisa dari kegiatan operasi pasar cabai murah di wilayah Jakarta Selatan, Jumat (7/2/2020) (ANTARA/HO-Sudin KPKP Jakarta Selatan)
Cabai tersebut langsung dibeli dari petani di Kabupaten Wajo dan dikirim langsung ke Jakarta menggunakan penerbangan yang biayanya pengiriman udara ditanggung oleh negara.

"Sehingga dalam hitungan hari cabai sudah masuk ke Pasar Induk Kramat Jati, hari ini dipesan hari itu juga sampai," kata Inti.

Dengan upaya yang dilakukan oleh pemerintah membiayai pengiriman cabai dari Wajo ke Kramat Jati hendaknya pedagang dapat menjual cabai dengan harga yang lebih ramah bagi masyarakat.

"Pedagang hendaknya mengambil untung dengan wajar, jika masih menjual dengan harga tidak wajar, kami akan rekomendasikan satgas  turun," kata Inti.

Setelah dilakukan operasi pasar di tiga pasar di Jakarta Selatan dan dua pasar induk lainnya, yakni Kramat Jati dan Pasar Cijantung, harga cabai berangsur turun.

Baca juga: Sekda DKI segera cek penyebab harga cabai naik
Manajer Toko Tani Indonesia Center (TTIC) Badan Ketahanan Pangan Inti Pratiwi (kanan) berserta staf meninjau harga cabai di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (7/2/2020) (ANTARA/HO-TTIC Badan Ketahanan Pangan)

Berdasarkan informasi aplikasi Harga Pangan Jakarta, harga jual tiga komoditas tersebut di sejumlah pasar di DKI Jakarta, yakni cabai merah keriting saat ini Rp67.702 per kg, cabai rawit merah Rp88.191 per kg, bawang putih Rp 54.234 per kilogram (kg).

Sejumlah pedagang di sedikitnya terdapat tiga pasar tradisional di wilayah Jakarta Selatan kedapatan menjual cabai dengan harga tinggi, yakni mencapai Rp100 ribu. Padahal harga cabai di Pasar Induk Kramat Jati sudah turun, berkisar antara Rp45 ribu hingga Rp50 ribu per kg.

Ketiga pasar yang dimaksud, yakni Pasar Minggu, Pasar Pondok Labu dan Pasar Kebayoran Lama. "Untuk menekan harga cabai di tiga pasar tersebut kami melakukan 'treatment' (perlakuan khusus), salah satunya dengan operasi pasar cabai murah," kata Inti.

Inti mengatakan sudah satu minggu lebih harga cabai di Pasar Induk Kramat Jati turun dari Rp 72 ribu per kg menjadi Rp45 ribu hingga Rp50 ribu per kg setelah dilakukan operasi pasar (op) cabai murah.

Baca juga: Pasar Induk Kramat Jati sediakan 233 ton bawang dan cabai
Pedagang menata cabai yang dijual di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (27/1/2020). Bank Indonesia memperkirakan inflasi Januari akan mencapai 0,42 persen berdasarkan hasil survei pemantauan harga (SPH) hingga minggu keempat bulan ini, hal tersebut karena faktor naiknya harga sejumlah komoditas pertanian seperti cabai merah, bawang merah, beras, dan beberapa sayuran karena dampak musim penghujan yang berpengaruh pada panen. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aa. (ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)
Jika harga jual di Rp45 ribu hingga Rp50 ribu di tingkat pasar induk, maka harga cabai tingkat pengecer di pasar tradisional dapat ditekan. Tidak lagi mencapai Rp100 ribu, bisa berkisar antara Rp75 ribu hingga Rp80 ribu per kg.

Setelah harga cabai di Pasar Induk Kramat Jati berhasil ditekan, sejumlah pasar mulai menurunkan harga. Namun terdapat sejumlah pedagang di tiga pasar di Jakarta Selatan itu kedapatan masih menjual dengan harga mencapai Rp100 ribu.

Saat dilakukan pengecekan di ketiga pasar tersebut, para pedagang mengaku membeli cabai dari Pasar Induk Kramat Jati dengan harga Rp45 ribu hingga Rp50 ribu. Namun pedagang masih menjual dengan margin (keuntungan) lebih tinggi sehingga kondisi tersebut menjadi temuan oleh TTIC Badan Ketahanan Pangan.

"Jika ini terus terjadi, kami bisa menurunkan Satgas Pangan untuk menindak pedagang yang masih 'nakal'," kata Inti.

Terhadap temuan tersebut, TTIC Badan Ketahanan Pangan melakukan operasi pasar dan mengingatkan kepada para pedagang agar menjual harga yang wajar kepada masyarakat, mengingat pemerintah sudah melakukan upaya untuk menyetabilkan harga cabai.
Baca juga: Cabai sebabkan deflasi DKI Jakarta di September 2019

Pewarta: Laily Rahmawaty
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kilas NusAntara Siang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar