BPS : Pertumbuhan ekonomi Sumbar 2019 alami perlambatan

BPS : Pertumbuhan ekonomi Sumbar 2019 alami perlambatan

Foto udara objek wisata Linggai Park yang baru selesai dibangun, di tepi Danau Maninjau, Kab. Agam, Sumatera Barat. BI Sumbar menilai sektor pariwisata bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru ke depan. ANTARA/Iggoy El Fitra

Pertama harus ada peta jalan pengembangan pariwisata Sumbar
Padang, (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat mencatat pertumbuhan ekonomi Sumbar mengalami perlambatan pada 2019, yakni hanya tumbuh 5,05 persen atau mengalami penurunan dibandingkan 2018 yang tumbuh 5,16 persen.

"Dari sisi produksi, kinerja lapangan usaha pertanian menjadi penyumbang terbesar ekonomi Sumbar 2019 kendati tumbuh melambat hanya 2,63 persen atau turun dibanding 2018 yang tumbuh 3,54 persen," kata Kepala BPS Sumbar Pitono di Padang, Sabtu.

Menurut dia, lapangan usaha informasi dan komunikasi menjadi sektor yang paling tinggi pertumbuhannya yaitu 8,75 persen diikuti konstruksi 8,42 persen, serta akomodasi, makan dan minum 8,11 persen.

Struktur perekonomian Sumatera Barat (Sumbar) menurut lapangan usaha didominasi oleh tiga bidang yaitu pertanian, kehutanan dan perikanan 22,17 persen, perdagangan besar, eceran dan reparasi mobil sepeda motor 15,80 persen, serta transportasi pergudangan 12,60 persen.

Dari sisi pengeluaran pertumbuhan ekonomi Sumbar 2019 terjadi pada komponen pengeluaran Lembaga Non Profit Rumah Tangga sebesar 11,85 persen serta konsumsi pemerintah 5,10 persen, dan pembentukan modal tetap bruto 4,96 persen.

Tingginya pengeluaran pada pengeluaran konsumsi rumah tangga ditenggarai karena ada pelaksanaan pemilu legislatif dan presiden pada 2019, ujarnya.

Sebelumnya Bank Indonesia menilai Sumatera Barat menilai sektor pariwisata bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di provinsi itu .

Sumbar memiliki modal kuat untuk mengembangkan pariwisata sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru, kata Kepala BI perwakilan Sumbar Wahyu Purnama.

Menurut dia, hal itu dibuktikan dari berbagai penghargaan yang diraih di tingkat intenasional seperti World Best Halal Culinary Destination dan Best Halal Destination.

Ia menilai pesona alam Ranah Minang yang masih asri dengan nilai budaya yang kental juga menjadi daya tarik kuat di kalangan wisatawan domestik maupun mancanegara.

"Selain itu didukung oleh kuliner lezat yang juga terkenal seperti rendang," kata dia.

Tidak hanya itu di Mentawai ombaknya dikenal sebagai terbaik untuk berselancar di kalangan wisatawan asing.

Kemudian untuk infrastruktur secara umum kondisi jalan 82 persen masuk kategori baik dan saat ini sedang dilakukan pembenahan infrastruktur penunjang lainnya, kata dia.

Ia menyampaikan saat ini sedang dibangun kembali Pasar Atas Bukittinggi, pedesterian di Padang hingga perluasan ruang tunggu di Bandara Minangkabau.

Akan tetapi ia menyarankan agar modal tersebut perlu dioptimalkan melalui sinergi dan kerja sama yang kuat.

"Pertama harus ada peta jalan pengembangan pariwisata Sumbar," kata dia.

Terkait dengan tingginya kunjungan wisatawan asal Malaysia perlu dicari tahu apa kebutuhan mereka dan disediakan sebaik mungkin, katanya.

Kemudian karena ada label wisata halal objek wisata perlu memperhatikan kebersihan, menyediakan tempat shalat yang nyaman.

Baca juga: BPS catat turis Malaysia dominasi kunjungan wisman ke Sumbar

Baca juga: BPS: Indeks tendensi konsumen di Sumatera Barat menguat

Baca juga: BPS Sumbar : rokok jadi penyumbang kemiskinan

Baca juga: BPS : sarjana dominasi pengangguran di Sumbar

 

Pewarta: Ikhwan Wahyudi
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Produksi industri manufaktur besar dan sedang Sumbar terus menurun

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar