Peredaran tembakau gorila Jakarta-Surabaya dikendalikan narapidana

Peredaran tembakau gorila Jakarta-Surabaya dikendalikan narapidana

Tembakau gorila yang berhasil diamankan Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Metro Jaya dalam pengungkapan peredaran narkoba jenis ganja sintetis atau tembakau gorila jaringan Jakarta-Surabaya. ANTARA/Fianda Rassat

Jakarta (ANTARA) - Penyidik Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Metro Jaya mengemukakan, peredaran narkoba jenis ganja sintetis atau tembakau gorila jaringan Jakarta-Surabaya dikendalikan oleh narapidana yang berada di balik jeruji besi.

"Yang mengendalikan ini adalah napi dari dalam sel dan dia masuk pada tahun 2018 untuk kasus yang sama," kata Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Herry Heryawan saat dikonfirmasi, Minggu.

Saat ditanya mengenai lembaga pemasyarakatan yang menjadi tempat narapidana tersebut menjalani hukumannya, Herry hanya menyebutkan lapas tersebut berada di Jawa Tengah. "Salah satu lapas di Jawa Tengah," ujarnya singkat.

Baca juga: Polisi bongkar jaringan pengedar ganja sintetis Surabaya-Jakarta

Dikonfirmasi terpisah, Kepada Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Yusri Yunus mengatakan, Kepolisian sedang mengejar satu buronan dalam kasus tersebut.

"Ada satu DPO inisialnya L, ini masih kita lakukan pengejaran. Mudah-mudahan bisa segera kita ungkap," kata Yusri.

Dalam pengungkapan kasus narkotika jenis ganja sintetis atau tembakau gorila jaringan Surabaya-Jakarta itu, Kepolisian telah meringkus 13 tersangka.

Para tersangka itu diketahui berinisial RS, MT, FB, PRY, MA, IL, RD, AR, MN, WA, RT, ARN, NH dan RTF. Ke-13 tersangka ini ditangkap di sejumlah lokasi berbeda di Jakarta dan Surabaya.

Baca juga: Polda Metro Jaya tangkap 13 tersangka kasus tembakau gorila

Polda Metro Jaya bongkar jaringan produsen dan pengedar ganja sintetis atau tembakau gorila jaringan Jakarta-Surabaya. Dalam penungkapan tersebut 13 tersangka berhasil diamankan. ANTARA/Fianda Rassat/am.
Selain menangkap para tersangka tersebut, polisi juga mengungkap pabrik tembakau gorila yang berada di Apartemen High Point di Surabaya (Jawa Timur).

Di lokasi tersebut, penyidik Polda Metro Jaya mengamankan lebih dari 28 kilogram tembakau gorila siap edar.

"Di situ, di tempat mereka meracik ganja sintetis atau tembakau gorila kita amankan sekitar 28 kilogram atau 28.432 gram tembakau gorila, sudah kita amankan," tutur Yusri.

Baca juga: Polisi sebut pengedar narkoba banyak manfaatkan media sosial

Polda Metro Jaya bongkar jaringan produsen dan pengedar ganja sintetis atau tembakau gorila jaringan Jakarta-Surabaya. Dalam penungkapan tersebut 13 tersangka berhasil diamankan. ANTARA/Fianda Rassat
Yusri menjelaskan, tembakau gorila adalah tembakau yang dicampur dengan berbagai bahan kimia yang berbahaya. Efeknya sangat merusak, bahkan lebih parah dari ganja biasa.

Efek sampingnya paling utama dari tembakau gorila ini adalah membuat tidak sadar, kadang koma, kadang seperti zombie, mual-mual muntah, kejang-kejang serta nyeri dada.

"Yang paling parah adalah menimbulkan perilaku agresif serta gangguan perilaku yang sangat parah. Ini dampak dari tembakau gorila," ujarnya.

Akibat perbuatannya para tersangka ini dikenakan Pasal 114 ayat (2) subsider pasal 112 ayat (2) Juncto Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman pidana mati atau penjara seumur hidup atau paling lama 20 tahun.
Baca juga: Bahan utama pembuat tembakau gorila didatangkan dari China

Pewarta: Fianda Sjofjan Rassat
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Polda Riau tangkap oknum perwira polisi pembawa sabu

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar