Thermalscan diprediksi deteksi 20 persen corona, DKI perkuat Puskesmas

Thermalscan diprediksi deteksi 20 persen corona, DKI perkuat Puskesmas

Petugas keamanan berjaga di depan ruang isolasi Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Jakarta, Senin (27/1/2020). RSPI itu menyiapkan 11 kamar ruang isolasi ketat untuk mengantisipasi pasien 'suspect' virus corona. Sementara itu, Kementerian Kesehatan menunjuk sedikitnya 100 rumah sakit se-Indonesia untuk siaga terhadap penyebaran virus yang berasal dari Wuhan, China itu. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/wsj.

Jakarta (ANTARA) - Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti menyebutkan prediksi alat deteksi suhu tubuh (Thermal Scanner) hanya bisa mendeteksi 20 persen kemungkinan kasus terjangkit Virus Novel Corona (2019-nCoV) sehingga Pemprov DKI memperkuat pengawasan hingga tingkat Puskesmas.

"Kemudian di terminal-terminal pintu masuk Jakarta, kalau diprediksi hanya bisa mendeteksi 20 persen dari kemungkinan kasus. Karenanya penguatan kami adalah di fasilitas kesehatan hingga tingkat Puskesmas," kata Widyastuti di Balai Kota Jakarta, Senin.

Agak sulitnya mendeteksi kasus virus corona  kata Widyastuti, karena dalam kasus 2019-nCoV adanya masa inkubasi selama 14 hari, dari mulai masuknya kuman ke tubuh sampai sakit.

"Katakanlah dia baru datang dari satu negara terdampak, karena masa inkubasinya 14 hari, dia belum muncul sehingga ketika lewat thermal scanner enggak terdeteksi," kata dia.

Karena itu, kata Widyastuti, penguatan Dinkes DKI Jakarta adalah di semua fasilitas kesehatan mulai dari rumah sakit pemerintah maupun swasta, klinik, hingga Puskesmas dengan cara sosialisasi info virus vorona dan alur penemuannya.

Baca juga: Antisipasi corona, Dinkes jaga pintu masuk ke Jakarta

Harapannya, jika ada pasien yang datang dari negara terdampak virus vorona maka semakin mempertajam dan memperjelas anamnesis (proses komunikasi antara dokter dan pasien yang bertujuan mendapatkan informasi tentang penyakit yang diderita dan lainnya yang berkaitan.

Dengan demikian, dapat mengarahkan diagnosis penyakit) sehingga juga terdeteksi di fasilitas-fasilitas kesehatan.

"Harus kita yang siaga bukan hanya nunggu di bandara, tapi penguatan juga di lapangan," ucap dia.

Kendati demikian, DKI tetap bekerjasama untuk pengawasan pintu-pintu masuk ke Jakarta dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), Imigrasi dan pihak berwenang dengan melibatkan diri dalam "Public Health Emergency Operating Centre" (PHEOC).

"Selalu ada komunikasi antara kami dengan pihak-pihak yang berada di pelabuhan-pelabuhan," kata Widyastuti.
Baca juga: Dinkes DKI rekomendasikan tiga RS rujukan isolasi penderita corona

Pewarta: Ricky Prayoga
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Menjaga zona hijau Pulau Madura dengan 'drive-through'

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar