Peneliti pernah umumkan virus corona kelelawar menular manusia di 2017

Peneliti pernah umumkan virus corona kelelawar menular manusia di 2017

Petugas paramedis RS Sari Asih menunjukan bentuk virus Middle East Respiratory Syndrome-Corona Virus (MERS-CoV) lewat ponsel di Serang, Banten, Kamis (8/5). ANTARA/Asep Fathulrahman

kalau surveinya dilakukan lebih intens, mungkin saja tidak hanya ketemu coronavirus
Jakarta (ANTARA) - Pakar mikrobiologi dan virologi pada hewan Joko Pamungkas mengatakan peneliti China pernah mempublikasikan virus corona dari kelelawar yang berpotensi menulari manusia pada tahun 2017 dan 2019.

"Di China sebenarnya 2017 sudah publikasikan, peneliti yang mendapatkan ada bat coronavirus yang diketahui memiliki reseptor sama yang ada pada manusia," kata Joko di Jakarta, Rabu.

Dia menerangkan bahwa virus corona memiliki ratusan jenis yang terdapat pada berbagai macam hewan seperti kelelawar, musang, kucing, anjing, sapi, babi, ayam, dan lainnya. Namun tidak seluruh virus corona tersebut dapat menular ke manusia.

Baca juga: Pakar: Hilangnya habitat satwa liar sebabkan virus tertular ke manusia
Baca juga: Kecil kemungkinan WNI yang diobservasi di Natuna terinfeksi COVID-19


Syarat virus corona dapat menular dari hewan ke manusia adalah di mana virus corona yang terdapat pada hewan itu memiliki reseptor yang sama dengan reseptor yang ada pada manusia.

Joko mengatakan peneliti di China memiliki jauh lebih banyak sampel virus pada hewan dan memiliki surveilans yang lebih sering dilakukan setiap tahunnya.

Sehingga pada 2019 ada peneliti di China yang mempublikasikan penelitian ilmiahnya di Journal Biosafety and Health yaitu mengidentifikasi virus corona dari kelelawar yang jika disandingkan dengan virus corona COVID-19 saat ini memiliki perilaku genetik tiga yang sangat dekat.

Baca juga: Seluruh WNI di kapal pesiar Diamond Cruise dinyatakan sehat
Baca juga: Kominfo identifikasi 86 hoaks virus corona


Namun memang penelitian yang dipublikasikan di 2019 tersebut bukan dilakukan di Wuhan, melainkan di China bagian selatan. Namun dia menerangkan bahwa kelelawar bisa menempuh perjalanan hingga 100 kilometer dalam satu malam untuk mencari makan, meski rara-rata daya jelajahnya 30 kilometer.

Joko yang juga melakukan penelitian terhadap virus yang ada pada kelelawar mengungkapkan timnya juga pernah menemukan adanya virus corona pada kelelawar yang ditelitinya. Namun hasil penelitian virus corona tersebut berbeda jauh dengan kasus COVID-19.

Kendati demikian Joko tidak berani mengatakan tidak mengenai kemungkinan munculnya virus corona dari kelelawar yang bisa menulari manusia di Indonesia. Mengingat Indonesia juga memiliki banyak jenis kelelawar yang hidup di hutan maupun gua-gua di Indonesia.

Baca juga: Lembaga Eijkman: Indonesia mampu deteksi virus corona
Baca juga: RSUP Sanglah adakan simulasi penanganan pasien yang dicurigai corona


Dia beralasan penelitian yang dilakukan oleh timnya baru dalam tingkat yang kecil yaitu di Sulawesi Utara dan dengan mengambil sampel yang tidak banyak. Joko mengatakan terdapat kemungkinan satwa liar lain memiliki virus yang dapat menulari manusia.

"Kalau surveinya dilakukan lebih intens, mungkin saja tidak hanya ketemu coronavirus ya, tapi mungkin virus lain yang memiliki potensi berbahaya pada manusia," kata Joko.

Oleh karena itu disarankan agar manusia tidak mengganggu populasi ataupun merusak habitat satwa liar agar hewan tersebut tidak masuk ke wilayah penduduk dan menulari virus.

Baca juga: Sabang akan tunda kedatangan kapal pesiar, antisipasi Virus Corona
Baca juga: 47 orang positif virus corona di Negeri SingaBaca juga: Ini dia sembilan langkah antisipasif terkait COVIC-19 di Jawa Barat


Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020

KPU mutakhirkan data pemilih pilkada 2020 dengan Gerakan Coklit Serentak

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar