Laporan dari Kuala Lumpur

Mahathir bimbang tidak ada pembatasan bahan bacaan digital

Mahathir bimbang tidak ada pembatasan bahan bacaan digital

Mahathir yang juga merangkap Menteri Pendidikan Malaysia menghadiri peringatan Dekade Membaca Kebangsaan di Dewan Canselor Tun Abdul Razak, Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). Foto ANTARA/FB Mahathir (1)

Disinilah letaknya tantangan bahan bacaan hari ini untuk membedakan yang benar dan yang palsu, yang diproduksi melalui penelitian dan yang diciptakan secara picisan
Kuala Lumpur (ANTARA) - Perdana Menteri Malaysia Tun Dr Mahathir Mohamad mengaku bimbang dengan sumber bacaan pada era digital yang tidak ada pembatasan sehingga menjadi sarana untuk menyebarkan berita palsu (fake news).

"Yang membimbangkan ialah sumber bacaan dalam era digital begitu banyak tanpa batasan sehingga ia menjadi gelanggang untuk menyebar berita palsu 'fake news' dan lain-lain konten yang merusak masyarakat," ujar Mahathir di Kuala Lumpur, Kamis.

Mahathir yang juga merangkap Menteri Pendidikan Malaysia mengemukakan hal itu pada peringatan Dekade Membaca Kebangsaan di Dewan Canselor Tun Abdul Razak, Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM).

"Salah satu tantangan yang kita hadapi hari ini untuk menggalakkan budaya membaca ialah pengaruh digital atas masyarakat. Pengaruh digital ke pada masyarakat begitu besar sehingga sumber bacaan tradisional seperti surat khabar dan buku-buku semakin tersingkir," katanya.

Mahathir mengatakan banyak surat kabar terpaksa gulung tikar karena penjualan merosot manakala buku-buku hanya tersimpan di perpustakaan atau di atas rak.

"Namun begitu, ini tidak bermakna rakyat sudah berhenti membaca. Yang berubah ialah sumber bacaan. Malahan, hari ini hampir semua koran mempunyai versi digital dan buku-buku juga diterbitkan secara digital," katanya.

Dari segi tersebut, ujar dia, membaca masih kekal atau abadi sebagai satu budaya.

"Disinilah letaknya tantangan bahan bacaan hari ini untuk membedakan yang benar dan yang palsu, yang diproduksi melalui penelitian dan yang diciptakan secara picisan," katanya.

Mahathir mengatakan peresmian acara kali ini untuk memperlihatkan kesungguhan pihak pemerintah untuk menjadikan kebiasaan membaca menjadi suatu budaya yang bertujuan untuk membentuk satu masyarakat yang berpengetahuan, berilmu dan informatif.

"Budaya membaca sebagai suatu kebiasaan adalah dasar memperoleh dan pengukuhan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan pula merupakan dasar pembangunan diri manusia," katanya.

Artinya, ujar Mahathir, melalui kebiasaan membaca seseorang bukan saja kaya dengan pelbagai ilmu pengetahuan bahkan bisa menyampaikan ilmu pengetahuan tersebut dengan baik dan efektif.

Baca juga: Perpustakaan Nasional katakan kegemaran membaca masyarakat meningkat

Baca juga: Praktisi pendidikan: Masih banyak guru malas membaca

Pewarta: Agus Setiawan
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Indonesia - Malaysia bersatu lawan diskriminasi sawit

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar