Mahasiswa asal Palangka Raya masih bertahan di Harbin China

Mahasiswa asal Palangka Raya masih bertahan di Harbin China

Ainun Hasanah, Mahasiswa asal Palangka Raya, yang tengah belajar di Northeast Forestry University, jurusan Perencanaan Kota dan Desa melakukan aktivitas sehari-hari di dapur asrama kampusnya, Kamis (13/2/2020). (HO/Dokumentasi pribadi)

Palangka Raya (ANTARA) - Mahasiswa asal Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah, Ainun Hasana yang sedang menimba ilmu di Harbin, salah satu kota di China memilih bertahan di tengah merebaknya wabah virus corona yang sudah meluas sampai ke negara lain.

Ainun Hasana yang tengah belajar di Northeast Forestry University, jurusan Perencanaan Kota dan Desa kepada ANTARA di Palangka Raya, Kamis mengaku masih merasa aman berada di asrama kampus tersebut.

"Disini saya merasa aman karena pihak kampus memberikan perhatian lebih pada mahasiswa internasional, jika ingin kembali ke Indonesia pun risiko diperjalanan cukup jadi pertimbangan karena harus berinteraksi dengan orang yang bisa saja terinfeksi virus corona," kata Ainun.

Wanita berhijab itu mengatakan saat ini kampusnya memberikan fasilitas untuk pembelian bahan makanan secara kolektif dan diantarkan ke asrama. Selain itu, pembelian bahan makanan dengan cara online atau daring juga diperbolehkan, dengan catatan tidak terlalu sering. Hal ini untuk meminimalkan interaksi dengan orang luar.

"Meski demikian, dalam seminggu terakhir pihak kampus memperketat aturan sehingga asrama dikunci dan mahasiswa dilarang keluar kampus," kata Ainun saat berkomunikasi dengan ANTARA melalui aplikasi WhatsApp.

Baca juga: Dua mahasiswa NTB di Wuhan sudah dievakuasi ke Indonesia

Baca juga: Mahasiswa asal Sulsel di China sambut antusias rencana evakuasi

Baca juga: Mahasiswa asal Kalteng di China butuh masker dan makanan


Ia menambahkan selain itu kampus juga mewajibkan setiap mahasiswa mencuci tangan sebelum dan setelah menerima pesanan yang diantarkan ke asrama.

"Saat memasak makanan kami diwajibkan mengenakan masker dan maksimal hanya tiga orang yang boleh berada di dapur" kata dia.

Menurut Ainun saat ini ada sebanyak 19 mahasiswa asal Indonesia yang masih bertahan di Harbin, China.

Di sisi lain, dia mengatakan Pemerintah Indonesia sudah memberikan bantuan berupa masker, namun belum didistribusikan ke di Northeast Forestry University tempatnya berlajar.

"Bantuan masker belum kami terima karena masih tertahan di kampus lain. Sedangkan kami tidak diperbolehkan keluar asrama sehingga tidak bisa mengambil sendiri," katanya.
 
Suasana jalan di Harbin. (HO/Dokumentasi pribadi)


Ia menyatakan sudah melapor ke PPIT untuk disampaikan ke KBRI terkait pengiriman bantuan masker.

"Info yang saya dapat, KBRI segera menindaklanjuti pengiriman masker tersebut, selain masker kami juga berharap ada bantuan berupa stok bahan makanan dan obat-obatan berupa vitamin." katanya.

Menurut dia, suasana di Harbin yang berjarak 2.000 km lebih dari Wuhan menjadi sangat sepi, restoran juga banyak yang tutup. Warga keluar rumah hanya saat dalam keadaan mendesak.

"Evakuasi WNI hanya dilakukan di Wuhan, namun KBRI menghimbau bagi WNI yang berada di luar Wuhan boleh berlibur tetapi hanya di Indonesia. Untuk itu, kami yang berada di Harbin sifatnya rekomendasi, kalau mau pulang ke Indonesia bisa, mau bertahan di sini pun tidak dilarang," katanya.

Sementara itu, Legislator Republik Indonesia, Kurniasih Mufidayati yang tengah berada di Palangka Raya meminta pemerintah melindungi para pekerja migran di luar negeri dari ancaman mematikan Covid-19 yang berasal dari Wuhan, China.*

Baca juga: Orangtua mahasiswa yang kuliah di China harap bantuan dari pemerintah

Baca juga: Kondisi kesehatan mahasiswa Indonesia dipantau universitas di China

Baca juga: BNPB kirim 10.000 masker N95 untuk WNI di China

Pewarta: Rendhik Andika/Rini Andriani
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kantor Pos Palangka Raya salurkan BST kepada 4.128 keluarga

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar