PTPN XI ekspor daun tebu kering perdana ke Jepang

PTPN XI ekspor daun tebu kering perdana ke Jepang

Foto bersama usai pelepasan ekspor perdana "Daduk Sugar Cane Top" ke Jepang. ANTARA/HO PTPN XI/am.

potensi bahan baku cukup besar yakni kisaran 16 kuintal per hektare pada masa pemeliharaan dan 80 kuintal per hektare pada masa panen
Surabaya (ANTARA) - PT Perkebunan Nusantara XI bekerja sama dengan mitra bidang bisnis produksi dan perdagangan biomassa melakukan ekspor perdana "Daduk Sugar Cane Top" (SCT) atau daun tebu kering ke Jepang, Jumat.

Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara XI, Gede Meivera Utama Adnjana Putera, Jumat mengatakan, ekspor daun tebu kering adalah upaya perusahaan memanfaatkan peluang yang selama ini disia-siakan, bahkan berpotensi merusak lingkungan dengan membakar daun tebu kering atau daduk.

"Sementara kita juga tahu tanaman tebu dari pucuk sampai akar pasti ada manfaatnya," kata Gede dalam keterangan persnya yang diterima di Surabaya, usai acara pelepasan ekspor yang dilakukan di Pabrik Gula Djatiroto, Lumajang, Jawa Timur .

Baca juga: PTPN XI hasilkan 19 penelitian di bidang perkebunan


Ia mengatakan daduk tersebut dipasok dari kebun tebu milik PTPN XI, dan asumsi perolehan jumlah daduk sebanyak dua persen pada saat masa pemeliharaan (klentekan) dan 10 persen pada saat musim giling/panen dan protas sebesar 800 kuintal per hektare, maka potensi pasokan daduk diperkirakan sekitar 16 kuintal per ha pada masa pemeliharaan dan sekitar kuintal per ha pada masa panen.

"Ke depan akan kami kembangkan melalui inovasi-inovasi milineal PTPN XI terkait pengembangan pemanfaatan tanaman tebu selain bisnis inti yang sudah berjalan yakni gula," katanya.

"Sementara ini kita coba ekspor daduk, potensi bahan baku cukup besar yakni kisaran 16 kuintal per hektare pada masa pemeliharaan dan 80 kuintal per hektare pada masa panen, hasilnya cukup menjanjikan karena pendapatan yang tinggi, bahkan cukup untuk menutupi biaya kebun dan berpengaruh positif terhadap HPP kami," katanya.

Seperti diketahui, dalam fase pertumbuhan tanaman tebu dilakukan klentek pengupasan daun kering sebanyak dua kali dengan tujuan memperlancar sirkulasi udara dan proses fotosintesis, menaikkan rendemen, mencegah keluarnya akar pada ruas, mencegah kebakaran kebun tebu, serta mengurangi kelembaban hingga meringankan beban tanaman sehingga tidak mudah roboh.

Sebelumnya, daduk biasanya menjadi sampah dan kebanyakan dibakar langsung di lahan, karena dianggap sebagai pilihan paling praktis untuk persiapan lahan penanaman, hal ini berdampak pada pencemaran udara.

Baca juga: Gula produk PTPN XI bidik pasar Ramadhan


Dengan upaya ekspor dan tidak dilakukannya pembakaran daun tebu, bermanfaat mengurangi resiko ketidakseimbangan populasi fauna tanah dan mempertahankan kandungan bahan organik tanah.

Terpisah, Komisaris Utama PT Perkebunan Nusantara XI, Dedy Mawardi memberikan apresiasi atas inisiatif manajemen.

"Kami mengapresiasi kinerja direksi serta jajaran yang memanfaatkan daduk, selama ini dianggap sebagai sampah tebu menjadi memiliki keunggulan komparatif, terlebih untuk kepentingan ekspor ke Jepang, dalam artian juga mendukung program pemerintah dalam meningkatkan ekspor secara luas " ujar Dedy.

Direncanakan ekspor juga akan dilakukan berkala tergantung kesediaan bahan baku, mengikuti pekerjaan kebun yakni masa klentek dan panen.

"Sebagai awalan ekspor daduk ini sejumlah 17 ton, berasal dari lahan HGU PG Djatiroto. Bila mitra petani berminat maka akan kami kembangkan di wilayah lainnya. Ekspor akan mengikuti ketersediaan bahan baku yaitu sesuai pekerjaan kebun di antaranya masa klentek dan panen," katanya.

Sementara itu, kegunaan daduk di Jepang akan digunakan sebagai "soil conditioner" atau tambahan unsur hara untuk meningkatkan kualitas tanah dan mulsa, yakni menutup permukaan tanah guna menjaga kelembapan dan menghindari penguapan yang lebih tinggi, menghambat tumbuhan gulma hingga bila daduk tersebut lapuk akan menjadi pupuk organik penyedia unsur hara bagi tanah.

Baca juga: PLN dan PTPN X kerja sama jual beli listrik tenaga biomassa

 

Pewarta: A Malik Ibrahim
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar