Trauma hilang, anak korban bencana banjir di Lebak mulai bermain lagi

Trauma hilang, anak korban bencana banjir di Lebak mulai bermain lagi

Anak-anak korban bencana banjir bandang dan longsor di Kabupaten Lebak, Banten kini kembali bermain setelah trauma merasa ketakutan sudah hilang. (FOTO ANTARA/Mansyur Suryana).

Kami bersama teman-teman sudah mulai bisa melupakan kejadian bencana alam itu, meski saat ini masih tinggal di tenda pengungsian
Lebak, Banten (ANTARA) - Anak-anak korban bencana banjir bandang dan longsor di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten setelah sejak sebulan lebih dalam situasi sulit kini sudah kembali bermain karena rasa trauma merasa ketakutan sudah berangsur hilang.

"Kami bersama teman-teman sudah mulai bisa melupakan kejadian bencana alam itu, meski saat ini masih tinggal di tenda pengungsian," kata Nisa (11), warga Kampung Seupang, Desa Pajagan Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, Minggu.

Anak-anak yang tinggal di tenda pengungsian di Kampung Seupang, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak tampak bermain bersama.

Mereka bermain dengan teman-teman seusianya untuk mendatangi permukiman tempat kediaman dulu yang kini luluh lantak akibat diterjang banjir bandang.

Bahkan, kampung mereka itu bagaikan kampung mati karena sudah tidak ada penghuni.

Sebab, rumah-rumah di permukiman Kampung Seupang sebanyak 39 unit hilang dan rusak berat, termasuk tempat ibadah.

Saat ini, warga terpaksa tinggal di tenda pengungsian sambil menunggu relokasi ke tempat yang lebih aman dari ancaman bencana alam.

"Kami sekarang tinggal bersama keluarga di tenda pengungsian," kata Nisa yang duduk dibangku kelas VI SDN itu.

Ia mengatakan, dirinya kini bersama teman-teman setelah pulang sekolah kembali bermain ke Kampung Seupang karena masih terdapat pepohonan yang selamat dari banjir bandang tersebut.

Anak-anak itu bermain sambil memanjat pohon jambu, rambutan dan kelapa muda.

Selain itu, mereka  juga bersama-sama melakukan permainan tradisional, seperti petak umpet.

"Kami dan teman-teman sangat terhibur bermain itu, meski terjadi bencana alam yang mengakibatkan pakaian, peralatan sekolah dan uang hilang," katanya.

Begitu juga anak lainnya, Maryati (10) yang mengaku bahwa dirinya kini merasa terhibur dengan teman sekolah yang sama-sama terdampak bencana banjir bandang hingga kondisinya rumahnya hilang.

Saat ini, mereka anak-anak juga tinggal di tenda pengungsian dengan kondisi tidak layak hidup.

"Kami merasa terhibur dengan teman bermain ke kampung yang dulu, kami bermain ke persawahan dan juga kebun untuk menghindari rasa kejenuhan," katanya.

Sementara itu, Bubun, penanggung jawab pengungsian mengatakan saat ini anak-anak usia sekolah tercatat 80 orang dan mereka menerima pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mathlaul Anwar dan SMPN.

Anak-anak tersebut setelah pulang sekolah bermain sambil memanjat pohon maupun mencari ikan di sawah dan juga ke kebun untuk mencari buah-buahan.

Permainan anak-anak itu karena mereka sama-sama tinggal di tenda pengungsian.

"Kami mendorong anak-anak itu agar bermain sehingga terhibur dan melupakan rasa traumatik bencana alam yang mengakibatkan ratusan warga tinggal di pengungsian," demikian Bubun.

Baca juga: Anak-anak korban bencana di Lebak harus tetap belajar, kata Menko PMK

Baca juga: Kemenag Lebak pastikan anak-anak belajar usai bencana banjir bandang

Baca juga: Korban bencana banjir Lebak dibantu pakaian dalam dan anak

 

Pewarta: Mansyur Suryana
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Banjir Kota Pekalongan tewaskan enam orang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar