Trenggiling mamalia paling banyak diperdagangkan ilegal dari Indonesia

Trenggiling mamalia paling banyak diperdagangkan ilegal dari Indonesia

Analis WCS Yunita Setyorini (tengah) dan Wakil Dubes AS Heather Variava (kedua kanan) dalam acara di pusat kebudayaan @america di Jakarta, Selasa (18/2/2020). (Foto : ANTARA/Prisca Triferna).

Untuk studi populasi di Indonesia belum banyak diketahui,
Jakarta (ANTARA) - Meski trenggiling tidak dikonsumsi di Indonesia tapi mamalia itu paling banyak menjadi sasaran perdagangan satwa liar ilegal untuk dijual ke luar negeri, kata analis Wildlife Conservation Society (WCS) Yunita Setyorini.

"Pada 2019, seingat saya ada sekitar 7 kasus yang kira-kira ada sekitar 200 ekor pangolin (trenggiling). Diduga negara tujuan akhirnya adalah China karena merupakan konsumen akhirnya," kata Yunita ketika berbicara dalam presentasi aplikasi melawan perdagangan satwa liar ilegal di Jakarta, Selasa.

Angkat itu baru mencakup 2019, tapi menurut data yang dikumpulkan WCS, dalam sepuluh tahun terakhir hampir ada 26.000 ekor trenggiling dari Indonesia yang diperjualbelikan secara ilegal.

Baca juga: Analis: 26.000 trenggiling diperjualbelikan dalam 10 tahun terakhir

Trenggiling diburu dan diperdagangkan karena sisiknya dipercaya dapat menjadi bahan obat yang ampuh untuk beberapa penyakit seperti asma dan membantu meningkatkan vitalitas tubuh.

Pemerintah, jelas Yunita dalam acara yang diselenggarakan memperingati Pangolin Day yang jatuh pada tanggal 15 Februari itu, terus berupaya aktif untuk mencegah perdagangan trenggiling yang sudah masuk kategori hewan terancam punah.

Hal itu dilakukan karena sunda pangolin (manis javanica) yang asli Indonesia menjadi salah satu sumber utama untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang memanfaatkan sisik trenggiling dan dagingnya, jelas Yunita.

"Untuk studi populasi di Indonesia belum banyak diketahui, tetapi untuk status perdagangan sendiri trenggiling adalah mamalia yang paling banyak diperdagangkan dari Indonesia," tambahnya.

Baca juga: Direktur WCS sebut teknologi harapan lawan perdagangan satwa liar

Dalam salah satu usaha melawan perdagangan satwa liar, Yunita dan kelima temannya dari Tim Navy Pangolin membuat prototipe aplikasi untuk membantu analis mengumpulkan data perdagangan ilegal berupa artikel berita yang ada di internet, untuk mempercepat pekerjaan yang selama ini dilakukan secara manual.

Memakai teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) aplikasi yang diberi nama Pan The Pangolin itu ikut diperlombakan di kontes Global Zoohackton 2019 yang diadakan oleh Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat dan berhasil keluar sebagai juara kedua.

Baca juga: Di kompetisi Global Zoohackathon 2019, tim Indonesia jadi "runner up"

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Dua sindikat perdagangan kulit trenggiling di tangkap polisi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar