Dolar melonjak ke tertinggi 3-tahun, data lemah Jerman tekan euro

Dolar melonjak ke tertinggi 3-tahun,  data lemah Jerman tekan euro

Dolar mata uang Amerika Serikat. ANTARA/REUTERS/Thomas White/am.

kepercayaan investor memburuk lebih dari yang diperkirakan pada Februari, di tengah kekhawatiran virus corona akan mengurangi perdagangan dunia.
New York (ANTARA) - Kurs dolar AS melonjak ke level tertinggi dalam hampir tiga tahun terhadap euro pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), tertekan oleh survei Jerman yang menunjukkan kepercayaan investor merosot di ekonomi terbesar Eropa tersebut.

Euro melemah 0,38 persen terhadap dolar pada 1,0793 dolar, penurunan pertama di bawah level 1,08 dolar sejak April 2017.

Pada Selasa (18/2/2020), lembaga penelitian ZEW Jerman mengatakan dalam survei bulanannya bahwa kepercayaan investor memburuk lebih dari yang diperkirakan pada Februari, di tengah kekhawatiran virus corona akan mengurangi perdagangan dunia.

Baca juga: Euro 'rebound' terhadap dolar, didorong penurunan saham AS

Survei menambah ekspektasi bahwa ekonomi Jerman akan kehilangan lebih banyak momentum di paruh pertama tahun ini karena ekspor yang merosot membuat produsen terperosok dalam resesi.

"Skala erosi dalam kepercayaan berpotensi menentukan tahap hasil yang sama buruk pada Jumat (21/2/2020) ketika Jerman dan zona euro mengeluarkan survei PMI awal," kata Joe Manimbo, analis pasar senior di Western Union Business Solutions di Washington.

Beberapa ekonom khawatir virus corona, yang dimulai di China dan berdampak pada rantai pasokan global serta permintaan China, dapat mengakibatkan pertumbuhan Jerman yang lebih lemah di kuartal pertama.

Euro telah kehilangan sekitar 3,7 persen dari nilainya terhadap dolar AS tahun ini, kinerja terburuk tahun ini dalam lima tahun terakhir.

Data kawasan euro yang buruk telah mendorong spekulasi bahwa kebijakan moneter akan tetap lebih longgar untuk lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya.

Ekonomi AS telah terbukti lebih tangguh daripada bagian dunia lainnya, menjaga dolar pada tertinggi empat setengah bulan terhadap sekeranjang mata uang. Aset-aset safe-haven lainnya seperti franc Swiss dan yen Jepang juga diuntungkan.

Baca juga: Rupiah melemah dibayangi kekhawatiran dampak wabah COVID-19

"Hanya ketika masalah virus mereda dan dampak dari semua stimulus di seluruh dunia mulai menjadi nyata, kita akan melihat tekanan turun pada dolar AS," Brad Bechtel, direktur pelaksana, Jefferies di New York, mengatakan dalam sebuah catatan.

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) diperkirakan akan mengeluarkan risalah dari pertemuan 28-29 Januari pada Rabu waktu setempat.

Spekulan meningkatkan posisi net long dolar mereka dalam minggu terakhir, menurut perhitungan oleh Reuters dan data Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS (CFTC) yang dirilis pada Jumat (14/2/2020).

Yuan yang diperdagangkan di luar negeri melemah 0,3 persen ke level terendah delapan hari di 7,0109 terhadap dolar AS.

Crown Norwegia, berkorelasi erat dengan pertumbuhan dan perdagangan global, jatuh ke level terendah 19-tahun di 9,3378 terhadap dolar AS, melemah 0,8 persen pada hari itu.

Terhadap greenback, dolar Australia melemah 0,4 persen, sedangkan dolar Selandia Baru turun 0,78 persen. Mata uang sensitif risiko ini tersentak lebih rendah karena peringatan produksi dari Apple menyoroti kerugian ekonomi yang meningkat dari virus corona dan menakuti investor di seluruh Asia.

Baca juga: Yuan melemah 31 basis poin jadi 6,9826 terhadap dolar AS

Sterling sedikit berubah 1,2997 dolar setelah menteri keuangan baru Inggris mengatakan ia akan memberikan anggaran seperti yang direncanakan dalam tiga minggu, sementara euro yang secara luas lebih lemah juga mendukung mata uang Inggris.

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Menguatnya kurs dolar tak pengaruhi daya beli masyarakat

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar