PVMBG: Gas di Desa Sebot dapat ganggu kesehatan masyarakat

PVMBG: Gas di Desa Sebot dapat ganggu kesehatan masyarakat

Seorang bocah berdiri menyaksikan asap yang keluar dari dalam tanah dan berbau di desa Sebot, Kabupaten Timor Tengah Selatan. ANTARA/HO-Eli Balo

munculnya gas ini sudah melebihi ambang batas normal
Kupang (ANTARA) - Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM mengatakan bahwa munculnya gas di Desa Sebot, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dapat mengganggu kesehatan masyarakat di daerah itu karena melebihi ambang batas normal.

"Dari hasil pengukuran yang kami lakukan ada dua jenis gas yang muncul di daerah itu yakni gas SO2 dan H2S. Saat ini munculnya gas ini sudah melebihi ambang batas normal," kata Penyelidik Bumi Muda PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM Ugan Saing kepada ANTARA saat dihubungi dari Kupang, Kamis.

Hal ini disampaikannya berkaitan dengan hasil peninjauannya tim dari PVMBG di lokasi munculnya gas dari dalam tanah di Kabupaten TTS yang sudah dilakukan pada Rabu (19/2) kemarin.

Baca juga: PVMBG : Gas-asap yang muncul tidak berasal dari aktivitas gunung api
Baca juga: PVMBG sebut kecil kemungkinan muncul gunung api di TTS


Gas SO2 atau yang dikenal dengan gas sulfur dioksida yang ditemui di lokasi tercatat mencapai 121 ppm atau di atas ambang normal 2 ppm.

Sementara gas H2S atau yang dikenal dengan sebutan hydrogen sulfida yang ditemui di lokasi tercatat mencapai 46 ppm juga di atas ambang batas normal 10 ppm.

"Saat ini tinggi sekali gasnya di lokasi itu, sehingga takutnya kalau dihirup warga nantinya dapat mengganggu kesehatan warga sekitar," tambah Ugan.

Oleh karena itu ia mengimbau agar masyarakat atau pengunjung dilarang beraktivitas dan memasuki area radius 100 meter dari titik keluarnya gas untuk menghindari paparan gas beracun yang dapat berdampak negatif bagi kesehatan.

Baca juga: Geolog: Gas biogenik diduga penyebab munculnya api di pegunungan TTS
Baca juga: Calon gunung berapi muncul di Kabupaten Timor Tengah Selatan


Selain itu juga masyarakat atau pengunjung diimbau tidak memasuki area keluarnya gas karena area tersebut merupakan area rawan longsor yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan bencana longsor.

Beberapa gas lainnya juga yang terdata di lokasi itu yakni gas CO2 yang mencapai 1.400 ppm serta gas metan (CH4) dan CO.

Sementara itu untuk temperatur gas di lubang itu terukur lebih dari 300 derajat Celsius pada temperatur udara 32 derajat Celsius.

Baca juga: Lubang runtuhan di Selandia Baru ungkap keberadaan sebuah gunung berapi
Baca juga: 19 gunung api di Indonesia berstatus waspada

Pewarta: Kornelis Kaha
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Presiden ancam cabut insentif gas industri

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar