Pemkab Kulon Progo kembangkan Pantai Glagah sebagai kawasan konservasi

Pemkab Kulon Progo kembangkan Pantai Glagah sebagai kawasan konservasi

Pemecah ombak Tanjung Adikarto menjadi salah satu spot swa foto yang menarik saat berkunjung ke Pantai Glagah, Kabupaten Kulon Progo. (Foto ANTARA/Sutarmi)

Ada dua objek wisata yang menjadi fokus pengembangan sektor pariwisata lima tahun ke depan, yakni Pantai Glagah dan Gua Kiskendo
Kulon Progo (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, akan mengembangkan Pantai Glagah sebagai kawasan konservasi yang mendukung pariwisata dan Gua Kiskendo sebagai objek wisata berbasis budaya untuk menyambut beroperasinya Bandara Internasional Yogyakarta.

"Ada dua objek wisata yang menjadi fokus pengembangan sektor pariwisata lima tahun ke depan, yakni Pantai Glagah dan Gua Kiskendo," kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kulon Progo Agus Langgeng Basuki di Kulon Progo, Jumat.

Ia mengatakan fungsi penting Pantai Glagah tidak hanya sebagai objek wisata, tapi juga menata kawasan selatan Bandara Intenasional Yogyakarta supaya kawasan tersebut tertata dengan baik dan mampu mendukung pariwisata.

Baca juga: Wisatawan di Pantai Glagah berebut gunungan Pakualaman

Fungsi utama Pantai Glagah adalah konservasi supaya proyek strategis nasional Bandara Internasional Yogyakarta terlindungi dari bencana yang tidak diinginkan.

"Artinya menata kawasan selatan untuk konservasi yang mendukung berkembangnya keberadaan objek wisata Pantai Glagah. Rencana induk dan rencana detail teknis (DED) diarahkan ke sana," katanya.

Selanjutnya, kata Langgeng, pemkab akan mengembangkan Gua Kiskendo. Ke depan, Gua Kiskendo akan dikembangkan sebagai objek wisata berbasis budaya. Saat ini, pemkab telah menyiapkan sarana dan prasarana pendukung, dan juga mendorong kesenian Sugriwo-Subali dipentaskan secara rutin. Tujuanya, icon objek wisata Gua Kiskendo berbasis budaya benar-benar menarik calon wisatawan yang kesana.

"Kunjungan wisatawan ke Gua Kiskendo itu tidak hanya tertarik pada keindahan alam, tetapi juga tertarik dengan budaya itu," katanya.

Langgeng mengatakan saat ini, ada tujuh objek wisata yang dikelola oleh pemkan dan belasan objek wisata yang dikelola dan kembangkan oleh masyarakat.

Objek wisata yang dikembangkan oleh masyarakat, pemkab wajib memfasilitasi sarana dan infrastruktur yang sifatnya untuk kepentingan umum.

Terhadap dua model pengembangan ini tetap kami kembangkan. Tidak mungkin, pemkab hanya mengembangkan satu model.

Baca juga: Sebanyak 14.983 wisatawan padati Pantai Glagah di Kulon Progo

Model pengelolaan wisata yang dikelola oleh pemerintah lebih dititikberatkan pada konsep pengembangan kawasan. Kemudian, dihubungkan dengan program nasional yang bisa memicu pariwisata di Kulon Progo meningkat.

"Contohnya, pengembangan Kawasan Stretegis Pembanguna Nasional (KSPN) Borobudur. Sehingga, pengembangan pariwisata di Kulon Progo berkaitan dengan itu, baik yang dikembangkan oleh masyarakat maupun dikelola oleh pemkab," katanya.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Kulon Progo Istana mengatakan langkah utama dan pertama yang harus dilakukan oleh Dispar dalam waktu dekat, yakni mengembangkan Pantai Glagah. Faktanya, pendapatan retribusi pariwisata mayoritas disumbang oleh Pantai Glagah.

"Perbaiki pintu masuk ke Pantai Glagah, dan lengkapi fasilitasnya. Kalau itu sudah dilaksanakan akan menjadi prestasi. Objek wisata lain biarkan jalan sendiri, karena yang mengembangkan masyarakat atau swasta dan sudah berhasil," katanya.

Baca juga: Kulon Progo andalkan Glagah sebagai tujuan wisata libur Lebaran

Pewarta: Sutarmi
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar