Perusahaan swasta ekspansi ekspor di tengah wabah corona

Perusahaan swasta ekspansi ekspor di tengah wabah corona

Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Jenderal (Purn) Wiranto (kanan) berbincang bersama Presiden Direktur Cahaya Bahari Corp Then Herry saat peresmian cold storage perusahaan di Jakarta. ANTARA/HO Cahaya Bahari Corporation/am.

Di tengah krisis dampak virus corona yang menghantui dunia, ekspor ikan perusahaan masih stabil
Jakarta (ANTARA) - Perusahaan swasta Cahaya Bahari Corporation mempersiapkan ekspansi ekspor produk perikanan ke sejumlah negara Eropa di tengah wabah virus corona yang meluas saat ini sehingga mengganggu perekonomian dunia.

"Di tengah krisis dampak virus corona yang menghantui dunia, ekspor ikan perusahaan masih stabil. Tidak berdampak pada penurunan kinerja dan mampu mengekspor minimal 500 ton ikan tiap bulannya," kata Presiden Direktur Cahaya Bahari Corporation Then Herry dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Hal tersebut disampaikan saat peresmian gedung cold storage baru anak usaha Cahaya Bahari Corporation, PT Gabungan Samudera Internasional, di kawasan pelabuhan perikanan Muara Angke, Jakarta Utara, oleh Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Jenderal (Purn) Wiranto.

Sebagai negara maritim terbesar di Asia Tenggara, menurut Herry, potensi perikanan Indonesia sangat besar.

Potensi itu, jika dimanfaatkan dengan baik, tidak hanya akan membuat industri perikanan maju, tapi juga akan membuat ekonomi nelayan terangkat.

Selama ini, jangkauan ekspor ikan perusahaan itu adalah China, Malaysia, Jepang, Taiwan, Vietnam, Uni Emirat Arab, Korea Selatan, Singapura, Australia, Brasil, dan Jordania.

"Ekspor oleh perusahaan stabil hingga saat ini. Bahkan cenderung naik. Semangat perusahaan adalah ingin produk perikanan Indonesia menjadi yang paling diminati oleh masyarakat dunia. Agar Indonesia sebagai negara maritim terbesar di Asia Tenggara dapat dipertahankan,” katanya.

Dengan tambahan gedung baru cold storage jumlah ikan yang dapat diekspor tentu akan lebih banyak.

Selain itu, produk olahan yang bisa dikembangkan juga akan lebih variatif dan ke depan pihaknya akan memperbanyak ekspor produk olahan jadi, tidak hanya ikan segar.

“Saat ini kami sudah mulai mengembangkan budi daya ikan. Kita bergerak di cumi. Kami adalah eksportir cumi terbesar kedua di Indonesia. Tapi kami juga mulai mengembangkan ekspor olahan. Produk olahan yang berbahan perikanan,” katanya.

Sementara itu, Wiranto berharap, peresmian gedung cold storage itu diharapkan juga berkontribusi pada perekonomian Indonesia secara keseluruhan.

Pemerintah saat ini, kata dia, sangat serius memajukan ekonomi dan targetnya adalah Indonesia masuk lima besar ekonomi dunia pada 2030.

“Tentu itu ada syaratnya. Salah satunya adalah memperbanyak wirausahawan, memperbanyak investasi. Paling tidak rasio antar penduduk dan wirausahawan 14 persen. Kita baru 3,1 persen. Masih banyak jangkauan kita ke depan. Apa yang dilakukan perusahaan ini adalah bagian dari itu,” kata Wiranto.

Baca juga: AP5I prediksi pengolahan perikanan tumbuh 20 persen pada 2020
Baca juga: Harga ikan dingkis meningkat pesat saat Imlek
Baca juga: Menteri KKP janji tinjau aturan ekspor perikanan budidaya

Pewarta: Ahmad Wijaya
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

KKP minta pembebasan tarif ekspor produk perikanan ke Jepang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar