Artikel

Meneroka misi bank tabungan di era milenial

Oleh Citro Atmoko

Meneroka misi bank tabungan di era milenial

Sejumlah anak bermain di sekitar pembangunan rumah bersubsidi Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Properti (FLPP), Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/2/2020). PT Bank Tabungan Negara (BTN) (Persero) Tbk pada tahun 2020 meningkatkan layanan transaksi digital untuk menggaet calon debitur Kredit Pemilikan Rumah (KPR). ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/pd.

Jakarta (ANTARA) - "Jika anda selalu fokus ke profit dan keuntungan, anda akan mengurangi kualitas produk. Namun jika anda fokus untuk menghasilkan produk yang luar biasa, maka profit dan keuntungan akan mengikuti."

Kalimat di atas keluar dari mulut Steve Jobs. Sosok dibalik salah satu perusahaan paling bernilai dan "brand" ternama di dunia saat ini, Apple. Kisah Steve Jobs dan Apple-nya tentu menginspirasi.

Apa yang diucapkan Jobs ada benarnya, dan ia sudah membuktikannya. Kata-kata tersebut pun tampaknya relevan untuk diaplikasikan dalam berbagai macam lini bisnis, termasuk perbankan. PT Bank Tabungan Negara Tbk (Persero) adalah salah satunya.

Bank yang didirikan tujuh dekade silam itu baru saja melalui tahun yang berat. Laba BTN tahun buku 2019, terjun bebas dibanding tahun-tahun sebelumnya yang mencapai Rp2,5 triliun hingga Rp3 triliun. Pada 2019 perusahaan ini hanya berhasil mencetak laba bersih Rp209 miliar atau turun sekitar 92 persen.

Anjloknya laba bank plat merah tersebut disebabkan naiknya rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loans (NPL) dan adanya penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 71 sehingga perseroan musti meningkatkan pencadangan. Selain itu, lesunya pasar properti pada tahun lalu juga menjadi penyebabnya.

Untuk itu, BTN memang sudah waktunya berbenah, jika tidak ingin kinerja keuangannya begini-begini saja. Terlebih, di era digitalisasi saat ini, efisiensi menjadi kata kunci agar bisa terus bertumbuh maju.

Kondisi yang terpuruk tersebut tampaknya disadari betul oleh Pahala Nugraha Mansury, nakhoda baru Bank BTN.

Rekam jejak Pahala sebagai Direktur Keuangan Bank Mandiri dan Pertamina, serta Direktur Utama Garuda Indonesia bisa menjadi modal untuk membenahi BTN. Saat menjadi orang nomor satu di Garuda, Pahala berhasil melakukan efisiensi menurunkan kerugian hingga 60 persen.

Di BTN, ia pun langsung mengusung target besar, dengan menjadikan BTN sebagai "rumah" dalam bertransaksi maupun memiliki hunian bagi kaum milenial.

"Dengan perilaku milenial yang sudah sangat terdigitalisasi saat ini, ada kebutuhan bagi kami untuk bisa mengintrodusir cara penjualan dengan "channel" yang baru. Bukan hanya untuk produk dana, tapi juga untuk produk kredit," ujar Pahala.

Belum sebulan menjabat sejak diangkat pada akhir November 2019, ia meluncurkan aplikasi BTN Properti Mobile versi Android, aplikasi untuk memudahkan pengguna khususnya milenial dalam memilih dan mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Milenial adalah generasi yang umumnya melek teknologi, dan BTN siap menguasai pasar milenial ini.

Baca juga: Laba 2019 anjlok, Pahala optimistis kembalikan BTN ke "jalurnya"
Baca juga: BTN akan bentuk aset manajemen unit 2020


 
Wakil Presiden Ma'ruf Amin (tengah) didampingi Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Pahala Nugraha Mansury (kedua kanan), Menteri ATR/Kepala BPN Sofyan Djalil (kedua kiri), Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo (kiri) dan Komisaris Utama Bank BTN Chandra M Hamzah (kanan) membuka Indonesia Property Expo 2020 di JCC, Senayan, Jakarta, Sabtu (15/2/2020). Pada pameran properti itu Bank BTN menargetkan dapat meraup ijin Prinsip KPR baik subsidi maupun non subsidi sebesar Rp3 triliun dengan target "booked" sebesar Rp1 triliun. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj)



Lembaga riset independen asal Amerika Serikat Pew Research Center menyatakan bahwa generasi milenial adalah mereka yang lahir pada 1981 hingga 1996 atau pada tahun 2020  berusia 24 tahun hingga 39 tahun.

Sementara itu, berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), tercatat sekitar 81 juta orang di segmen generasi milenial belum memiliki rumah, atau setara 31 persen dari jumlah populasi di Indonesia.

Aplikasi BTN Properti Mobile memiliki fitur menarik yang dapat dinikmati oleh milenial, salah satunya fitur 4D Tour Services yang membuat penggunanya dapat melihat unit rumah tanpa harus ke lokasi.

Saat ANTARA menjajal fitur tersebut, pengguna dapat merasakan sensasi seolah-olah mengunjungi rumah yang dipilih secara langsung. Pengguna dapat masuk dan melihat kondisi ruangan tamu, kamar tidur, dan halaman belakang, layaknya menggunakan mata sendiri.

Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Fara Ulfa (27), wanita lajang yang berprofesi sebagai psikolog anak. Ia menuturkan, memperoleh info adanya aplikasi BTN Properti Mobile melalui media sosial Instagram. Aplikasi tersebut membantunya untuk melihat setiap sudut rumah dan lingkungan di sekitarnya secara lebih detil dari rumah yang ditawarkan.

"Awalnya cuma iseng-iseng install, kebetulan sedang cari-cari rumah. Dapat info dari teman-teman juga sih kalau ada fitur 4D itu, makanya aku tertarik. Ini sangat membantu karena kita jadi dapat gambaran kondisi rumah meski gak survei langsung satu-satu," ujarnya.

Selain melalui situs www.btnproperti.co.id, pengguna juga dapat mengajukan permohonan KPR secara online melalui aplikasi BTN Properti Mobile, bahkan dapat mengetahui status permohonan kredit melalui fitur 'tracking'. Adapun hunian yang tersedia di aplikasi tersebut mencapai kurang lebih 507 ribu unit properti milik sekitar 1.800 pengembang rekanan BTN.

Bersamaan dengan hadirnya aplikasi BTN Properti Mobile, BTN juga meluncurkan kembali (relaunching) Program KPR Gaeesss For Millenials yang sebelumnya dirilis pada Oktober 2018 lalu. Program ini didesain khusus sesuai dengan karakteristik milenial yang menginginkan layanan yang praktis dan mudah diakses. Program tersebut menyediakan tenor atau jangka waktu kredit hingga 30 tahun dan juga suku bunga 'single digit', sehingga cicilan menjadi lebih terjangkau bagi milenial.

Pengamat properti Anton Sitorus mengatakan, segmen milenial merupakan pangsa pasar yang besar secara jumlah. Para pengembang atau developer umumnya juga menargetkan segmen tersebut, yang biasanya merupakan segmen usia yang tengah mencari dan membutuhkan tempat tinggal.

Ia menilai aplikasi BTN Properti Mobile akan menarik bagi milenial, karena setidaknya 'bakal gak capek-capek amat' meski nantinya tetap harus ada cara-cara lama yang dilakukan sebelum benar-benar memutuskan untuk membeli properti, seperti meninjau ke lokasi langsung mengingat ini menyangkut barang yang harganya tidak murah.

"Langkah BTN itu sudah cukup bagus. Tapi mesti diingat juga, sekarang ini yang menjadi tantangan dalam kondisi pasar seperti ini, ya masalah harga. Kalaupun teknologi dalam pemasaran sudah canggih, informasi soal pinjaman dari bank juga sudah canggih, tapi tetap saja harga proprerti yang menjadi salah satu faktor utama.  apakah menarik dan terjangkau untuk kelompok milenial," ujar Anton.

Menurut Anton, pertumbuhan harga properti memang pesat dan jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan masyarakat sehingga daya beli masyarakat semakin tertinggal dibandingkan harga properti itu sendiri. Kendati demikian, prospek pertumbuhan bisnis properti di Tanah Air tahun ini diproyeksikan akan lebih baik, setelah tahun lalu kurang bergairah. Namun, apabila developer masih memasang harga properti terlampau tinggi, kemungkinan masih akan sulit diserap oleh pasar.

Baca juga: Survei BI: Pertumbuhan harga properti residensial masih terbatas
Baca juga: BI turunkan uang muka kredit properti mulai 2 Desember 2019

 
Foto aerial perumahan subsidi di Kelurahan Pesurungan, Tegal, Jawa Tengah, Jumat (7/2/2020). Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat bekerjasama dengan Bank Tabungan Negara (BTN) sebagai penyalur KPR Subsidi bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), mengalokasikan anggaran untuk Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) pada 2020 sebesar Rp11 triliun untuk memfasilitasi 102.500 unit rumah. ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/pd.


Tak sekedar spesialis KPR

Seperti namanya, Bank Tabungan Negara memang dibentuk awalnya untuk menghimpun dana masyarakat alias menjadi bank tabungan. Meski resmi didirikan pada 1950, cikal bakal BTN adalah Postspaarbank yang didirikan Pemerintah Hindia Belanda pada 16 Oktober 1897 di Batavia. Berdirinya Postspaarbank diharapkan dapat mendidik masyarakat agar gemar menabung.

Pada 1942, kekuasaan Hindia Belanda berakhir dan menyerah kepada pemerintah Jepang yang kemudian membekukan kegiatan Postspaarbank lalu mendirikan Tyokin Kyoku, yang bertujuan sama untuk menarik dana masyarakat melalui tabungan. Setelah kemerdekaan, Tyokin Kyoku diambil alih pemerintah Indonesia dan diubah namanya menjadi Kantor Tabungan Pos RI.

Kemudian tepatnya pada 9 Februari 1950, pemerintah mengganti nama Kantor Pos Tabungan RI menjadi Bank Tabungan Pos, yang kemudian menjadi tanggal lahir Bank Tabungan Negara. Bank Tabungan Pos resmi berubah menjadi Bank Tabungan Negara 13 tahun setelahnya atau pada 1963.

BTN sendiri mendapat mandat untuk membiayai proyek perumahan rakyat pada 1974, meski penyaluran KPR baru terealisasi pada 10 Desember 1976 yang lalu diperingati sebagai Hari KPR bagi BTN. Seiring berjalannya waktu, BTN pun kemudian dikenal sebagai bank yang fokus penuh memberikan pembiayaan perumahan.

Kini, BTN jelas tak mau hanya sekedar dan dikenal sebagai bank spesialis pembiayaan perumahan. BTN juga ingin (kembali) menjadi bank tabungan dan tempat masyarakat, terutama milenial, melakukan berbagai macam transaksi keuangan. Tak main-main, belanja modal untuk teknologi dan informasi atau IT sebesar Rp500 miliar sudah disiapkan.

Pada awal Februari 2020, BTN meluncurkan aplikasi Mobile Banking BTN versi terbaru dengan tampilan yang lebih modern. Sebagian dari belanja modal tadi akan dipakai untuk mengembangkan fitur-fitur dalam aplikasi tersebut misalnya pembukaan rekening via online dari ponsel pintar, pembukaan e-deposito, tarik tunai tanpa kartu, dan sejumlah fitur lainnya mengikuti tren industri.

Dengan aplikasi mobile banking yang lebih kekinian dan canggih, asa BTN menjadi "rumah" bagi milenial diharapkan bisa terwujud. Setidaknya bisa menggaet nasabah-nasabah KPR BTN yang sudah ada sebelumnya, yang sebagian justru belum memanfaatkan aplikasi Mobile Banking BTN.

Robin Kristoper Pakpahan (37), yang sudah hampir tiga tahun menjadi nasabah BTN bahkan mengaku belum pernah sekalipun memasang atau meng-install aplikasi Mobile Banking BTN di ponselnya. Selama ini ia hanya melakukan transfer dari bank lain untuk membayar cicilan KPR di BTN. Ia lebih memilih menggunakan salah satu mobile banking bank swasta nasional  untuk melakukan berbagai macam transaksi, yang dianggap lebih praktis dan lebih mudah.

Tatkala diinformasikan bahwa BTN sudah meluncurkan mobile banking versi terbaru dan akan meningkatkan fitur-fitur layanan di dalamnya, Robin pun mengatakan akan mencoba menggunakannya.

"Oh gitu ya. Wah harusnya sudah bisa bersaing seperti bank pemerintah lainnya dan bank swasta. Saat ini sih saya belum pakai. Tapi dalam jangka waktu dekat saya pasti akan menggunakan mobile banking-nya BTN," ujar karyawan swasta itu.

Dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, sejatinya dapat membantu perbankan untuk lebih efisien dalam kegiatan operasionalnya. Melalui layanan digital, kini memungkinkan nasabah bisa membuka rekening tanpa harus datang ke kantor cabang. Bank pun dapat melakukan ekspansi dengan biaya yang lebih murah.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri memang mengarahkan ke depannya sektor keuangan di Tanah Air menjadi sektor yang berbasis digital. Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menginginkan lembaga jasa keuangan, terutama perbankan, dapat terus menerapkan prinsip efisiensi.

Data Statistik Perbankan Indonesia menunjukkan, dalam lima tahun terakhir, jumlah kantor cabang bank mengindikasikan tren penurunan setiap tahunnya. Pada 2015 jumlah kantor cabang bank tercatat sebanyak 32.963 kantor, namun per November 2019 sudah berkurang menjadi 31.085 kantor alias sebanyak 1.878 kantor cabang sudah ditutup.

"Sekarang semua "service", kalau bisa tidak usah datang ke bank. Digital saja," ujar Wimboh beberapa waktu lalu.

Optimalisasi layanan digital tampaknya kini tak lagi menjadi pilihan bagi perbankan, melainkan sebuah keharusan. Masyarakat pun, terlebih generasi milenial, saat ini terlihat lebih nyaman bertransaksi melalui "smartphone". Sudah menjadi fakta, milenial dan ponsel pintar, tak dapat dipisahkan.

Baca juga: Memimpikan hunian di bawah Rp300 juta di Bodetabek
Pengunjung mendapatkan penjelasan dari pihak pengembang apartemen saat pameran hunian Indonesia Property Expo 2020 di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Sabtu (15/2/2020). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/pd.



 

Oleh Citro Atmoko
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Polisi tangkap seorang tersangka teroris di Jayapura

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar