Legislator: Penanganan banjir mesti terintegrasi hulu-hilir

Legislator: Penanganan banjir mesti terintegrasi hulu-hilir

Ilustrasi - Bendungan. (Dokumentasi Kementerian PUPR)

Mengatasi masalah banjir harus komprehensif, tidak hanya sungai-sungai saja yang diperbaiki. Dari hulu ke hilir harus dibenahi
Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Komisi V DPR RI Nurhayati mengapresiasi pembangunan infrastruktur pengendali banjir yang diinisiasi pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan berharap penanganan banjir mesti terintegrasi secara hulu dan hilir.

"Mengatasi masalah banjir harus komprehensif, tidak hanya sungai-sungai saja yang diperbaiki. Dari hulu ke hilir harus dibenahi," kata Nurhayati dalam rilis di Jakarta, Senin.

Nurhayati telah memimpin Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi V DPR RI ke Kabupaten Bandung, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Ia mengemukakan bahwa mengatasi banjir selayaknya tidak hanya sekadar normalisasi fungsi aliran sungai, tapi juga harus dilakukan rekayasa teknis dari hulu sampai hilir, seperti membuat hutan kota, membangun bendungan, membangun tanggul, dan hingga pembuatan embung.

Politisi Partai Persatuan Pembangunan itu menjabarkan bahwa daerah hulu harus direboeisasi, sedangkan daerah di kemiringan 30 derajat harus ditanami pohon-pohon yang akarnya besar, sehingga akarnya bisa mengikat air.

"Dibangun bendungan, dibangun tanggul, dibangun hutan kota, embung dan banyak lagi. Agar air bisa ditampung saat musim hujan dan digunakan saat musim kemarau," jelasnya.

Menurut dia, beberapa pembangunan infrastruktur yang dilakukan Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), dalam hal ini Direktorat Jenderal Sumber Daya air memang sudah komprehensif.

Sebagaimana diwartakan, penanganan banjir Jakarta tidak cukup dengan membangun Bendungan Ciawi dan Sukamahi di hulu Sungai Ciliwung, pembangunan serta pemeliharaan Situ-Situ yang tersebar di area-area Daerah Airan Sungai (DAS) Ciliwung seperti Bogor dan Depok juga turut menjadi kunci untuk mencegah banjir di wilayah tengah sungai atau midstream.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung dan Cisadane Bambang Hidayah mengatakan bahwa sesuai dengan misi Kementerian PUPR terkait dengan Situ, pihaknya sepakat untuk mengembalikan fungsi situ menjadi area penampungan air.

Menurut dia, Situ memiliki banyak manfaat jika dikembalikan sebagai daerah tampungan air, pertama tentunya menjadi daerah konservasi sumber daya air di mana saat musim kemarau situ-situ masih menampung air yang ada agar bisa dimanfaatkan masyarakat.

Kemudian sebagai pengendali banjir, fungsi Situ ketika terjadi hujan maka air hujan yang mengalir di permukaan dapat masuk mengalir ke Situ dan sebagian lagi mengalir ke Sungai.

"Kalau tidak ada Situ maka semua air hujan yang berada di permukaan mengalir ke sungai yang memiliki daya tampung terbatas. Kalau terbatas maka air di dalam sungai tersebut akan meluap sehingga meningkatkan debit air banjir. Selain itu jika dikaji secara inlet dan outletnya, Situ dapat menjadi penyedia pasokan air baku. Situ juga bisa dijadikan kawasan wisata, karena lanskapnya harus kita tata agar betul-betul indah," katanya.

Baca juga: Presiden harap proyek penanganan banjir hulu Citarum beres tepat waktu

Baca juga: Satu garis hulu hilir bebas banjir

Baca juga: Presiden perintahkan penanganan terpadu aliran air cegah banjir


 

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Penanganan banjir bandang Bondowoso masuki tahap pemulihan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar