BI: Peningkatan kerja sama untuk pulihkan kondisi global

BI: Peningkatan kerja sama untuk pulihkan kondisi global

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat berfoto dengan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva dan Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde di sela-sela pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara-negara G20 di Riyadh, Arab Saudi. (Dekom Bank Indonesia)

Jakarta (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) menyatakan peningkatan kerja sama internasional dibutuhkan untuk mengatasi tekanan ekonomi global yang saat ini mulai menunjukkan adanya perlemahan karena penyebaran virus corona.

"Indonesia mengajak negara-negara G20 untuk terus mempererat kerja sama internasional dan mengimplementasikan bauran kebijakan guna memperkuat pemulihan dan mendorong pertumbuhan ekonomi global," kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam pernyataan di Jakarta, Senin.

Hal tersebut merupakan salah satu pembahasan yang mengemuka dalam pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara-negara G20 yang dihadiri oleh Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada 22-23 Februari 2020 di Riyadh, Arab Saudi.

Dalam pertemuan itu, negara-negara G20 juga sepakat memperkuat pemantauan terhadap risiko global, khususnya yang berasal dari Covid-19, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi risiko tersebut dan sepakat untuk mengimplementasikan respon bauran kebijakan yang efektif, baik dari sisi moneter, fiskal, maupun struktural.

"Di tengah prospek pertumbuhan ekonomi global yang meningkat moderat, potensi risiko masih relatif tinggi, termasuk ketegangan geopolitik, tensi perdagangan, dan ketidakpastian kebijakan," tambah Gubernur BI.

Arab Saudi menjadi Presidensi G20 pada 2020 dengan mengusung tema besar "Realizing the Opportunity of the 21st Century" yang dilatarbelakangi oleh pesatnya perkembangan teknologi yang mengubah tatanan perekonomian global menuju ekonomi dan keuangan digital.

Meski demikian, pembahasan juga mencakup partisipasi masyarakat dalam perekonomian, khususnya kelompok muda, perempuan, dan UMKM, yang masih membutuhkan akses dan kesempatan agar dapat terlibat dalam perekonomian dan keuangan melalui pemanfaatan teknologi.

Selain itu, pembukaan akses terhadap sumber pendanaan melalui pengembangan pasar modal domestik dan penguatan pengaturan dan pengawasan sektor keuangan di era ekonomi digital juga menjadi agenda Presidensi G20 Arab Saudi.

Gubernur BI ikut mendukung agenda Presidensi G20 Arab Saudi terkait pengembangan pasar modal domestik itu dan menggarisbawahi pentingnya resiliensi perekonomian sebagai fondasi pengembangan pasar modal domestik.

Selain itu, Gubernur BI juga menekankan pentingnya peningkatan basis investor domestik, memitigasi volatilitas aliran modal, dan menjaga integritas pasar modal untuk mencegah fraud dan menjaga kredibilitas.

Di sektor keuangan, penguatan sistem keuangan melalui implementasi agenda reformasi sektor keuangan dan pemanfaatan teknologi menjadi fokus para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara-negara G20.

Terkait hal tersebut, G20 menyambut baik rencana Financial Stability Board (FSB), Committee on Payments and Market Infrastructure, dan Standard Setting Bodies (SSBs) lainnya dalam menyusun peta jalan penguatan sistem pembayaran lintas negara dan mempersiapkan transisi suku bunga acuan dari London Interbank Offered Rate (LIBOR) yang akan dihentikan penggunaannya pada 2021.

Oleh karena itu, Gubernur BI menyampaikan dukungan Indonesia atas agenda Presidensi G20 Arab Saudi, khususnya cross border payments dan transisi LIBOR. BI telah meluncurkan visi Sistem Pembayaran Indonesia 2025 yang menjadikan cross border payments sebagai salah satu elemen penting, termasuk mendukung partisipasi fintech dan digital payment services.

Selama ini, BI telah bekerja sama dengan otoritas terkait untuk mempersiapkan transisi LIBOR oleh perbankan di Indonesia, dan menekankan pentingnya kerja sama internasional dalam proses transisi. Lebih lanjut, G20 di bawah Presidensi G20 Arab Saudi akan menyusun pedoman untuk meningkatkan inklusi keuangan secara digital kepada kelompok muda, perempuan, dan UMKM.

Pembahasan isu-isu penting lainnya di sektor keuangan masih berlanjut seperti pengaturan/pengawasan terkait global stablecoin (GSC), mengatasi fragmentasi pasar keuangan, meningkatkan ketahanan siber, evaluasi dampak dari implementasi agenda reformasi di sektor keuangan, termasuk terhadap kondisi Too Big To Fail.



Baca juga: G20 perhatikan dampak penyebaran virus corona pada pertumbuhan global
Baca juga: Pemerintah targetkan KEK Likupang jadi tuan rumah pertemuan G20
Baca juga: Menlu Retno dorong paradigma "win-win" dalam perdagangan dunia

 

Pewarta: Satyagraha
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Biayai defisit fiskal, Bank Indonesia beli Surat Utang Negara

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar