PHRI: Pertumbuhan hotel di Jatim capai 13 persen

PHRI: Pertumbuhan hotel di Jatim capai 13 persen

Ilustrasi. Pengunjung menikmati pemandangan di salah satu hotel yang kini tingkat hunian atau okupansinya mulai meningkat di Malang, Jawa Timur. ANTARA/Ari Bowo Sucipto/ZK.

Kalau di Surabaya, hotel kelas atas sudah lumayan tercukupi
Surabaya (ANTARA) - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mencatat, keberadaan hotel di Jawa Timur setiap tahun mengalami pertumbuhan 13 persen, karena munculnya virtual hotel operator (VHO) yang banyak tumbuh di berbagai daerah seperti OYO, RedDoorz, Airy.

Ketua PHRI Jatim Dwi Cahyono di Surabaya, Senin mengatakan, dari total hotel yang ada di Jatim, porsi hotel berbintang mulai dari bintang satu sampai lima mencapai 30 persen, sisanya 70 persen diisi oleh hotel non bintang seperti homestay dan losmen.

Pada 2017, kata dia, total penginapan yang ada mencapai 1.881 tempat, kemudian tahun 2018 angkanya naik lagi menjadi 2.180 hotel, dengan rata-rata pertumbuhan setiap tahunnya sekitar 13 persen.

"Untuk data 2019 memang belum keluar. Tapi kami rasa pertumbuhannya bisa mencapai 20 persen," katanya.

Dwi mengaku, memang di beberapa daerah ada moratorium pendirian hotel budget serta hotel bintang satu dan dua. Seperti di Batu, Malang, dan Banyuwangi.

"Di wilayah tersebut hanya mengizinkan pembangunan hotel bintang empat sampai lima saja karena jumlahnya memang sangat sedikit dibanding nonbintang yang sudah melimpah," katanya.

Namun demikian, tidak mempengaruhi pertumbuhan secara umum, dan diprediksi tahun ini akan tetap ada penambahan hotel di Jatim, sebab masih sangat dibutuhkan di daerah, khususnya yang berbintang untuk menampung tamu-tamu VIP dan kegiatan ekslusif.

"Kalau di Surabaya, hotel kelas atas sudah lumayan tercukupi. Beda dengan di daerah yang hanya ada satu atau dua hotel saja yang bintang empat dan lima,” ucap Dwi.

Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia, Ferry Salanto mengatakan, meski terus tumbuh, pasar hotel berbintang di Surabaya masih sangat terbuka lebar, sebab pebisnis-pebisnis dari berbagai daerah yang berkunjung ke Surabaya masih cukup banyak.

Namun demikian, Ferry memprediksi kinerja hotel di Surabaya akan cenderung stagnan dalam beberapa tahun ke depan, dengan tingkat okupansi hotel rata-rata hanya 65 persen, karena banyak tanggal merah yang jatuh di tengah minggu sehingga mempengaruhi bisnis.

"Kami berharap di semester dua nanti bisnis bisa kembali bergairah setelah libur lebaran, karena sudah tidak banyak hari libur yang jatuh di pertengahan minggu," katanya.

Baca juga: Sikapi dampak corona, Wapres dorong dunia pariwisata berinovasi
Baca juga: Buka Munas PHRI, Wapres sampaikan pariwisata termasuk sektor prioritas

Pewarta: A Malik Ibrahim
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar