Pertamina EP minta PLN penuhi penyerapan gas Donggi-Matindok

Pertamina EP minta PLN penuhi penyerapan gas Donggi-Matindok

Direktur Operasi dan Produksi PT Pertamina EP, Chalid Said Salim (tengah) didampingi GM Pertamina EP Asset 4 Agus Amperianto (kanan) menandatangani prasasti peresmian asrama pekerja Matindok Field di Luwuk, Banggai, Sulawesi Tengah, Senin (24/2/2020). ANTARA/Faisal Yunianto

sejak CPP Matindok beroperasi Mei tahun lalu sampai sekarang PLN belum memenuhi komitmen penyerapan alokasi gas Matindok.
Banggai, Sulteng, (ANTARA) - PT Pertamina EP meminta PT PLN segera memenuhi penyerapan alokasi produksi gas dari Central Processing Plant (CPP) Donggi-Matindok di Sulawesi Tengah sebesar 20 MMSCFD (million million standard cubic feet per day).

"Belum adanya kepastian dari PLN untuk menyerap produksi gas tersebut menjadikan tingkat keekonomian proyek CPP Donggi-Matindok harus diperhitungkan ulang, terkait project financing dan pengembangan lapangan tersebut," kata Direktur Operasi dan Produksi PT Pertamina EP Chalid Said Salim saat kunjungan ke CPP Matindok di Kabupaten Banggai, Sulteng, Senin.

Chalid mengatakan Pertamina EP memiliki dua CPP dari lapangan gas Matindok Field, yaitu CPP Donggi dan Matindok. Total kapasitas produksi gas kedua CPP ini sebesar 105 MMSCFD.

Baca juga: Telan dana Rp33,5 miliar, Pertamina EP bangun asrama pekerja Matindok

Dari angka produksi tersebut, sudah terkontrak dengan PT Donggi Senoro LNG sebesar 85 MMSCFD hingga 2028. Sementara PLN meminta alokasi penyerapan sebesar 20 MMSCFD dari CPP Matindok untuk PLTGU Sulawesi Bagian Tengah dengan kapasitas 150 megawatt.

Menurut Chalid, sejak CPP Matindok beroperasi Mei tahun lalu sampai sekarang PLN belum memenuhi komitmen penyerapan alokasi gas Matindok.

"Akibatnya kami seolah terikat dengan komitmen saja, tanpa kesempatan untuk segera men-deliver gas porsi PLN tersebut, padahal revenue dari sales gas CPP Donggi-Matindok sangat penting sebagai salah satu 'backbone' atau penyumbang pendapatan terbesar bagi Pertamina EP," kata Chalid.

Pada tahun lalu PT Pertamina EP menangguk keuntungan 57 juta dolar AS dari penjualan gas Matindok Field.

General Manager PT Pertamina EP Asset 4, yang membawahi Matindok Field, Agus Amperianto mengatakan PEP akan memastikan komitmen penyerapan gas Matindok Field, berkoordinasi dengan fungsi Komersial Korporat Pertamina EP.

"Yang kami harapkan ada kepastian sehingga jika PLN belum bisa menyerap sekarang, maka solusi alternatif untuk mencari buyer yang lain bisa kami lakukan dengan pihak lain. Karena sudah banyak kalangan industri di Sulawesi Tengah yg menyatakan minatnya untuk pengembangan industri petrokimia di wilayah Sulteng," ujar Agus.

Baca juga: Kepolisian jamin keamanan operasi PT.Donggi Senoro-LNG di Banggai

Menurut Agus, saat Pertamina mengembangkan lapangan Matindok, PLN mengharapkan komitmen alokasi gas untuk pembangkitnya. Keberadaan pembangkit baru itu untuk memenuhi kebutuhan listrik khususnya di Kabupaten Banggai dan Sulteng. Pemda setempat juga menyambut dengan antusias rencana PLN itu,.

"Karena itu kami berharap bahwa komitmen rencana alokasi gas dengan PLN, mendesak untuk segera diimplementasikan demi Banggai yg terang benderang dan industri yg lebih maju, dengan suplai dari PLN ini," tutup Agus.

Sebagaimana diketahui, pengoperasian CPP Matindok dan CPP Donggi mengimplementasikan teknologi baru yang efisien dan ramah lingkungan (Green Plant), mengingat gas yang dihasilkan dari bumi Kabupaten Banggai ini memiliki impurities atau material lain dengan kandungan yang cukup tinggi sehingga perlu dilakukan proses pemurnian sebelum dapat dijual ke konsumen.

Berdasarkan perhitungan atas cadangan gas dan hasil kajian kelayakan ekonomi untuk pengembangan lapangan, Blok Matindok diperkirakan akan mampu berproduksi untuk jangka waktu 20 tahun ke depan.

Namun Pertamina EP berkomitmen untuk melakukan eksplorasi lanjutan dengan harapan untuk dapat menemukan cadangan gas baru agar dapat terus mendukung dan menunjang pembangunan di wilayah Sulawesi Tengah.

Pewarta: Faisal Yunianto
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar