Deputi Menkopolhukam membahas tantangan kawasan ASEAN di Unhas

Deputi Menkopolhukam membahas tantangan kawasan ASEAN di Unhas

Deputi Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Urusan Politik Luar Negeri Duta Besar Lutfi Rauf membawakan kuliah umum di Makassar, Senin,(24/2). ANTARA/HO/Humas Unhas

Dubes Lutfi Rauf secara umum memaparkan tentang konstelasi internasional dan dinamika di kawasan, khususnya Asia Pasifik, dan bagaimana negara-negara Asia Tenggara memainkan peranan.
Makassar (ANTARA) - Deputi Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Urusan Politik Luar Negeri Lutfi Rauf membawakan kuliah umum bertema "Kawasan Asia Tenggara: Potensi Konflik dan Upaya Penyelesaian Secara Damai" yang digagas Departemen Ilmu Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unhas, di Aula Prof Syukur Abdullah, Makassar, Senin.

Dubes Lutfi Rauf secara umum memaparkan tentang konstelasi internasional dan dinamika di kawasan, khususnya Asia Pasifik, dan bagaimana negara-negara Asia Tenggara memainkan peranan.

"Berbeda dengan organisasi regional lainnya, kita memiliki cara yang unik dalam setiap upaya penyelesaian persoalan. Itulah yang kita sebut sebagai ASEAN Way. Saya pernah dikritik oleh wartawan dalam Foreign Correspondent Meeting di Bangkok. Kata wartawan itu, ASEAN Way is No Way. Saya jawab, tidak. ASEAN Way is Our Way," katanya lagi.

Menanggapi berbagai dinamika dan potensi konflik di Asia Tenggara, negara-negara di kawasan dapat menyelesaikannya dengan cara-cara negosiasi. Langkah mengutamakan perdamaian ini disebut sebagai ‘constructive approach’, seperti yang ditempuh dalam mencari solusi untuk kasus Myanmar.

"Ada yang bilang, kenapa ASEAN tidak mengambil tindakan tegas terhadap Myanmar. Saya sampaikan, Myanmar itu negara yang sudah berpengalaman hidup dalam isolasi. Jika negara itu memutuskan untuk menarik diri, bahkan keluar dari ASEAN, kita bisa apa. Yang penting adalah mencari solusi terbaik, tanpa mengorbankan semangat regionalisme," kata Dubes Lutfi.

Pada akhir kuliah umumnya, Dubes Lutfi mengatakan bahwa diplomasi itu memang butuh waktu. Untuk itulah, seorang diplomat harus terbiasa sabar, sambil terus mencari solusi. Dubes Lutfi juga berharap agar pengkaji HI di Indonesia memanfaatkan peluang baru, misalnya dalam isu Indo-Pasifik.

Duta Besar Lutfi Rauf merupakan alumni Hubungan Internasional FISIP Unhas yang mengawali karier di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia pada tahun 1986. Lutfi menapak karier sebagai diplomat yang berpengalaman dalam berbagai penugasan, baik di dalam maupun di luar negeri.
Baca juga: Presiden Jokowi minta para dubes fokus lakukan diplomasi ekonomi

Pada tahun 2007-2008, Lutfi Rauf ditunjuk sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasan Penuh Indonesia untuk Republik Slovakia. Pada tahun 2012-2016 kembali dipercaya sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Kerajaan Thailand/UN-ESCAP.

Sebelumnya, pada tahun 2008-2012, Lutfi Rauf dipercaya sebagai Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler yang sekaligus merupakan Kepala Protokol Negara, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

Dekan FISIP Unhas Prof Dr Armin Arsyad mengatakan "Hubungan Internasional merupakan prodi favorit di Unhas. Untuk masuk ke prodi ini, tingkat persaingan sangat ketat. Begitu juga mahasiswanya memiliki wawasan dan motivasi yang tinggi. Mudah-mudahan kehadiran Dubes Lutfi bisa memberi inspirasi bagi mahasiswa," kata Prof Armin.

Pewarta: Abdul Kadir
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Edukasi keluarga dalam pencapaian target TFR

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar