Era disrupsi teknologi, industri migas dinilai butuh mitra akademik

Era disrupsi teknologi, industri migas dinilai butuh mitra akademik

Gubernur Daerah lstimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X (kedua dari kanan) didampingi Direktur Operasi dan Produksi PT Pertamina EP Chalid Said Salim (kiri) usai membuka Forum Sharing Teknologi Produksi dan Operasi yang digelar Pertamina EP di Yogyakarta, Rabu (26/2/2020). ANTARA/Faisal Yunianto.

Kombinasi sumber daya alam plus SDM akan menghasilkan sinergi daya saing yang 'sustainable' untuk menyejahterakan rakyat Indonesia
Yogyakarta (ANTARA) - Industri migas di era disrupsi teknologi saat ini, dinilai perlu melakukan kemitraan dengan dunia akademik yang memiliki sumber daya manusia (SDM) terbarukan.

"Salah satu cara bagaimana kita mampu melakukan leap-frog untuk mengejar ketertinggalan teknologi dari negara-negara maju, adalah melakukan kemitraan dengan dunia akademik yang memiliki SDM teknologi yang selalu terbarukan," kata Gubernur Daerah lstimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X saat membuka Forum Sharing Teknologi Produksi dan Operasi yang digelar Pertamina EP di Yogyakarta, Rabu.

Baca juga: Resmi dilantik, IATMI dorong peningkatan kompetensi SDM migas

Di sisi lain, lanjut Sri Sultan, dunia akademik juga dituntut mampu menerapkan temuan ilmiah menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat.

"Harus ada komitmen men-deliver knowledge menjadi public utility yang dituangkan menjadi public policy, dan diterapkan pada industri, atau pemberdayaan masyarakat," katanya.

Menurut Sri Sultan Hamengku Buwono X, ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di hulu telah banyak ditekuni melalui seminar, jumal, atau diskusi.

Namun biasanya artikel ilmiah, atau temuan teknologi, hanya disimpan sebagai arsip. Lalu iptek itu berhenti di hulu, tidak berkembang menjadi amalan bagi masyarakat.

Sementara di banyak negara, temuan ilmiah diterapkan menjadi produk yang berguna bagi masyarakat.

Baca juga: Maluku-PT Petro Tekno siapkan SDM kelola Blok Masela

"Memang transfer teknologi ke industri harus dengan 'trial and error', lewat ''developing technology',' emerging technology', lalu 'commercial technology'. Pengembangan hilirisasi ilmu pantas menduduki prioritas pertama dalam meningkatkan mutu produk," tegasnya.

Ia mengatakan ilmu di hulu tidak saja menjadi produk di hilir, tetapi juga produknya jika bermasalah memerlukan kajian di hulu. Dengan demikian terjadi siklus daur ulang dari hulu ke hilir, dan sebaliknya secara berkelanjutan yang akan menghasilkan dua hasil, yaitu riset lanjutan dan perbaikan mutu produknya.

"Kombinasi sumber daya alam plus SDM akan menghasilkan sinergi daya saing yang 'sustainable' untuk menyejahterakan rakyat Indonesia," kata Sri Sultan.

Selain Sri Sultan Hamengkubuwono X, pada forum yang diikuti kalangan pekerja milenial PT Pertamina EP juga dihadiri Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, pimpinan SKK Migas dan kalangan industri hulu migas.

Baca juga: Pemda Maluku dorong pemberdayaan SDM lokal di Blok Masela

Pewarta: Faisal Yunianto
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar