Pakistan tutup sekolah, tangguhkan penerbangan Iran antisipasi corona

Pakistan tutup sekolah, tangguhkan penerbangan Iran antisipasi  corona

Seorang petugas kesehatan mengukur suhu seorang pria yang kembali dari Iran dan berada di bawah pengawasan medis, setelah Pakistan menutup perbatasannya dengan Iran sebagai tindakan pencegahan setelah wabah coronavirus, di pos perbatasan di Taftan, Pakistan (25/2/2020). ANTARA/REUTERS/Naseer Ahmed/pri.

Kita tidak perlu khawatir. Kita seharusnya tidak membuat kepanikan,
Islamabad (ANTARA) - Pakistan menutup sekolah-sekolah di sejumlah wilayah, serta menangguhkan penerbangan dari dan ke Iran untuk mencoba menghentikan penyebaran wabah virus corona, ujar pejabat setempat pada Kamis.

Negara Asia Selatan yang berbatasan dengan China dan Iran, yang keduanya sangat terpukul oleh virus itu, melaporkan dua kasus pertamanya pada Rabu (26/2).

Dua orang tersebut baru-baru ini melakukan perjalanan ke Iran sebagai bagian dari kelompok peziarah besar dari komunitas Muslim Syiah Pakistan. Para pejabat kesehatan mengatakan keduanya dalam kondisi "stabil."

Pihak berwenang menutup sekolah di provinsi selatan Sindh, termasuk kota terbesar di negara itu Karachi di mana kasus pertama dilaporkan, dan provinsi Baluchistan di barat daya, yang berbatasan dengan Iran. Mereka juga mulai melacak hampir 8.000 peziarah yang baru saja kembali ke Pakistan dari Iran.

Penerbangan Sipil Pakistan mengatakan akan menunda semua operasi penerbangan dengan Iran mulai dari Kamis malam hingga pemberitahuan lebih lanjut.

"Kami telah memutuskan untuk menutup penerbangan dengan Iran," kata juru bicara penerbangan Sattar Khokhar kepada Reuters.

Tiga operator Iran menjalankan tujuh penerbangan dari dan ke Pakistan dalam sepekan.

Pakistan menutup perbatasannya dengan Iran pada Minggu (23/2) setelah wabah di negara tetangga. Sejauh ini, 22 orang telah meninggal dunia akibat infeksi virus corona tipe baru di Iran, lapor kantor berita resmi IRNA.

Baca juga: Pakistan benarkan dua kasus pertama corona, sepulangnya dari Iran
Baca juga: Orang tua mahasiswa Pakistan minta anaknya dipulangkan dari China


Menteri Provinsi Sindh, Murad Ali Shah, mengatakan 28 peziarah yang menjadi bagian kasus pertama telah dilacak dan akan dipindai dan dipantau.

"Kami akan menuju langkah selanjutnya," katanya dalam konferensi pers di Karachi, dan menambahkan bahwa pemerintah Sindh sedang melacak 1.500 orang yang telah kembali ke provinsinya dari Iran pada Februari. Ada total 8.000 peziarah seperti itu di seluruh negeri, katanya.

"Kami sedang mendeteksi keberadaan mereka," kata Shah, menambahkan mereka akan menjalani 15 hari pemantauan ketat sebelum diizinkan meninggalkan rumah mereka.

Shah mengatakan semua orang ini dan siapa saja yang berhubungan dengan mereka harus diisolasi.

Pihak berwenang, yang telah mengarantina lebih dari 200 jemaah haji di perbatasan, telah meningkatkan langkah-langkah pemindaian di bandara dan penyeberangan perbatasan lainnya, termasuk Afghanistan barat, kata penasihat kesehatan pemerintah Zafar Mirza.

Dia meminta masyarakat untuk tidak panik.

"Kita tidak perlu khawatir. Kita seharusnya tidak membuat kepanikan," katanya dalam konferensi pers, Rabu malam (26/2).

Kementerian kesehatan telah meluncurkan kampanye media untuk mendidik masyarakat, mendesak mereka untuk bekerja sama dengan pihak berwenang untuk membantu mengidentifikasi setiap kasus yang diduga.

Pakistan, seperti kebanyakan negara Asia Selatan, tidak memiliki perlengkapan yang baik untuk menghadapi keadaan darurat berskala besar jika virus menyebar.

Reuters

Baca juga: Pakistan hentikan penerbangan menuju dan dari China
Baca juga: WHO optimistis COVID-19 dapat dikendalikan

Penerjemah: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

International Corner - Membedah Perjanjian Dagang Khusus RI - Pakistan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar