Dolar jatuh, euro catat kenaikan terbesar sejak Mei 2018

Dolar jatuh, euro catat kenaikan terbesar sejak Mei 2018

Ilustrasi: Mata uang Eropa, euro dan dolar Amerika Serikat (REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo)

Kami melihat pembalikan besar dari nasib dolar
New York (ANTARA) - Dolar AS jatuh terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), karena investor bertaruh Federal Reserve (Fed) akan memangkas suku bunga untuk mengimbangi dampak penyebaran Virus Corona, memberikan euro kenaikan harian terbesar sejak Mei 2018.

Harapan pedagang akan penurunan suku bunga pada Maret meningkat menjadi 54,3 persen berbanding 33,2 persen pada Rabu (26/2/2020), menurut alat FedWatch CME Group. Ekspektasi untuk penurunan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) juga telah meningkat.

"Kami melihat pembalikan besar dari nasib dolar," kata Wakil Presiden Bidang Perdagangan Tempus Inc, John Doyle.

Dengan suku bunga AS jauh lebih tinggi daripada rekan-rekan G10, dan karenanya ruang lingkup mereka jatuh jauh lebih luas, investor membalikkan dolar.

"Ekspektasi penurunan suku bunga telah mendapatkan momentum dan ekspektasi suku bunga AS turun jauh lebih banyak daripada di zona euro," kata Thu Lan Nguyen, seorang analis di Commerzbank.

Baca juga: Harga emas turun 0, 6 dolar, pangkas keuntungan awal

Apakah dolar mundur lebih lanjut tergantung pada data ekonomi tentang dampak virus corona pada kepercayaan dan perdagangan di luar China, kata Nguyen.

Terhadap euro, dolar jatuh ke level terendah tiga minggu, melayang di bawah 1,099, turun 1,02 persen pada Kamis sore (27/2/2020). Indeks dolar turun 0,658 persen menjadi 98,463, setelah sebelumnya jatuh ke level terlemah sejak 6 Februari.

Dolar telah turun sekitar satu persen sejak minggu lalu, ketika menyentuh dekat level tertinggi tiga tahun berkat kepercayaan mata uang safe-haven-nya dan kepercayaan investor bahwa ekonomi AS relatif terlindung dari kejatuhan Virus Corona. Tetapi daya tariknya sebagai mata uang safe-haven telah berkurang.

Baca juga: Rupiah terpuruk tembus di atas Rp14.000, dipicu sentimen Virus Corona

Volatilitas satu bulan dalam euro/dolar, yang mendekati rekor terendah, telah melonjak ke level tertinggi sejak awal Oktober.

Infeksi Virus Corona baru sekarang tumbuh lebih cepat di luar China daripada di dalam, memicu kekhawatiran bahwa dampak ekonomi pada rantai pasokan dan permintaan konsumen mungkin jauh lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya.

Investor telah bergegas memburu surat utang pemerintah AS demi keamanan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun merosot untuk hari ketiga berturut-turut ke rekor terendah 1,241 persen.

Dolar melemah 0,52 persen menjadi 109,84 yen Jepang karena daya tarik safe-haven yen mulai kembali.

Yuan di pasar offshore (luar negeri) menguat ke tertinggi satu minggu, dengan dolar turun 0,18 persen pada 7,008 yuan per dolar. Dolar Australia, dilihat sebagai proksi untuk sentimen investor terhadap China, rebound 0,6 persen menjadi 0,658 dolar, jauh dari posisi terendah 11-tahun yang disentuh pada Rabu (26/2/2020).

Baca juga: Saham di Spanyol berguguran, Indeks IBEX 35 jatuh di bawah 9.000 poin

Baca juga: Saham unggulan di Jerman memerah, Indeks DAX 30 jatuh 3,19 persen

Baca juga: Indeks FTSE 100 jatuh 3,49 persen, bursa Inggris lanjutkan kemerosotan



 

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Jokowi minta Bank Indonesia jaga stabilitas Rupiah

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar